Refleksi HGN: Belajar dari Tri Sulistini, Sosok Guru Berprestasi yang Menahan Lumpuh untuk Terus Mengajar

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) Tri Sulistini, S.Pd., M.Pd: Guru SMPN 6 Pamekasan

KABARMADURA.ID | Kabupaten Pamekasan memiliki sosok guru inspiratif dan berprestasi. Namanya Tri Sulistini. Menjadi guru selama 24 tahun. Namanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, bahkan hingga ke mancanegara.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bacaan Lainnya

Di hari guru nasional (HGN) tahun 2021 ini, Tri Sulistini menjadi sosok guru yang patut ditiru oleh semua guru di Pamekasan. Sosok guru yang lahir pada 11 Juni 1973 itu pernah dinobatkan sebagai guru berprestasi tingkat nasional pada tahun 2006 dan 2007. Pada tahun yang sama, dia juga dinobatkan sebagai guru ideal.

Prestasinya di bidang kepenulisan mampu mengantarkan namanya hingga ke dunia internasional. Bukunya yang berjudul ‘Darah di Taman Surga’ pernah diseminarkan di Amsterdam, Belanda, pada tahun 2021. Seminar tersebut dihadiri oleh sejumlah praktisi pendidikan dari 8 negara.

Ibu tiga anak ini telah memiliki sejumlah karya. Dia berhasil menerbitkan dua buku solo dan 29 buku antologi. Dia beberapa kali menjuarai lomba penulisan esai pada momen HGN oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Karyanya juga kerap diterbitkan oleh beberapa majalah nasional.

Profesi guru merupakan pilihan hatinya. Profil guru sangat melekat di keluarganya. Kedua orangtuanya adalah guru. Wanita yang akrab dipanggil Tri itu merupakan guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Pamekasan. Suaminya pun juga seorang guru, bahkan kepala sekolah di SMPN 2 Proppo.

Guru ideal baginya adalah guru yang memberi teladan. Sebab, semua yang diucapkan oleh guru, yang dilakukan oleh guru bahkan yang dipakai oleh guru akan ditiru oleh para siswanya. Kalau hanya mengajar, menurutnya semua orang bisa. Namun baginya, guru harus menjadi panutan. Karena itu, dalam mengajar guru harus menggunakan hati.

Selama 24 tahun mengajar, perjuangan yang paling tidak bisa dia lupakan yaitu saat harus tetap mengajar meski dalam kondisi lumpuh. Dia sempat mengalami pengentalan darah, sehingga tidak berjalan selama lima bulan. Namun, dia tetap memaksakan diri ke sekolah untuk mengajar siswanya.

“Serbuan teknologi itu luar biasa. Maka siswa itu harus pandai memilih agar teknologi membawa mereka kepada kesuksesan. Jadi tidak justru membunuh cita-cita mereka,” pesannya kepada para pelajar di Pamekasan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *