Resah, Puluhan Pedagang Wadul ke Dewan

  • Whatsapp
KM/FA'IN NADOFATUL M MENGADU: Sejumlah pedagang pasar Tanah Merah mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan.

Kabarmadura.id/Bangkalan-Merasa khawatir dengan masalah adanya pembangunan pasar Tanah Merah. Puluhan pedagang mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan, Rabu (10/7). Mereka beramai-ramai menuntut legislatif untuk mengawal proses pembangunan pasar tradisional terbesar di Bangkalan tersebut.

Didepan wakil rakyat, para pedagang mengaku khawatir dengan informasi yang beredar, bahwa pembangunan pasar merah untuk ukuran kios yang akan dibangun sebesar 3×4 meter. Kios tersebut akan disamaratakan dengan ukuran tersebut.

Selain bangunan kios yang akan disamaratakan, para pedagang mengaku tidak pernah diberi sosialisasi mengenai revitalisasi pasar Tanah Merah oleh Pemerintah Kabupaten Bangkalan.

“Kami tidak setuju, sebab tiap tahunnya ukuran kios tidak sama, ukuran setiap kios yang dimiliki pedagang sebelum variatif,” papar Koordinator Pedagang Pasar Tanah Merah Arif Rahman Hakim.

Arif mengatakan, dirinya dan pedagang lainnya tidak setuju jika bangunan kios akan dibangun dengan ukuran yang sama. Dirinya juga meminta kepastian kapan akan terlaksananya pembangunan pasar Tanah Merah.

Menurut Arif, selama ini tidak ada kejelasan atau sosialisasi dari dinas terkait kepada para pedagang mengenai realisasi pembangunannya seperti apa, termasuk pedagang akan dipindahkan kemana proses pembangunan pasar berlangsung.

Padahal menurutnya, para pedagang berhak tahu tentang kejelasan mengenai konsep pembangunan pasar seperti apa. Apakah nanti akan dibangun pasar lantai 2 atau tidak. Berapa lama proses pembangunan akan digelar, para pedagang menuntut sosialisasi tersebut.

“Sementara tidak ada sosialisasi, kita bingung mau kemana, apakah harus berhenti berjualan dulu atau dipindahkan kemana,” jelasnya.

Mendengar adanya informasi-informasi yang membuat para pedagang khawatir. Arif meminta agar pihak legislatif untuk mengawal proses pembangunan. Arif juga menuntut agar pembangunan kios tidak disamaratakan ukurannya.

Sebab hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan konflik baru di tataran para pedagang yang sudah lama menempati pasar Tanah Merah. Dirinya juga akan menolak revitalisasi pasar jika sosialisasi tidak sesuai dengan yang diharapkan pedagang.

“Kita minta agar dewan ini mengawal pembangunannya serta kita minta adanya sosialisasi dari dinas terkait mengenai kepastian kapan dan bagaimana pembangunan pasar Tanah Merah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Bangkalan Azis mengatakan, pihaknya merasa kaget, karena kedatangan para pedagang tersebut terkesan mendadak. Namun demikian, pihaknya berjanji akan menindaklanjuti aduan para pedagang tersebut.

Terkait informasi yang simpang siur tentang pembangunan kios tersebut, Azis menyebut bahwa dinas perdagangan telah siap melakukan sosialisasi dan menyediakan tempat sementara bagi pedagang pasar Tanah Merah.

“Pada prinsipnya, pembangunan ini harus membawa dampak yang baik bagi para pedagang dan dinas terkait. Tapi yang paling diutamakan ya tetap pedagang pasar Tanah Merah,” ujarnya.

Menurut Azis, dinas perdagangan harus mengumpulkan tokoh masyarakat dan para pedagang untuk diberikan sosialisasi dan pemahaman terkait konsep pembangunan, serta informasi mengenai ukuran kios yang akan dibangun.

Termasuk, sosialisasi tentang kepastian berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk revitalisasi pasar Tanah Merah. Hal itu dianggap penting, mengingat selama pembangunan, para pedagang tetap harus berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup.

” Nanti akan kita konfirmasi ke dinas perdagangan terlebih dahulu dan tentunya aspirasi masyarakat ini akan kita tampung dan sampaikan pada dinas terkait,” pungkasnya. (ina/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *