Resesi Seksual dalam Novel Indonesia

  • Whatsapp

 Oleh: Muhamad Pauji*)

Banten dikenal sebagai provinsi seribu wali. Novel Perasaan Orang Banten (POB), kurang diterima publik Banten pada tahun-tahun pertama kemunculannya (2012). Meskipun, Rumah Dunia pimpinan Gol A Gong sudah lebih dulu mengundang penulisnya dalam acara bedah bukunya, yang dihadiri kalangan seniman, mahasiswa, pelajar, ormas dan tokoh-tokoh masyarakat Banten. Tapi kemudian, banyak kalangan di luar Banten semakin membuka mata dan hatinya, perihal apa-apa yang dibicarakan dalam novel tersebut.

Dalam artikel “Bicara Banten Bicara Indonesia” di kawaca.com, disampaikan secara implisit bahwa problem utama kekisruhan dan konflik yang merebak di ranah Banten (dalam POB), telah dipicu oleh persoalan daging (the flesh) yang menuntut hak-hak atas pemenuhannya. Dengan sendirinya novel tersebut mengungkap langsung perihal resesi seksual (sex recession) yang pernah melanda Amerika Serikat, Jepang, Cina, hingga Korea Selatan. Di sini, saya akan menelusuri novel yang pernah disinggung dalam cerpen Kompas, “Rujuk” (4 Desember 2021), khususnya perihal tema utama yang dibicarakannya, yakni perihal perempuan.

Bicara soal perempuan, seakan berbicara tentang lautan lepas yang tanpa batas. Salah satu sosok makhluk Tuhan yang unik ini, banyak menjadi pembicaraan oleh ribuan dan jutaan karya sastra di seluruh dunia, dari zaman ke zaman. Dalam novel POB secara implisit disinggung soal peranan perempuan yang lebih dikuasai nafsu dan perasaan. Ia adalah sosok yang berdiam diri di rumah, namun sekaligus menyimpan daya tarik duniawi yang tak terbantahkan.

Seorang sastrawan kenamaan, Jalaluddin Rumi, menggambarkan sosok wanita sebagai makhluk yang dikuasai oleh perasaan-perasaan dan hawa nafsu ketimbang penguasaan akal dan rasio.  “Laki-laki dan perempuan adalah akal dan nafsu, keduanya merupakan pengejawantahan kebaikan dan kejahatan,” demikian tegas Rumi, “kedua makhluk ini bagaikan siang dan malam, dan selalu berada dalam suasana perang dan permusuhan.”

Secara eksplisit, Rumi menandaskan bahwa perempuan identik dengan jalan menuju warna dan wewangian, namun berhati-hatilah, karena dia juga memiliki potensi untuk memerintahkan kejahatan mewujud ke dalam jasad manusia. Di sinilah garis-besar tokoh-tokoh penting dalam POB yang didominasi karakteristik kaum perempuan. Sebut saja, Bi Siti dan Bi Marfuah yang menjadi “biang gosip” karena hasrat biologinya yang tak terpenuhi. Jamilah dan Poppy Ratnasari juga tak terlepas dari kecenderungan dan hasrat duniawi yang membahayakan. Belum lagi Salmah atau Nyi Hindun yang belasan tahun menjanda, namun akhirnya menikah dengan “berondong”, memilih seorang anggota TNI yang lebih muda darinya.

Namun di sisi lain, novel POB juga mengisyaratkan sosok perempuan yang memiliki peran positif sebagai pemantau dan pemangku kebijakan. Ia merefleksikan keindahan, kelembutan hati dan kasih sayang. Yang lebih tendensius lagi, novel POB secara lugas menggambarkan figur laki-laki yang merefleksikan aktivitas akal yang bersifat universal (qahriah), dilengkapi dengan peran perempuan yang mengejawantahkan keindahan jiwa dan kedamaian bersama Tuhan (lutfiah).

Novel POB, melalui tokoh Yosef, menjelaskan betapa perempuan memiliki daya tarik yang sangat kuat (Jamilah), seakan-akan mampu menaklukkan laki-laki sebagai budaknya, karena keterpikatan olehnya.  Jamilah bukan semata-mata pacar atau kekasih, tetapi mengejawantahkan pancaran Tuhan yang menyimpan segala sifat-sifatNya, baik keindahan maupun kasih sayang. Seakan-akan ia mewujud di hadapan laki-laki (Yosef) tanpa diciptakan, tetapi dia sendirilah Sang Pencipta itu.

Melalui pancaran sinar mata Jamilah, novel POB seakan mengisyaratkan sosok wanita bukanlah makhluk biasa, tetapi ia adalah menifestasi Tuhan yang maha sempurna. Hal ini bukan berarti sosok wanita adalah wujud yang harus dikultuskan atau dituhankan, tetapi ia adalah sosok yang sangat pas dengan sifat jamaliyah yang dimiliki oleh Sang Pencipta.

Tak urung, seorang santri saleh penjaga masjid (Tohir), ketika ia kehilangan kembang desa yang dicintainya, serta-merta menjadi nanar dan beringas. Sehingga, orang-orang pun bertanya-tanya, mengapa Tohir sang marbot, mengalami baku hantam dengan orang-orang Batak, justru setelah melaksanakan salat Jumat dan mendengar wejangan pengkhotbah perihal ketakwaan?

Boleh saja ada yang berpendapat bahwa perkara itu adalah soal perbedaan dalam pandangan agama, sikap primordial atau rasialis. Padahal, faktor utamanya ialah soal perempuan. Apalagi, ketika Jamilah bersedia menjadi kekasih Yosef, yang lagi-lagi urusannya adalah perkara cinta yang tak terlampiaskan.

 

*) Pegiat organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia), menulis esai dan cerpen di berbagai media luring dan daring, di antaranya kompas.id, NU Online, litera.co.idkabarmadura.id, Radar Mojokerto, Radar Banten, Satelit News, Tangsel Pos dan lain-lain.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *