Rp5 M Ludes untuk Siapkan Proyek Sport Centre, ternyata Lahannya Masih Berstatus Percaton

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) Mengenal Lebih Dekat dengan Ketua DPRD Sampang, Fadol

KABARMADURA.ID| SUMENEP-Pembangunan Sport Centre di Sumenep terancam gagal dilanjutkan. Dari informasi teranyar, proyek di Desa Gunggung Kecamatan Batuan tersebut, berdiri di tanah yang diduga berstatus percaton atau milik desa. 

 Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Subiyanto mengungkapkan, kelanjutan pembangunan Sport Centre masih lama. Bahkan, tahun 2022 pesimis dilanjutkan.

 “Proyek tersebut mandek, karena Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi diganti. Sedangkan proyek tersebut bersumber dari pemerintah pusat,” katanya, (18/11/2021).

Selain itu, status tanah tersebut diduga masih milik desa, sehingga saat ini masih mengurusi hal tersebut.  

Menurutnya, untuk melanjutkan proyeknya, harus memperjelas status tanah. Sebab, ada yang mengklaim tanah tersebut milik desa. Setelah jelas, maka pembangunan akan dilanjutkan. Selain itu,  juga harus meminta kejelasan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN). 

“Jadi menurut saya, pembangunan tersebut prosesnya sangat lama, syukur-syukur jika dilanjut,” ucap Subiyanto.

Proyek di atas tanah seluas 2,7 hektare itu dimulai tahun 2018 dan sempat mandek karena banyak permasalahan. Kini harus menghadapi masalah baru lagi, yakni persoalan tanah. 

Sejauh ini, pembangunan Sport Centre sudah menelan dana Rp5 miliar.  Sehingga pihaknya  akan terus berusaha menyelesaikan masalah tersebut.

Diketahui , kondisi gedung Sport Centre saat ini hanya dijadikan tempat menggembala sapi, kambing, tempat jemuran dan lainnya. 

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep Sami’oeddin  mendorong agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep tidak lalai dalam menyelesaikan proyek yang sudah bertahun-tahun tidak ada wujud itu.

 “Bagi kami, dana senilai Rp5 miliar akan sia-sia dong,” ucap politisi PKB itu. 

Pria yang familiar disapa samik itu juga mempertanyakan terkait status tanah yang tidak jelas. Menurutnya, jika memang milik percaton, dia mempertanyakan peruntukan dana senilai Rp5 miliar yang telah habis sebelumnya. 

“Bukankah dibuat beli tanah atau gimana,” tandasnya.

Reporter: Imam Mahdi 

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *