oleh

RS Lukas Diprotes, Pasien BPJS Merasa “Terjebak” Pelayanan Non-BPJS

KABARMADURA.ID, Bangkalan – Dianggap tidak melayani pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dengan baik, Rumah Sakit (RS) Lukas Bangkalan didatangi puluhan orang. Mereka datang mengatasnamakan pasien yang tidak terlayani dengan baik.

Salah satu pasien BPJS yang merasa tidak dilayani secara maksimal bernama Mahrus menerangkan, awalnya salah satu keluarganya yang masuk RS Lukas mengira pelayanannya baik. Namun setelah masuk dan mengurus administrasi, baru merasa pelayanannya kurang baik.

Saat itu, dia mengurus administrasi dengan terburu-buru, karena kartu BPJS-nya tertinggal di rumah. Sebelum mengambil kartu BPJS, atas pertanyaan petugas rumah sakit, dia akhirnya memilih dirawat dengan pelayanan umum atau non-BPJS terlebih dulu. Dia ingin pelayanan itu hanya untuk sementara sampai kembali membawa kartu BPJS-nya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit dengan membawa kartu BPJS, Mahrus meminta agar pasien dirawat sebagai peserta BPJS, namun pihan RS Lukas justru menolak.

“Kami kembali ke sana meminta agar umumnya dialihkan ke BPJS. Karena waktu itu genting, kalau saya bilang ke BPJS takut tidak dilayani. Akhirnya saya memilih umum dulu agar keluarga saya bisa ditangani dan pulang mengambil berkas BPJS-nya,” terangnya, Rabu (7/10/2020).

Mahrus juga mengaku sudah membawa kartu keluarga (KK) dan KTP. Sehingga menurutnya sudah memenuhi persyaratan administrasi sebagai pasien BPJS. Namun, RS Lukas enggan mengalihkannya dengan dalih sudah terlanjur ditangani dengan pelayanan umum.

“Kalau mau jadi pasien BPJS saya malah disuruh pulang lagi, kemudian besok kembali ke rumah sakit dengan persyaratan administrasi pasien BPJS, baru boleh,” terangnya.

Sedangkan, kalau perawatan tetap dilayani, dia meminta agar keluarganya itu bisa dialihkan menjadi pasien BPJS. Bukan sebagai pasien umum. Sejauh ini, biaya yang diminta oleh pihak rumah sakit Lukas mencapai Rp10 juta.

“Rinciannya kami tidak menghitung, tapi di bawah Rp10 juta,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RS Lukas Agus Hariyanto saat dikonfirmasi mengaku masih perlu koordinasi dengan manajemen rumah sakit terlebih dahulu. Namun, kejadian itu akan dijadikannya pembelajaran ke depan agar menjadi lebih baik.

“Kalau penilaian profesional, sejauh ini rumah sakit kami sudah mendapat akreditasi setiap tahunnya. Dari situ bisa dilihat kinerja profesional kami seperti apa,” terangnya.

Agus juga akan mengkaji ulang kinerja semua tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit, agar ke depannya lebih profesional.

Soal keluhan Mahrus, dia menilai hanya ada komunikasi yang salah. Sejak dari awal, pihaknya telah memberikan pelayanan terbaik. Tetapi, dia membenarkan bahwa dalam memberikan pelayanan terbaik itu, ada yang dianggap tidak profesional.

“Maka dari situ kami bisa memperbaiki diri, saya lihat ada miss komunikasi. Ada rantai komunikasi yang tidak jalan,” tuturnya.

Dari situ, pihaknya berjanji akan memberlakukan regulasi komunikasi terhadap pasien BPJS dari awal lagi, agar tidak terjadi miss komunikasi ke depannya.

“Setelah ini kami akan tanyakan dulu punya BPJS atau tidak. Bukan meminta pasien memilih menjadi pasien umum atau BPJS. Ke depan kami juga perlu masukan dari masyarakat dan pelajari lagi regulasinya dari BPJS,” pungkasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed