oleh

RSUD dr Mohammad Zyn Sampang Kesulitan Fasilitas Pendukung Alat PCR

Kabarmadura,id/Sampang-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, mendapat bantuan alat polymerase chain reaction (PCR) yang diberikan oleh pemerintah pusat. Namun sayang, alat tes wabah Covid-19 itu sampai saat ini tidak bisa digunakan.

Pasalnya, untuk dapat mengoperasikan alat tersebut, Pemkab Sampang harus memiliki ruangan khusus berupa ruangan dengan tekanan negatif dan alat pendukung agar tidak terjadi  kebocoran virus, agar tidak membahayakan keselamatan tenaga medis yang bertugas..

Penanggung jawab alat PCR Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Mohammad Zyn Sampang Siti Khotimah mengatakan, pengoperasian alat PCR tidak bisa dilakukan lantaran pihaknya belum memiliki fasilitas pendukung yang lengkap.

Oleh karena itu, meski alat PCR sudah ada, pihaknya mengaku tidak mau gegabah dalam mengoperasikan alat uji swab itu. Pihaknya tidak mau keselamatan tenaga medis yang bertugas khusus untuk mengoperasikan alat PCR terancam akibat tidak lengakapnya fasilitas.

“Selain ruangan tekanan negatif untuk menyedot virus-virus itu, kami butuh alat biosiftikabinet, yakni alat seperti lemari dan memiliki level yang bervariatif, kalau untuk virus Covid-19 level 2A atau 2b,” ungakpnya, Kamis (2/7/2020).

Sayangnya, pihaknya masih kesulitan untuk mendapatkan alat-alat tersebut. Terlebih saat ini, seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia itu juga membutuhkan fasilitas pendukung alat PCR itu.

“Saat ini banyak rumah sakit di Indonesia yang membutuhkan alat yang mampu memblok virus itu,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku, bukan tidak mampu untuk membeli alat yang berupa biosiftikabinet untuk menampung virus tersebut. Hanya saja saat ini pihaknya kesulitan untuk mendapatkan alat tersebut.

Selain alat biosiftikabinet, pihaknya juga membutuhkan perangkat lain berupa alat menetralisir ruangan. Alat itu sangat dibutuhkan oleh petugas medis agar selalu negatif dari virus Covid-19.

“Untuk alat tekanan negatif ini harganya mencapai Rp500 juta per unit. Selama alat itu tidak ada ya kami tidak akan mengoperasikan, sebab kami ingin melindungi petugas,” katanya.

Selain keterbatasan alat pendukung, pihaknya mengaku masih belum memiliki tenaga medis yang ahli dalam mengoperasikan alat PCR itu. Saat ini kata dia, RSUD dr. Mohammad Zyn akan mengirim tenaga medis ke Surabaya untuk mempelajari cara pengoperasian alat PCR tersebut.

“Jika dikerjakan orang yang tidak paham malah asal-asalan hasilnya,” tegasnya. (mal/pin)

 

Komentar

News Feed