Rumah Bidan Amuk Massa, Dinkes Bangkalan Tegaskan Tidak Ada Penolakan Pasien Bersalin

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BISA DIATASI: Warga saat dimediasi Muspika Kecamatan Burneh, Bangkalan terkait aksi massa ke tempat praktik bidan Yuni Budianto, Senin (28/6/2021).

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Nasi sudah jadi bubur, peribahasa ini layak digambarkan untuk salah seorang bidan yang berpraktik di Perumahan Tonjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan, Yuni Budianto. Setelah tempat praktiknya diamuk massa, baru disadari bahwa penyebabnya hanya kesalahpahaman.

Massa yang mengamuk pada Senin sore (28/6/2021), teridentifikasi berasal dari Desa Naro’an, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Beralasan bahwa bidan telah menolak merawat persalinan pasien dan menyebabkan ibu yang akan bersalin beserta bayinya meninggal dunia, massa yang merasa geram ramai-ramai mendatangi rumah bidan dan membuat kekacauan.

Bacaan Lainnya

Massa juga kesal lantaran bidan masih harus disibukkan dengan prosedur penanganan yang rumit.

Salah satu warga Desa Naro’an, Qusairi Fariski, menjelaskan bahwa aksi itu lantaran massa geram dan kesal dengan aturan yang dibuat oleh bidan setempat. Bahkan diungkapkan bahwa  semua bidan yang ditemui, enggan melayani pasien.

Qusairi mengaku, sudah dalam sepekan terakhir, pasien yang hendak berobat masih diminta untuk melakukan swab untuk memastikan bahwa pasien tidak terpapar Covid-19.

“Kalau yang sakit biasa saja dan tidak darurat, kami juga memaklumi, tapi ini situasinya darurat,” ulasnya.

Namun, imbuh Qusairi, alasan kemarahan warga sebenarnya berlangsung spontan. Sebab, pihak keluaga pasien bersalin ditawari bidan agar ibu dan bayi yang meninggal dilaporkan berstatus pasien Covid-19, agar keluarga bisa mendapatkan santunan.

“Ini yang membuat kedua orang tua korban murka dan akhirnya mereka mendatangi rumah bidan,” terang Qusairi.

Sehingga, pada Senin (28/6), warga mendatangi tempat praktik bidan Yuni Budianto yang sekaligus rumahnya. Dalam aksi itu, massa merusak papan nama dan menempelkan banner bertuliskan penolakan terhadap kebijakan yang dilakukan.

“Kami tidak percaya Covid, kami minta pertanggungjawabannya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Burneh Syaiful Hidayat menjelaskan, kejadian tersebut sebenarnya hanya berawal dari salah paham. Sebab, bidan yang bersangkutan mengaku tidak pernah menolak atau merawat warga yang disebutkan sedang hamil.

“Ini hanya misskomunikasi saja, semalam sudah kami mediasi,” terangnya.

Menurut Syaiful, kemarahan warga tersulut ketika bidan melayat ke rumah duka kemudian menanyakan riwayat kematian ibu dan bayi tersebut. Pihak keluarga tidak terima dengan tawaran agar kematian ibu dan bayi dilaporkan karena terinfeksi Covid-19. Padahal kebenarannya tidak begitu.

“Ini kan memang tugas kami, untuk mencatat kematian dan penyebab kematian ibu yang sedang mengandung, tapi waktunya memang tidak pas,” tutur Syaiful.

Keterangan Syaiful itu didasari hasil mediasi antara pihak bidan dan keluarga  ibu bersalin. Atas dasar itulah, keesokannya, Syaiful memanggil seluruh bidan di Kecamatan Burneh untuk diberikan pembinaan.

“Saya panggil semua bidan dan saya berikan pembinaan lagi,” tambahnya.

Sedangkan mengenai tudingan adanya layanan kesehatan yang menolak pasien, Syaiful menegaskan bahwa itu tidak benar. Semua bidan tetap melayani pasien bersalin asalkan tidak sedang sakit.

Hasil diagnosa Puskesmas Burneh, ibu yang meninggal bersama bayinya diketahui memiliki penyakit bawaan yakni liver. Sehingga saat hendak melahirkan mengakibatkan ibu dan bayi tidak bisa diselamatkan.

“Itu meninggalnya memang karena ada riwayat penyakit, tidak karena Covid-19,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Sudiyo mengaku juga sudah mengetahui permasalahan tersebut. Tetapi sudah selesai dengan mediasi yang sudah dilakukan bersama tokoh masyarakat setempat.

“Sudah selesai, mereka minta agar pelayanan dimaksimalkan,” terangnya.

Sudiyo juga berharap agar masyarakat tidak mudah bertindak gegabah. Apalagi sampai merusak fasilitas milik tenaga kesehatan atau lainnya. Sebab, semua permasalahan pasti tetap bisa diselesaikan baik-baik.

“Saya harap ini tidak terulang lagi, semoga ke depan semuanya bisa diselesaikan baik-baik,” harapnya. (hel/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *