oleh

Rustam, Petani “Malas” yang Cukup Mainkan Tombol di Ladang

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Ketergantungan petani Madura atas air tadah hujan, cukup besar. Jika tanpa tadah hujan, maka butuh pengairan dengan bantuan mesin untuk mengaloro dan menyiramnya agar merata.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan makin banyaknya media belajar teknik penyiraman pertanian melalui akun media sosial, menjadikan sebagian petani di Madura mulai berinovasi.

Satu diantaranya adalah Rustam. Petani asal Desa Pagendingan Pamekasan tersebut, tergolong “petani nakal”. Dia nakal untuk menyiram langsung tanaman. Caranya, dia menyiram tanamannya menggunakan alat siram otomatis yang disebut sprinkler.

Peralatan canggih tersebut digunakan Rustam untuk menyiram kebun bawang merah miliknya. Alhasil, saat ini Rustma tidak perlu angkut air, cukup sekali klik, hanya tinggal ongkang-ongkang kaki dengan menyeruput kopi dan melihat bawangnya disiram otomatis.

“Saya melihatnya di youtube, saya kira menarik dan boleh dicoba, akhirnya saya membelinya di toko online,” ungkap petani bawang merah dengan akal kreatif tersebut.

Semula, Rustam biasa menanam tembakau di ladang seluas 1 hektarnya itu. Awal mula tercetus untuk gunakan sprinkler adalah karena keinginannya untuk menanam bawang yang saat ini lebih menjanjikan.

“Di Pamekasan belum ada, makanya saya beli online. Total ada sebanyak 30 buah dan itu harganya mencapai satu jutaan,” ungkap Rustam.

Saat ini, dia hanya ke sawah beberapa kali untuk memencet tombol, lalu bawangnya terairi merata. Alat-alat tersebut dijadikan aset untuk bercocok tanam ke depannya. Dia tidak perlu lagi berpanas-panasan menjinjing timba mengairi tanamannya.

Soal sumber air, dia sudah punya sumur khusus yang biasa dimanfaatkan untuk mengairi tanamannya sebelumnya. Jika dulu hanya mampu menggarap satu petak lahan, kini sudah bisa menggarap kedua petak lahan dengan hanya memencet tombol.

Cara kreatifnya ditularkan kepada sejumlah tetangganya, alhasil, banyak temannya yang ikut mencoba cara tersebut. Jarak tempuh semburan airnya lumayan jauh, yaitu sejauh 3 meter. Sehingga dari satu alat-alat yang lain dia pasang jarak 6 meter.

Rustam berharap, petani lain bisa bekerja cerdas dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Menurut dia, di era yang serba cepat ini segala sesuatunya akan menjadi mudah asal mau berpikir kreatif.

“Biasanya saya harus seharian berpanas-panasan di sawah, sekarang saya hanya duduk memencet tombol, habis itu pulang,” pungkasnya.(ali/bri/waw)

 

Komentar

News Feed