oleh

Saat Utang Dibawa Mati

Oleh: Harishul Mu’minin*

Bersama dengan datangnya pagi maka di atas pelepah pisang itu akan tampak sekumpulan embun. Masrifah yang terbiasa menyapu di pekarangan rumahnya, selalu akan terkena tetesan embun yang jatuh ke tempurung kepalanya. Saat angin berembus pelan menyetubuhi pelepah-pelepah pisang. Cahaya keemas-emasan mentari menyapu seluruh permukaan tanah, membuat burung-burung yang dari tadi bertengger di pohon mangga menikmati kehangatan yang dihasilkan dari cahaya tersebut. Bila sudah begitu, burung-burung itu akan berkicau satu-satu, berkicau sahut-menyahut, berkicau susul-menyusul.

Begitulah setiap pagi, saat Masrifah menyapu di pekarangan rumahnya. Dia selalu disuguhi kicauan burung yang merdu, serta tetes embun yang jatuh tepat di tempurung kepalanya. Memang hanya kicauan burung yang dapat menghibur hatinya, dan tetes embun pula yang membuat kulit kepalanya terasa dingin. Daripada ceracau mulut tetangganya yang akan membuat hatinya gusar dan gendang telinganya panas.

Sejak ditinggal suaminya ke luar kota, Masrifah selalu menjadi bahan cibiran tetangga. Karena, dia memiliki suami yang mempunyai banyak utang dan belum terlunasi. Tetangga Masrifah beranggapan kalau si suaminya sudah tak menemukan lagi orang yang dapat diutangi, makanya dia minggat ke kota. Paling-paling dia mencari utangan kepada orang-orang kaya di sana.

Anggapan tetangganya membuat Masrifah kesal. Dia sudah memberi penjelasan kesekian kali bahwa suaminya minggat ke kota bukan untuk mencari utangan, melainkan mencari pekerjaan. Namun, apa boleh buat, tetangga Masrifah tetap tidak percaya dengan ucapannya. Mereka baru bisa percaya kalau Masrifah memberikan bukti kalau suaminya memang betul-betul bekerja di luar kota.

Mereka sering menertawakan Masrifah bila memberikan penjelasan yang tanpa bukti.

“Paling-paling suamimu membawa utang jika nanti kembali dari kota, bukannya malah uang yang dibawa,” ucap bu Erni sembari tertawa saat berada di warung. Masrifah juga berada di situ. Ocehan prempuan tua itu membuat Masrifah ingin cepat-cepat pulang dari warung. Karena, Masrifah sudah muak mendengar kata-kata sampah mereka, lebih-lebih bu Erni. Masrifah akan membuktikan kepada mereka kalau suaminya benar-benar bekerja, dan anggapan mereka selama ini tentang suaminya salah.

***

Di atas lincak berukuran 3 meter, Masrifah duduk sembari memikirkan suaminya. Semilir angin di penghujung bulan Januari membuat dia teringat suatu waktu kala bersama suaminya. Di mana dia sering diajak ke pantai untuk menikmati riak ombak yang saling berkejaran. Menikmati senja yang perlahan disetubuhi petang. Menikmati lambaian pohon cemara yang diterpa angin. Bagi Masrifah, suaminya adalah salah satu karunia terindah yang diberikan Tuhan.

Lamunan Masrifah buyar ketika teleponnya berdering. Rupanya lelaki yang teramat dia cintai menelepon. Dengan raut wajah semringah dia lekas-lekas mengangkat.

“Halo, Mas?”

“Halo, Dek. Gimana kabarnya?”

“Baik-baik saja, Mas. Mas sendiri gimana?”

“Alhamdulillah, juga baik, Dek!”

Dari pembicaraan Masrifah via telepon, dia mendapat kabar gembira. Suaminya akan pulang sebelum bulan Pebruari. Alangkah bahagianya Masrifah dengan kabar tersebut. Sehingga, membuat matanya berkaca-kaca karena sudah teramat rindu. Rindu yang sudah menggebu-gebu di dalam hatinya.

Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya untuk menyapu setiap sudut-sudut kamar tidurnya. Dia ingin—apabila suaminya nanti datang—membuat suaminya senang dan nyaman. Tak lupa, dia juga akan menyambutnya penuh kehangatan. Karena, menurut Masrifah, tak ada kebahagiaan bagi seorang suami yang pulang dari bekerja selain sambutan hangat dari seorang istri.

Selang satu hari menjelang bulan Pebruari, Suami Masrifah pulang dari kota. Dia datang dengan membawa sebuah koper. Masrifah yang dari tadi menyapu halaman rumahnya, kaget dengan suara yang memanggil namanya. Dia menoleh ke arah datangnya suara itu. Dan, mata Masrifah terbelalak melihat suaminya datang. Dia melepas genggaman sapu lidi, kemudian berlari menghampiri suaminya.

Masrifah mencium tangan suaminya, pun memeluknya erat-erat. Lalu megambil koper tersebut sembari masuk ke dalam rumah bersama-sama. Diperlihatkan isi koper tersebut yang di dalamnya uang. Masrifah terkejut bukan main saat diperlihatkan isi koper itu yang semuanya berwarna merah—uang. Lalu suaminya mengatakan kalau uang tersebut nantinya akan melunasi semua utang-utangnya.

Masrifah senang dengan kedatangan suaminya. Dia bercerita banyak hal sejak ditinggal sendirian. Suaminya terharu mendengar ceritanya yang selalu dicibir para tetangga gara-gara hutang yang menumpuk. Maka, suami Masrifah pun berangkat membawa uang untuk melunasi utang. Dia mendatangi orang yang pernah diutanginya. Dari hutang yang kecil sampai besar. Dari rumahnya yang berada di ujung barat, timur, selatan, utara, semuanya dia hampiri.

Dan setelah suami Masrifah sudah melunasi semua utangnya, dia merasa beban berat yang ada dalam pikirannya sudah tak ada. Dia senang, pun Masrifah. Sisa uangnya akan mereka jadikan modal untuk membuat usaha kecil-kecilan, yakni akan mendirikan sebuah warung . Di mana warung tersebut akan dijadikan sumber penghasilan mereka. Dan di warung tersebut nantinya Masrifah akan menjual sembako dan lain sebagainya.

Sejak saat itu, para tetangga Masrifah yang dulu selalu mencibir, saat ini malu bila bertemu dengannya. Entah itu saat bertemu di warung makan atau berpapasan di jalan. Sekarang mereka sadar, bahwa anggapan mereka ternyata salah. Benar perkataan Masrifah, kalau suaminya di kota memang benar-benar bekerja. Buktinya utang-utang yang dulu menumpuk sekarang sudah  dilunasi semuanya. Bahkan, Masrifah saat ini sudah mempunyai warung. Mereka dibuat geleng-geleng kepala oleh Masrifah dan suaminya—kagum.

***

Genap tiga purnama warung Masrifah berdiri. Dia dan suaminya kini sudah bisa membeli baju baru untuk mereka pakai bila ingin jalan-jalan. Baju baru tersebut mereka beli dari uang hasil penjualan sembako. Warung Masrifah setiap hari ramai. Tak sa;ah jika warungnya ramai, karena Masrifah dan suaminya melayani para pembelinya dengan ramah. Dan juga, mereka tak segan untuk memberi utangan.

Para tetangga Masrifah mengaku lebih nyaman dan lebih mudah membeli di warungnya, daripada harus membeli ke pasar. Jarak pasar terlalu jauh. Apabila mereka ingin membeli ke sana, tentu memerlukan waktu yang cukup lama. Ditambah jalan menuju ke pasar cukup sulit ditempuh. Mereka harus melewati jembatan kecil yang hampir rusak. Di bawah jembatan itu terdapat sungai yang airnya mengalir begitu deras.

Jembatan tersebut merupakan penghubung antara jalan desa dan jalan menuju pasar. Mereka sering terpeleset jika melewati jembatan. Dan dari itu mereka lebih memilih membeli—kebutuhan dapur—di warung Masrifah saja. Dari pada membeli ke pasar yang harus menempuh jarak yang jauh, pun untuk sampai ke sana tidak mudah.

Ada salah seorang—ibu-ibu—pelanggan Masrifah yang selalu ngutang setiap kali membeli di warungnya. Dia merupakan tetangga yang dulu pernah mencibirnya. Bu Erni.

“Jadi, berapa total keseluruhan hutangku, Fah?”

“Kalau ditotal, kira-kira utang Ibu sudah mencapai 400 ribu,” bu Erni terkejut mendengar keseluruhan utangnya kepada Masrifah.

“Jadi, kapan Bu Erni bisa melunasi semuanya?” Tanya Masifah datar.

“Mungkin besok, Fah, setelah suami saya ngirimin uang. Tenang saja, Saya pasti melunasi utang-utang saya!” Jawab bu Erni meyakinkan.

Masrifah hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum tawar. Sudah kesekian kali bu Erni memberikan jawaban seperti itu ketika ditagih. Hati Masrifah bukannya tidak marah terhadap bu Erni. Tetapi dia sedikit memaklumi bu Erni yang sudah tua, pun Masrifah tak mengetahui pekerjaan suami bu Erni.

***

Beberapa orang lewat di depan warung Masrifah dengan langkah tergesa-gesa. Dari raut wajah mereka, tergambar jelas rasa cemas. Masrifah yang sedari tadi duduk di dalam warungnya langsung keluar. Setelah diperhatikan, mereka mendatangi sebuah rumah di seberang jalan sana.

Dari kejauhan, tampak banyak orang yang sudah mengerumuni rumah tersebut. Masrifah penasaran. Dia bertanya entah kepada siapa, hal apa yang sedang terjadi di rumah itu hingga mengundang banyak orang untuk datang. Masrifah masuk ke dalam warungnya dan meminta suaminya untuk menjaga warung barang sebentar, karena dia ingin pergi ke rumah yang dikerumuni banyak orang. Setelah pamit kepada suaminya, dia kemudian berangkat.

Saat sampai di seberang jalan, Masrifah baru sadar kalau rumah yang akan dia datangi adalah rumah bu Erni. Masrifah semakin penasaran saja. Dia mempercepat langkahnya. Setelah Masrifah sampai di mulut rumah bu Erni, dia dikejutkan dengan tubuh bu Erni yang menggantung dengan tali yang mengikat lehernya. Mulut Masrifah melompong, matanya terbelalak melihat bu Erni yang sudah tak bergerak sama sekali—mati.

Kemudian Masrifah menanyakan kepada salah seorang di tempat itu penyebab kematian bu Erni. Orang itu mengatakan kalau bu Erni diceraikan oleh suaminya dikarenakan bu Erni banyak utang. Dari itu bu Erni sampai melakukan hal seperti ini.

Mendengar jawaban orang itu, ada rasa iba dalam hati Masrifah kepada bu Erni. Ditambah lagi, anak dan para cucunya kini tak diketahui rimbanya. Sungguh malang nasib perempuan tua ini, batin Masrifah.

Lalu, Masrifah teringat sesuatu. Ya, sesuatu itu adalah utang, di mana bu Erni masih mempunyai utang yang belum dilunasi. Lantas, kepada siapa aku harus menagih utang bu Erni? Sedang dia sudah mati? Tanya Masrifah entah kepada siapa.

Tiba-tiba tiga orang datang.

Kutub, Yogyakarta 2020

*Kelahiran Sumenep 12 Mei 2001. Anak dari seorang Nelayan di pulau garam. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Sekarang bergiat di Lesehan Sastra kutub Yogyakarta.

 

 

Komentar

News Feed