Saatnya Move On! Buku Karya Wabup Fauzi Dipersembahkan Khusus untuk Anak Zaman Now

  • Whatsapp
AYO MOVE ON! : Wakil Bupati Sumenep saat hadir pada bedah buku karya tulisnya sendiri di SMAN Ambunten.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Setelah dilaunching pada 12 Mei lalu, buku karya Wakil Bupati (Wabup) Sumenep Achmad Fauzi yang berjudul ‘Saatnya Move On; Catatan Seorang Birokrat Muda’ kini dibedah bersama para pelajar.

FATHOR RAHMAN, SUMENEP

Bedah buku karya politisi muda itu sudah dua kali, pertama berlangsung di Kecamatan Gapura. Kemudian bedah buku kedua dilaksanakan di SMAN Ambunten, Selasa (6/7), yang dihadiri langsung oleh penulis dan hadir pula Ibnu Hajar sebagai Epilog dalam buku dengan 146 halaman tersebut.

Di hadapan peserta bedah buku yang didominasi oleh siswa itu, Fauzi memberi motivasi. Menurutnya, kesibukan dan sedikit waktu untuk bertatap muda dengan komputer bukan alasan untuk tidak produktif menulis.

Terbukti, dirinya yang masih menjabat sebagai wakil bupati dan padatnya jadwal melayani masyarakat Sumenep, hingga urusan administrasi di atas meja tugasnya, masih bisa menghasilkan sebuah karya tulis yang diterbitkan oleh Diva Press.

“Tidak ada yang tidak mungkin jika dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh. Buktinya, saya masih bisa menulis. Apalagi kalian yang tuganya hanya belajar. Ayo, saatnya move on menjadi lebih kreatif dan prodiktif!” tuturnya menyemangati pelajar yang hadir pada bedah bukunya.

Menurutnya, saatnya move on sebagaimana judul bukunya, untuk mengajak semua lapisan masyarakat di Sumenep untuk menjadi lebih baik.

“Masyarakat yang menjadi pejabat, kerjakan tugasnya dengan lebih baik, petani juga demikian, apalagi anak muda yang masih di bangku belajar. Move on itu saya tarik kepada yang lebih luas, tidak hanya move dari hal yang lebih identik dengan percintaan,” katanya.

Fauzi lantas sedikit mengutip isi buku tersebut, yakni sebuah motivasi bagi pemuda dari sebuah pengalaman seorang wakil bupati selama menjabat sebagai orang nomor dua di Sumenep.

“Bagi saya, waktu itu ada tiga, waktu kemarin, hari ini dan waktu besok,” katanya.

Berbicara tentang waktu, kata Fauzi, secara kasat mata, bahwa sepertinya melihat dari kesibukannya, tidak ada waktu untuk menulis. Tapi di sela kesibukannya, ia masih coba menulis dan berhasil diterbitkan Diva Press.

“Selain waktu kemarin, ada juga waktu saat ini adaah waktu yang sedang kita kerjakan. Misalnya, saat ini saya sebagai wabup dan tetap menulis. Sementara waktu kemarin, adalah waktu yang tidak bisa diulang kembali,” terangnya.

Sementara, waktu besok adalah tergantung hari ini untuk diisi seperti apa. Oleh karenanya, buku itu diterbitkan untuk memberikan motivasi pemuda, bagaimana menggunakan waktu sebaik-baiknya.

“Buku ini saya tulis saat menjadi wabup. Saya persembahkan untuk para pemuda, karena isinya bersifat tulisan motivasi. Bahasa yang lugas, sederhana dan bahasa kekinian kaum muda,” tuturnya.

Sementara Ibnu Hajar menyampaikan, dirinya seakan tidak percaya bahwa seorang wabup masih bisa menerbitkan sebuah buku. Sebab kalau dilihat dari kesibukannya, menurutnya tidak memungkinkan.

“Tapi fakta berbicara lain. Meksi saya sempat tidak percaya, masak ia wabup masih sempat nulis. Ternyata seorang Achmad Fauzi masih bisa kreatif dan produktif di tengah tugasnya menumpuk,” ungkapnya. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *