oleh

Sabar dan Syukur sebagai Vitamin Kehidupan

Oleh: Imam Tabroni*

Segala hal yang berkaitan dengan manusia tidak bosan diperbincangkan oleh manusia. Ditambah lagi dengan segala sepak terjang manusia yang terus berubah dari berbagai macam perkembangan yang terjadi dalam kehidupan. Sepak terjang kehidupan manusia terdapat pasang surut dalam dirinya. Surut ketika berkelakuan jelek, pasang ketika berkelakuan baik.Sebagai manusia yang mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi yang mempunyai segala kelebihan dibandingkan makhluk lain adalah pertanda memiliki tanggung jawab yang lebih pula.

Untuk menjalankan tanggung jawab manusia harus bergerak. Namun bergerak yang bagaimana agar tanggung jawab terpenuhi? kemudian lulus dalam seleksi hisab amal perbuatan kelak, sehingga masuk dalam surga-Nya. Pertanyaan ini secara terperinci dapat ditemukan jawabannya di dalam buku yang bertajuk “Spiritualitas Sabar dan Syukur” yang ditulis oleh Dr. Abdul Wahid Hasan.

Buku beliau ini merupakan vitamin kehidupan yang harus dipenuhi dalam jiwa manusia. Karena kehidupan membutuhkan asupan vitamin. Jika tidak, besar kemungkinan gizi buruk akan menimpa kehidupan secara menyeluruh. Tidak sampai mematikan ketika tubuh terkena gizi buruk, karena tidak akan merugikan terhadap tubuh yang lain. Lain halnya jika kehidupan, yang terkena gizi buruk, maka semua manusia akan terkena dampaknya. Dampaknya sangat sukar untuk disadari, walaupun disadari akan sangat sulit diselesaikan karena kehidupan mencangkup segalanya yang bergerak.

Untuk menghindari gizi buruk kehidupan, buku ini menawarkan vitamin kehidupan yang dimaksudkan adalah sabar dan syukur. Secara lengkap dipaparkan yang mengenai keduanya. Dalam kehidupan tidak lepas dari persoalan yang menggelisahkan atau musibah yang menyusahkan, bahkan membuat kita putus harapan untuk menjalani berbagai musibah yang terjadi dalam kehidupan.

Dalam kenyataannya, peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut sangat beragam, mulai dari peristiwa yang sederhana, seperti kaki terluka oleh duri, tidak dihiraukan oleh teman, ban motor yang tiba-tiba kempis saat pejalanan ke kantor, dan lain-lain, hingga peristiwa yang besar, seperti kehilangan orang yang dicintai, penikaman yang dilakukan oleh teman sendiri, penyakit berat yang berkepanjangan, penghianatan oleh pasangan, dan lain-lain (hlm. 18).

Selain kesabaran, yang dibutuhkan adalah rasa syukur terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib Ra. Pernah menguji putranya, Hasan bin Ali Ra., tentang sifat muru’ah. Ia menanyakan berbagai hal, termasuk menanyakan tentang apakah kekayaan itu? Hasan bin Ali Ra. menjawab, “kekayaan adalah kerelaan hati terhadap segala hal yang telah diberikan oleh Allah Swt., sekalipun sedikit. Kekayaan adalah kaya hati.”

Sebab jika kita sudah tamak, rakus, dan selalu merasa kurang, maka seberapa pun banyak harta yang kita miliki, tidak akan pernah membuat kita kaya. Kerakusan dan ketamakan akan menggerogoti jiwa dan pikiran kita. Jiwa yang rakus tidak akan pernah merasakan kenyamanan hidup. Jiwa yang tamak tidak akan pernah merasa banyak dengan apa yang sudah dimiliki.

Hal ini selaras dengan Hadits Nabi bahwa “Jika manusia diberi satu lembah penuh emas, ia akan mengingatkan dua lembah. Jika ia diberi dua lembah, ia menginginkan tiga lembah. Dan, tidak akan bisa memenuhi perut manusia kecuali tanah. Allah Swt. akanmenerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perut kita sebenarnya sangat kecil. Tetapi, untuk sebuah ketamakan, ia bisa menampung seluruh gunung dan lautan. Begitu bahayanya diri yang tidak pernah merasa puas ini (hlm. 209).

Demikian sangat penting vitamin sabar dan syukur terhadap kehidupan yang sangat berpengaruh terhadap gerak-gerik manusia yang hal ini pasti akan sangat bermanfaat untuk membawa kedamaian jiwa dan raga, dan di dalam buku ini di gambarkan secara jelas dengan menghadirkan kisah-kisah para sahabat dan sufi. Namun “tidak ada kaos kaki yang tidak bau jika sudah dipakai”, Demikianlah pepatah yang penulis buat untuk menandingi pepatah “gading”. Di dalam buku ini terdapat beberapa kata yang salah ketik dan beberapa kata istilah yang barangkali kurang dimengerti untuk pembaca yang awam. Namun semua itu tidak mengurangi substansi pembahasan yang ingin disampaikan pengarang buku. Dan buku ini tetap layak, bahkan wajib dimiliki oleh setiap insan yang berada dalam posisi gegana (gelisah, galau dan merana) dalam kehidupan. Semoga bermanfaat untuk kehidupan yang lebih sehat dan lebih semangat!

*Imam Tabroni, Santri-Mahasiswa Instika Fakultas Tarbiyah

Judul               : Spiritual Sabar dan Syukur

Penulis             : Dr. Abdul Wahid Hasan

Cetakan           : Pertama, Desember 2019

Penerbit           : DIVA Press

ISBN               : 978-602-391-829-4

Tebal Halm.    : 258: 14 x 20 cm

Komentar

News Feed