oleh

Salah Membenci

Oleh : Azmi Azizah

Kuliah telah usai. Aku bergegas bersepeda menuju kios Emak. Emak sedang melayani pembeli saat aku tiba di kios sederhananya. Berbagai alat tulis, seragam sekolah, tas, dan sepatu berjajar rapi di rak dan gantungan masing-masing. Kios ini terletak di ujung dekat pintu masuk pasar. Saat sepedaku sudah terparkir rapi dan aku berjalan mendekati kios, pembeli tadi keluar dan pergi bersama tentengan belanjanya.

“Assalamu’alaykum, Mak,” aku melepas sepatu dan mendekati Emak untuk menyalaminya.

“Eh, Lila. Wa’alaykumussalam. Kok tumben ke sini? Nggak ada rapat atau tugas kelompok kayak biasanya?” tanya Emak sambil menyambut uluran tanganku.

Aku hanya menggeleng dan meletakkan tasku di kursi yang biasanya dipakai calon pembeli untuk mencoba sepatu.

“Udah makan, Lil?” Emak mengusap puncak kepalaku yang dibalut jilbab dengan lembut.

“Tadi sebelum kelas terakhir udah ke kantin, kok, Mak,” aku tersenyum kecil. “Mak udah makan?”

“Emak tadi beli nasi pecelnya Bu Minah yang di seberang itu. Udah kenyang, Alhamdulillah.” Emak dengan jilbab hijau tuanya nampak teduh sekali dengan senyum tersemat di wajahnya yang mulai keriput. Hal sekecil apapun yang Emak dapat, beliau selalu memuji Allah dan bersyukur.

“Lil, tadi ada pembeli yang bikin Emak lebih bersyukur dengan kondisi kita saat ini.” Emak mengambil satu kursi plastik dan mendekatkannya padaku. Inilah momen yang aku tunggu. Menyimak dengan baik cerita-cerita Emak yang bisa membuat aku lebih memaknai kehidupan ini dan mengambil hikmah dari kejadian apapun. Hal ini menjadi kegiatan favoritku selama setahun terakhir. Sejak aku menyadari dunia ini sangatlah keras dan bisa sangat menyakitkan.

“Tadi ada Ibu muda mau beli tas buat anaknya. Kita ngobrol-ngobrol, malah beliau curhat tentang suaminya yang suka selingkuh dan judi. Kadang-kadang juga mabuk-mabukan. Marah-marah kalau di rumah. Susah banget mau dinasihatin dan diluruskan. Anak-anaknya ada empat orang, Lil. Mereka kurang diperhatikan sama ayah mereka. Emak ya bisanya nyaranin biar Ibu itu sabar dan coba cari cara nasihatin yang lain dengan tanya Pak Ustadz yang ada di desanya beliau aja, sambil terus dido’akan.” Emak berhenti sebentar, lalu memandangku dalam-dalam.

“Lila, Emak seneng banget. Meskipun Emak, Bapak, Lila, dan Tomi hidup sederhana begini, nggak tinggal di rumah sebesar yang dulu saat Bapak masih jadi direktur, tapi Emak bahagia kita hidup dengan saling berkasih sayang.” Emak berhenti sejenak dan tersenyum memandangku lekat-lekat. Aku masih diam dan tenang menyimak tiap kalimat Emak.

“Lila dan Tomi juga rajin bantuin Emak ngajar di TPA, jualan Emak di pasar laris, Bapak sejak jadi guru di SMA juga disukai murid-muridnya. Alhamdulillah kita tetap bisa hidup nyaman dan bermanfaat dengan semua yang Allah kasih. Malah bisa ngajar orang lain juga, biar jadi amal jariyah.” Emak tersenyum penuh arti.

Mataku mulai sedikit berair. Kadang aku masih sedih dan merasa kurang dengan fasilitas rumah yang nggak sebagus rumah lama kami. Mengeluh ini itu meski di hati. Apalagi aku masih sering ogah-ogahan mengajar TPA. Sering merasa terpaksa karena Emak yang meminta. Padahal Emak selalu mengajarkan untuk bersyukur dan senang berbagi ke orang lain.

Kini aku makin sadar bahwa kebahagiaan memang bukanlah tentang materi. Buat apa jika harta yang kita miliki melimpah, tetapi keluarga tidak saling menyayangi dan tidak ada manfaat yang bisa kita berikan pada orang lain.

“Alhamdulillah ya, Mak,” kupaksa sedikit senyumku agar merekah. Sebab sebenarnya hatiku teriris. Aku berjanji dalam hati agar makin ridho dengan segala ketetapan-Nya. Barangkali jika aku dibiarkan hidup selalu serba mudah dan fasilitas mewah, aku jadi hamba-Nya yang kurang bersyukur dan sombong.

“Lila nggak ngantuk? Tidur aja di rumah. Emak masih sampai sore sendiri nggak apa-apa.”

“Lila mau di sini dulu, aja, Mak. Nanti pulang bareng Emak. Lila nggak ngantuk. Tomi juga balik dari SMA masih sore.”

Emak kembali tersenyum penuh pengertian, lalu berkata, “Ya udah kalau gitu. Kuliahnya lancar, Lil?”

Aku langsung teringat tugas dari Pak Bagus tadi yang membuatku bad mood.Tugas membuat puisi bertema cinta. Lima huruf itu membuatku teringat pada dua orang yang sebenarnya sangat ingin aku lupakan total. Tetapi tak bisa semudah itu.

“Emm, lancar kok, Mak. Cuma lagi banyak tugas aja,” jawabku sekenanya.

“Ya udah, Emak ngerekap hasil jualan toko dulu, ya,” kemudian Emak berkutat di balik meja kasir.

Aku sebenarnya tahu, menyimpan luka itu tidak baik. Namun aku masih belum bisa menyembuhkan sakitnya hatiku sejak dahulu. Belum bisa memaafkan dan berdamai dengan konflik itu. Aku belum siap cerita ke Emak. Mungkin esok saja.

* * *

Akhirnya aku menyelesaikan tugas membuat puisi dengan penuh perjuangan. Aku bukan orang yang pandai berkata-kata. Jadi ya sudah, aku buat saja semampuku. Tak ada kata yang menjadi tema puisi itu sama sekali dalam bait-baitnya. Bayangan perjuangan dan pengorbanan Ayah dan Emak selama ini yang terpikir olehku lalu tertuang dalam sajak-sajak puisi buatanku.

Aku merebahkan diri di bangku taman. Beberapa hari terakhir sungguh-sungguh padat. Organisasi yang kuikuti sedang padat-padatnya agenda. Praktikum juga gila-gilaan hampir setiap hari ada dan laporannya sungguh banyak berlembar-lembar.

“Hei, Lil. Kenapa lagi, lu?” Anita sudah terduduk di sampingku.

“Capek aja, sih,” jawabku masih dengan bersandar pada bangku.

“Iya, nih. Gue juga capek banget. Tugas ama laporan praktikum banyak bener. Oh iya, nanti sore lu ikutan reuni SMA nggak?”

“Gue awalnya males banget sih sebenernya,” jawabku sambil merubah posisi duduk.  ‘Apalagi kalau harus ketemu orang yang gue benci’, tambahku dalam hati.

“Terus?”

“Tapi si Silvi ketua kelas gue dulu mohon-mohon banget biar gue dateng.”

“Jadinya lu berangkat kan, berarti?”

“Eh tunggu. Astaghfirullah! Gue jadwal ngajar TPA. Sampein ke temen-temen ya gue nggak bisa dateng,” aku memastikan jadwal dengan mengecek agenda di ponselku.

“Yaah. Padahal mau ngajak barengan berangkatnya.” Anita nampak murung. “Ya udah gue balik kelas dulu, deh. Nyari barengan yang lain.”

“Maapin, yak,” kataku yang dibalas deheman Anita yang mulai berjalan menjauh.

*   *   *

Aku sedang memijit Emak yang kelelahan di ruang tamu setelah makan malam. Beberapa saat yang lalu kami sekeluarga makan bersama di ruang tengah.

Sambil memijit, aku masih menimbang-nimbang untuk menceritakan kejadian yang masih berdampak pada jiwaku itu atau tidak. Rasanya sungguh sakit. Sakitnya seakan mengiris-iris batin jika aku kembali mengingat ulang tiap peristiwa di hari-hari itu.

Setahun yang lalu. Tepatnya saat Ayah harus mundur dari posisi direktur karena perusahannya gulung tikar dan mengalami kecelakaan cukup parah yang mengharuskan opname di rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit. Aku terpuruk. Tak lama lagi  akan tiba harinya Ujian Nasional SMA dan aku harus fokus belajar, tapi justru kemalangan yang tak pernah kami bayangkan datang mengganggu fokusku. Beberapa bulan berikutnya setelah Ayah sembuh, Ayah mengajak kami untuk pindah rumah. Kamar luas ber-AC, kolam renang tempat favoritku di akhir pekan, dan mobil tak ada lagi yang bisa kunikmati.

Padahal sebelum kabar buruk itu datang, aku juga sedang dilanda kemurungan. Aku tertipu dengan buaya yang ternyata hanya mengincar kekayaan orang tuaku. Aku padahal sulit jatuh hati, tapi Kevin terlalu hangat, humoris, dan perhatian. Aku masih payah mengendalikan hati saat itu. Untungnya belum lama aku dekat dengannya, aku tahu semua rencana busuknya. Bahkan dia menjaring gadis yang sangat banyak untuk dipacari. Benar-benar buaya.

Cinta, sahabatku dahulu yang berusaha menyadarkanku dan menguak itu semua padaku. Ia mengajakku melihat sendiri Kevin di cafe favoritnya dengan gadis yang berganti-ganti. Kala itu aku sangat bersyukur terhindar dari kesialan jika aku terus dekat dengan Kevin. Sejak hari mengesalkan itu, aku malas berhubungan dengan pria dan urusan percintaan.

Cinta sebenarnya sangat baik. Namun sebuah kesalahan fatal ia lakukan dan sangat membuatku benci padanya. Aku tau niatnya baik, tapi aku tidak bisa terima saat orang tuaku yang sedang hancur kondisi ekonominya harus diketahui banyak orang karena dia sok pahlawan mengabari ketua OSIS untuk menggalang dana diam-diam tanpa sepengatahuanku. Aku sudah pernah bilang padanya kalau apapun menyangkut orang tua sangatlah sensitif bagiku.

Jadilah sore hari di saat aku tau, aku benar-benar mengamuk padanya. Hatiku sudah lelah melalui hari-hari berat untuk harus tetap belajar dengan giat di masa-masa try out lalu bekerja part time diam-diam tanpa Emak dan Ayah tahu agar aku tak lagi minta uang saku pada mereka, tapi harus ditambah dengan cemoohan Mega dan gengnya karena tahu kondisi keluargaku disebabkan apa yang Cinta beberkan. Aku masih tak ingin berkomunikasi dengan Cinta sampai saat ini.

Emak dan Ayah adalah dua malaikat tanpa sayap yang begitu berharga untukku. Aku sangat tak suka jika mereka berdua dipandang rendah oleh siapapun. Emak yang memang berasal dari desa sangat sabar membersamai Ayah dan selalu menasihatiku dan Tomi dengan kelembutannya. Kesederhanaan Emak dan karakter pekerja keras Ayah selalu bisa jadi teladan buatku dan Tomi.

“Mak, Lila mau tanya. Emak gimana sih kalau sakit hati karena orang lain?”

“Hemm.. Coba sini duduk depan Emak, Lil,” tangan halus Emak memegang tanganku di pundaknya. Aku pun berhenti memijat pundak Emak dan berpindah posisi.

“Hati yang sakit itu sebenarnya harus diobati, Lil. Biar sehat lagi. Sama kayak kamu kalau sakit, demam pilek gitu kan pasti mau apa-apa nggak nyaman kan. Harus sembuh dulu biar aktivitas bisa enak lagi. Sakit hati juga sama. Kalau kita cuma fokus ke rasa sakitnya, merasa kita pihak yang tersakiti, itu bakal bikin hati tambah sakit, Lil.”

Aku tersenyum miris. Begitulah yang aku rasakan.

“Mungkin kita bakal nyalahin mereka yang udah bikin hati kita terluka. Tapi kalau kita pikir lagj, apa kita sendiri nggak pernah berbuat salah? Kan namanya manusia ya pasti pernah khilaf. Memaafkan itu membuat hati tenang, nggak ada beban. Pasti ada hikmahnya, Lil. Allah hadirkan siapapun di hidup kita pasti ada maksudnya.”

Benar juga yang Emak katakan. Pengalaman dipermainkan Kevin membuatku lebih berhati-hati dalam pergaulan. Dicemooh Mega dan kawan-kawannya membuatku makin sabar dan sayang pada Ayah dan Emak. Sementara Cinta..

“Lil, Emak ada sesuatu yang ingin Mak sampaikan. Ini tentang Cinta,” seketika mataku terbelalak terkejut.

“Ee.. Kenapa dengan Cinta, Mak?”

“Emak sebenarnya diminta dia untuk tidak memberitahumu. Tapi Emak merasa kamu harus tahu dan memaafkan Cinta. Emak tahu mungkin ada kesalahan dia, yang dia tak ceritakan pada Emak dan membuat pertemanan kalian rusak. Tapi ketahuilah, Lil. Dia adalah orang yang sangat tulus menyayangimu sebagai sahabat. Dia dan orang tuanya yang dulu membantu Ayah dan Emak dari sulitnya ekonomi, membantu meminjamkan modal buat kios Emak di pasar juga. Beberapa kali juga ke rumah untuk memberi buah dan sebagainya saat kamu tidak di rumah. Dia nggak ingin kamu marah dan benci kalau melihatnya.”

Jantungku seolah berhenti. Tuhaan. Aku ini manusia apa. Menyia-nyiakan hati mulai dan kasih yang tulus dari sahabatku. Air mataku menetes karena mengingat sekelibat peristiwa yang menghujani benakku. Saat Cinta selalu hangat menyapa dan membantu kesulitanku belajar di SMA, saat dia menabahkanku di tiap duka dan mengajakku ke tempat-tempat menyenangkan untuk menghapus luka, lalu aku menamparnya dan marah-marah padanya sore hari kala itu.

Aku memeluk Emak dengan masih terisak. Lalu berkata, “Emak, maafkan Lila, Mak. Kenapa Lila jahat sekali pada Cinta yang sangat baik.”

“Hubungi dia, Lil. Kamu bukan seharusnya minta maaf ke Emak. Minta maaflah padanya. Emak yakin dia pasti memaafkanmu,” tanpa kulihat, aku yakin Emak tengah tersenyum dengan lembut. Tangan Emak mengelus-elus punggungku yang masih dalam rengkuhannya. Cinta.. Maafkan aku. Aku menyesal pernah membencimu.

Selesai

 

*Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir Gizi Kesehatan UGM. Pernah menjabat sebagai Sekretaris-Bendahara MPM KM UGM 2019 dan Co-founder @creativexcampus. Salah satu karyanya terbit dalam Antologi Cerpen ‘Simfoni Hati’ dan dua artikelnya dimuat dalam Warta Pendidikan Jawa Barat.

 

 

Komentar

News Feed