Sambut 1 Abad NU, Lesbumi Jember Telaah NU di Abad ke-2

News61 views

KABARMADURA.ID | JEMBER – Tepatnya 7 Februari 2023 nanti, Nahdlatul Ulama (NU) berusia 1 abad. NU sebagai organisasi keagamaan tidak hanya berkontribusi dalam sosial-agama. Lebih dari itu, sikap tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal membuat NU dapat mewarnai segala bidang serta bisa diterima banyak kalangan. Dari tahun ke tahun organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ary terus berkembang dan menunjukkan peran signifikan.

Kehidupan umat beragama, dalam konteks berbangsa dan bernegara semakin kompleks-dinamis. Oleh karena itu, Lesbumi PCNU Jember bekerja sama dengan RRI Jember menggelar dialog publik via udara bertajuk “Menerka NU di Abad ke-2” pada Senin (/1/2023) di kantor RRI Jember. Adapun nara sumber yang hadir yaitu Prof. Dr. M. Khusna Amal (Dekan FUAH UIN Khas Jember), Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd. (Wakil Ketua PCNU Jember), K.H. Kusno, M.Pd.I (Ketua PD Muhammadiyah Jember), Drs. H. Ahmad Tholabi (Kasubbag TU Kemenag Jember), dan Romo Utus Pastor (Kepala Paroki Santo Yusuf Jember).

Ahmad Tholabi mengatakan, NU harus terus memegang prinsip beragama yang tawasuth, tasamuh, tawazun, dan I’tidal. Menurutnya, munculnya gerakan moderasi beragama di lingkungan Kementerian Agama tidak lepas dari apa yang telah NU ajarkan. Sebab, konsep moderasi beragama adalah konsep yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang hidup di tengah kemajemukan beragama.

“Moderasi beragama bukan sekedar menganggap agamanya paling benar, sehingga menilai yang lain salah. Tetapi, konsep moderasi beragama adalah menganggap semua agama benar dan meyakini bahwa agama islam adalah agama yang benar. Moderasi beragama harus terus dilakukan, baik di era saat ini maupun di era yang akan datang karena konsep ini adalah konsep yang diyakini mampu melahirkan sikap toleransi beragama di Indonesia dapat terjaga,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kesenian Dumik Asal Sapeken, Musik Penyambut Raja yang masih Ditradisikan

Hal senada disampaikan oleh Ahmad Taufiq. Wakil Ketua PCNU Jember ini menyampaikan hal penting yang dapat dilakukan dalam menelaah kiprah NU di abad ke dua, yaitu melakukan refleksi di satu abad pertama dan di satu abad kedua.

“Di seratus tahun pertama, NU terlihat konsisten di berbagai bagian-bagian penting negara Indonesia. NU akan menjadi kekuatan yang mampu menciptakan tatanan kehidupan bangsa dan kehidupan global berbasis nilai-nilai moderasi keagamaan dan nilai-nilai moderat,” tegasnya.

Sementara itu, Kusno menilai perjalanan NU menuju abad kedua adalah suatu perjalanan hebat. Setidaknya, ada tiga alasan mengapa Ketua PD Muhammadiyah Jember ini mengatakan demikian. Pertama, jika NU tetap konsisten dengan khittoh yang dijalani selama satu abad, berarti NU telah berada pada pondasi yang sangat kokoh untuk membangun peradaban.

Kedua, jika NU pada abad kedua nanti mampu menjadi alternatif kekuatan ekonomi, sosial, dan budaya tentu jauh akan lebih efektif dalam menguatkan peran-peran strategis, baik tingkat nasional maupun internasional.

Baca Juga:  Haji Mukit Nilai Sahur Layak Pimpin Pamekasan

Ketiga, apa pun gerakan yang ada sangat terletak pada kebermanfaatan sehingga adanya Muhammadiyah dan NU juga sama-sama memberikan manfaat untuk kehidupan luas.

Lain halnya dengan Prof Husna Amal. Dirinya melihat NU sebagai organisasi Islam yang paling unik, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. NU juga mampu memainkan peran penting dan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di bidang sosial keagamaan maupun ekonomi, budaya, dan politik.

“Jika mengulas ulang kisah berdirinya, NU memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang sangat luar biasa. Ribuan pesantren yang berbasis NU telah memberikan kontribusi penting dalam upaya membantu negara mewujudkan cita-cita bangsa,” ungkapnya.

Dalam perspektif agama lain, Romo Yoseph Utus Pastor memberikan tanggapan terkait perjalanan NU menuju abad kedua ini. Menurut Kepala Paroki Santo Yusup Jember ini, NU adalah organisasi yang luar biasa karena mampu menggerakkan napas kebangsaan, kerukunan, dan kedamaian. Warga katolik merasa senang karena NU dan Muhammadiyah membuka ruang dialog dengan semua agama.

“Apa pun bentuk agamanya, tujuan utama yang diharapkan adalah mencapai keselamatan,” jelasnya.

Terkait dengan perjalan 1 abad NU, semua sepakat bahwa NU telah memiliki fondasi yang kuat dalam menjaga kerukunan beragama, mempertahankan nilai-nilai keberagaman, dan melakukan pola pendekatan yang dapat diterima oleh seluruh lapisan agama dan masyarakat.

Kontributor: Fandrik Ahmad

Redaktur: Hairul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *