Samudra Inspirasi Kiai Sahal Mahfudh

  • Whatsapp

Oleh: Ahmad Farisi*)

Adalah KH. MA. Sahal Mahfudh, namanya, seorang ulama yang semasa hidupnya punya banyak prestasi. Khususnya dalam menulis. Ada banyak karya, baik yang berupa kitab kuning, buku, dan makalah-makalah yang telah ditulis olehnya yang sampai kini telah ikut serta mewarnai diskursus keilmuan kontemorer. Beberapa kitab yang pernah ditulisnya ada Thariqatul Husul Ala Lubbi al-Ushul, al-Bayan al-Mulamma’ An Alfadzil Luma’ Anwar al-Bhasair ala Ta’liqati al-Asybah Wa an-Nadhair, Intifahul Wadajain, dll. 

Sementara karya-karyanya yang ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia adalah: Pesantren Mencari Makna, Menjawab Problematika Umat, dan Fiqh Pesantren. Menurut Dr. Jamal Ma’mur, produktivitas Kiai Sahal dalam menulis ini sudah bermula sejak di pesantren. Keuletannya dalam melakukan kajian terhadap kitab kuning, kegemarannya memuthala’ah (membaca kitab kuning hingga larut malam), kesukaannya membaca koran, majalah dan beragam referensi lainnya telah menjadi pendorong baginya untuk menjadi penulis yang produktif dan kritis (halaman 116).

Selain dirinya yang produktif dalam menulis yang perlu kita jadikan inspirasi dalam menulis, pandangan-pandangannya tentang sosial-kebangsaan juga menarik untuk kita simak dan kita teladani. Pertama, Indonesia, menurut Kiai Sahal, untuk menjadi bangsa yang maju, maka Indonesia harus lebih dulu percaya diri sebagaimana kata-kata bijak mengatakan bahwa, “Berpijak kepada diri sendiri adalah fondasi kesuksesan”. Menurutnya, cara Belanda dulu menjajah Indonesia adalah dengan menginternalisasikan “inferiority complexke dalam pola pikir masyarakat, sehingga membuat masyarakat dan bangsa ini tak lagi percaya diri terhadap dirinya sendiri.  

Oleh karena itu, menurut Kiai Sahal, maka menjadi penting untuk selalu menanamkan self confidencekepada masyarakat Indonesia agar berani menegakkan kepala dan harga diri dengan sejumlah prestasi. Dan menurut Jamal, penulis kelahiran 11 Oktober 1979 ini, hal itu sudah dipraktikkan oleh Kiai Sahal dalam segala lini perjuangannya. 

Misalkan, sebagai orang pesantren, konon ia tidak pernah minder menyampaikan kandungan-kandungan kitab kuning yang dikaji-nya di forum-forum seminar yang dihadiri oleh sejumlah pakar. Karena pada dasarnya, Kiai Sahal tidak mau membebek dan mengekor kepada mazhab keilmuan maisntream yang hegemonik.

Bahkan, Kiai Sahal juga tak segan melancarkan kritik kepada para pakar yang mengatakan bahwa kitab kuning sudah tak lagi relevan dengan zaman, alias out of date. Dalam kritiknya, ia mengatakan bahwa baginya kitab kuning selalu relevan dengan perkembangan kehidupan. Menurutnya, semua itu tergantung pada pendekatan yang digunakan.

Kedua, hal yang juga tak kalah penting untuk kita lakukan adalah membangun kemandirian. Dalam pandangan Kiai Sahal, kemandirian ekonomi adalah salah satu kunci untuk membangun peradaban dan yang beradab. Sebab, menurutnya kemandirian ekonomi akan menghantarkan seseorang atau lembaga pada kerja-kerja yang bersih dan tidak tergiur oleh proyek-proyek instan yang ujung-ujungnya hanya bertujuan mendapatkan materi, baik dalam ukuran kecil, sedang atau banyak. 

Oleh karenanya, pihaknya mendorong agar setiap lembaga atau individu-individu yang ada untuk membangun kemandirian ekonomi secara maksimal dengan tekad dan keberanian (halaman 119). Dengan mandiri secara ekonomi, harapannya, suatu lembaga atau para individu-individu, tidak lagi bergantung pada pihak kedua. Sehingga dari situ, lembaga-lembaga dan individu-individu tidak lagi menjadi kerbau-kerbau kapital yang diperalat untuk menyukseskan kepentingan politik semata.

*) Pembaca buku asal Sumenep  

Judul buku : KH. MA. Sahal Mahfudh

Penulis : Dr. Jamal Ma’ruf Asmani, M.A.

Penerbit : Diva Press

Cetakan          : Oktober, 2021

Tebal : 228 halaman

ISBN : 978-623-293-532-7

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *