oleh

Sandra yang Terwakili

Oleh : Ahmad Zul Hilmi

Hari ini saya tidak masuk kerja. Belum genap seminggu keluarga kami di rundung duka. Akhir-akhir ini aku juga sering memikirkan akan kepergian saudara kandung. Saya hanya berdiam diri di kamar. Tak ingin menampakkan wajah yang bermuram durja pada semua orang. Saya tidak memasak. Keluarga besar masih di sini sampai manujuah hari untuk mandoa.

Tiga orang anak yang masih berusia enam tahun paling besar. Empat tahun anak kedua dan si bungsu masih berusia sebelas bulan. Melihat tawa dari anak kecil yang belum mengerti apa-apa saya tertegun. Masih tidak percaya disaat usia mereka masih belia sudah ditinggal Mbak Intan. Si bungsu belum lepas nyusu sudah ditinggal mbak Intan. Si sulung juga belum pernah merasakan diantarkan mamanya untuk pergi sekolah juga sudah ditinggal, apalagi si tengah.

Tiba-tiba saya ingin mendekap rindu dan mencabar takdir. Kenapa cepat sekali berubah menjadi temaram. Tangisan pekik tak bersuara. Tubuh lunglai. Air mata terburai.

Apa yang terjadi. Hari ini masih hari ke enam kepergian mbak Intan. Belum seharusnya untuk manujuah hari. Ya wajar saja orang ramai ke sini, tetapi apakah mereka tak mengetahui jika kami sedang berduka. Semua orang kampung dan keluarga Mas Aga berdatangan. Mungkin saja mereka semua ingin mempersiapkan untuk manujuah hari.

Terdengar derap yang sangat menggema menuju kamarku. Ada apa ini, siapa yang akan memasuki kamarku. Perlahan raga menyudut pada tepian kamar.

“Sandra keluar sebentar nak, ada yang ingin ibu sampaikan.” Sorak ibu dari luar kamar.

Lumayan lama juga ibu mengobrol denganku. Tanpa jelas maksud dan tujuannya, yang jelas ibu berkata “dandan yang cantik dan rapi kita semua akan berkumpul di luar, adikkmu juga sudah ibu beritahu.”

Aku betul-betul bingung. Sembari menatap ranjang tidur di sudut kamar. Sumber energi di saat lelah. Setelah bersiap, kubalikkan badan dan segera keluar.

Seorang gadis yang berpawaras ayu dengan senyum merekah menarik perhatianku. Seorang gadis yang selama ini tak pernah aku lirik dengan rasa seperti ini. Apakah gadis ini tak akan menikah sepanjang hidupnya, atau siapakah yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.

Mentari garang memancarkan sinarnya. Ini yang garang mentari atau hatiku. Beberapa kornea mata menatapku dengan penuh romansa. Bak nirmala yang dieluh-eluhkan dan didambakan.

“inilah wanita anindhita yang akan mendidik cucu-cucuku nantinya.” bisik Pakde Icang pada orang disebelahnya.

Apa maksud mereka semua. Apa pula maksud bisikan yang keras itu. Apakah mereka ingin pragmatik kepadaku. Dengan memberikan sedikit semiotika yang berujung pada pengucapan fonem dan morfem dengan frekuensi yang tinggi. Ibu juga, kenapa aku seperti terperanggap dalam keheningan pertemuan keluarga ini.

“Sandra.” iya Bu.

“Seperti sama-sama kita ketahui jika mbakmu telah beristirahat dengan tenang dan semoga ditempatkan pada sisi terbaik.” ujar ibu.

“Jadi maksud ibu bagaimana?” Sandra penasaran.

“Anak mbakmu kan juga masih kecil-kecil dan mereka tentunya akan merindukan juga sosok seorang ibu.”

“Jadi maksud ibu bagaimana?” pertanyaan yang sama kembali.

“Sandra, Sandra!” ibu menggeleng-gelengkan kepala.

“Kau ini betul-betul tidak mengerti atau tidak ingin mengerti yang betul-betul.” nada suara ibu meninggi.

Mas Aga berdiri untuk menengahi “ Jadi begini Sandra, mas tidak bisa untuk berromansa, sebab mas sedang masygul semenjak kepergian mbakmu. Bagi mas, kamu adalah wanita anindhita untuk menggantikan posisi mbakmu, untuk merawat anak-anak mas yang juga keponakan kandungmu. Mas juga tahu kau juga sedang lara hati, repui dan hancur basirah semenjak kepergian mbakmu. Jadi mas tak ingin terlalulu berkata panjang lebar. Maukah Sandra ganti lapiak untuk mbakmu?”

Sandra terbungkam. Ia tak bisa membayangkan, dan juga belum bisa menjawab. Sandra takut jawabannya akan menyinggung perasaan Mas Aga. Bagaimanapun, anak Mas Aga juga ponakan kandungnya. Jangan sampai jawabanya memutus silaturahim yang selama ini terjalin. Hidup ini bukan gim yang jika game over akan bisa dimulai kembali.

“Maaf sebelumnya mas, beri saya waktu tiga hari, setelah tiga hari mas dan keluarga kesini lagi untuk menjemput jawabanya.”

Nestapa amat sangat mengerubungi Sandra. Belum ganjil tujuh hari kepergian mbaknya. Ia tahu jika anak-anak Mbak Intan masih kecil dan butuh sosok seorang ibu. Setidaknya selesaikan dulu manujuah hari,  jika harus ganti lapiak setelah itu pun juga bisa kembali dibicarakan.

Kelurga besar Mas Aga pulang ke rumah. Mas Aga tetap disini dengan anak-anaknya untuk persiapan manujuah hari esok. Semua terdiam. Sandra diinterogasi ibu dengan tatapan sinis. Tak ubahnya aparat yang sedang menginterogasi pelaku curanmor dan narkotika.

Beribu pertanyaan interogasi. Ibu sepertinya tidak paham, disini juga masih ada Mas Aga. Semua ini kan juga bisa dibahas ketika selesai manujuah hari dan setelah  Mas Aga pulang ke rumahnya. Sekarang bukan saat yang kondusif sebab Mas Aga masih di sini.

Kenapa semua orang menghakimiku. Aku kembali duduk ditepian ranjang sebelah barat daya sembari menatap foto Mbak Intan. Memang di sistem adat Minangkabau ganti lapiak bisa dilakukan dengan saudara kandung istri ketika istri telah meninggal dunia.

Terima kasih kami sekelurga ucapakan kepada semua yang berkenan hadir serta mendoakan. Mas Aga pun telah selesai memberikan ucapan terima kasih pihak yang telah hadir. Ritual semacam ini biasa dilakukan untuk mendoakan yang telah meninggal dan biasanya dilakukan setelah selesai sholat isya, ada yang datang sebelum isya. Bahkan ada yang datang sebelum petang, terutama perempuan untuk membantu persiapan. Lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Adat salingka nagari. Setiap daerah ada yang berbeda cara pelaksanaannya tetapi satu tujuan dan maksudnya.

Tiga hari selepas manujuah hari  Sandra harus memberikan jawaban. Pagi ini ibu masak yang enak dan kami pun sarapan dan berbicang. Selepas makan, Sandra pun menuju kamar. Selang beberapa waktu ibu datang membawakan cemilan dan air minum dengan stok yang banyak. Selepas itu, ibu pergi dan terdengar suara pintu yang dikunci dari luar.

“Jangan dikunci Bu.” Sandra bersorak.

Ocehan Sandra tak digubris ibunya. Sandra lantas mencari jalan keluar dan memgambil tas jinjing. Dia melangkah. Tak tahu akan kemana, sebab pintu di kunci. Jika lewat jendela tidak bisa, karena ada teralis besi yang menghalangi.

Bukan Sandra jika tidak ada ide yang brilian. Ibu telah salah mengurung seorang petualang. Obeng bunga penyelamat. Dengan telaten, cekatan dan penuh hati-hati teralis jendela terbuka. Sandra melompat membawa tas jinjing.

Apa boleh buat, ibu telah menanti di depan. Mas Aga juga telah datang. Caranya benar tetapi terlambat. Sandra memberontak. Bukan ia tidak sayang kepada mbak dan keponakannya. Ia juga tahu jika ganti lapiak adalah tradisi yang dilakukan jika saudara kandung perempuannya meninggal.

Sandra tak ingin menghianati kekasihnya. Ia sudah dilamar dan dua bulan lagi mereka akan menikah. Aku tidak egois. Aku hanya tidak ingin ada hati lagi yang harus tersakiti.

“Biar aku saja yang menggantikan Mbak Intan untuk jadi sosok ibu untuk anak Mas Aga.” Nadia sembari berjalan menuju kearah kami.

“Apa-apaan kau Nadia, kau masih belia, masa muda harus kau nikmati. Putting susumu juga belum berair.” Ucap seorang tetangga dengan nada tidak senang.

Nadia tidak membalas cacian tentangga itu. Kami semua menunduk. Satu- persatu meneteskan air mata di pipi.  Ibu pun memeluk Nadia, serta meminta maaf kepada kami. Ibu berharap tangisan yang terkumpul pada kelopak mata kami adalah air mata kebahagian untuk Mbak.

Padang. Mei 2020

Ahmad Zul Hilmi, Lahir di Padang 06 April 1997. Merupakan mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Buku yang sudah terbit Bukan Hanya Sepatu Kanan tahun 2019.

 

Komentar

News Feed