oleh

Sang Pembawa Risalah

Meskipun para orang tua di perbatasan Baduy Luar dan Rangkasbitung sudah memberi nama anak-anak mereka dengan istilah Islam, seperti Sahrudin, Saifullah atau Abdul Hamid, tetapi kebiasaan orang-orang Baduy melakukan praktik kesyirikan masih merajalela di sekitar itu. Keluarga Ustaz Arif menyebut mereka dengan julukan “musyrik” terutama ketika mereka gemar menaruh rupa-rupa sesajen di bawah pohon tua, sambil melafalkan mantra-mantra berbahasa Sunda Kawitan bercampur Jawa dan Arab.

Ustaz Arif pernah mengajar di suatu pesantren di daerah Tangerang, begitupun ayahnya pernah menjadi guru agama di sekolah Aliyah. Karena itu, memberi pengajaran tentang Islam adalah tugas dakwah yang menjadi tanggung jawab turun-temurun demi menjaga keutuhan dan kemurnian Islam dari pengaruh-pengaruh kesyirikan.

Meskipun dituduh sebagai pihak yang bersekongkol dengan penjajah, Ustaz Arif tetap konsisten memberi penerangan bagi orang-orang yang berada dalam kegelapan, terlebih mereka yang disebut masyarakat Baduy Dalem. Kebanggaan sebagai mayoritas muslim hari ini takkan terwujud jika tanpa dukungan dari leluhurnya di masa yang lalu.

Tetapi di sisi lain, menegakkan nilai-nilai Islam secara murni dan konsisten bukanlah perkara mudah. Konon, godaan dan gangguan terus-menerus datang silih berganti, terutama dari wilayah Lebak Selatan, Gunung Karang hingga Gunung Pulosari. Cerita-cerita angker berbau mistis dan sakral dari wilayah Baduy Dalem menjadi hantu-hantu masa kecil dalam perjalanan hidup Arif.

“Coba bayangkan, anak-anak balita disuruh berjalan kaki sepanjang puluhan kilometer dalam acara Seba Baduy. Mereka tidak mengeluh capek atau lelah, tanpa mengenakan sandal maupun alas kaki apapun,” kata guru agama Arif sewaktu SD.

“Tapi kalau kakinya menginjak paku atau beling, bagaimana Pak?” tanya seorang murid.

“Tentu saja orang tua mereka tahu cara pengobatannya,” jawab guru.

Namun, sebagian murid merasa kurang puas dengan jawaban itu. Mereka bertanya-tanya dalam hati, kekuatan dari mana yang bisa menghentikan aliran darah yang mengucur deras karena luka. Termasuk yang menopang tulang-tulang kaki anak-anak balita yang berjalan tanpa mengeluh atau minta digendong oleh orang tua mereka.

Kakek  Ustaz Arif  pernah bercerita tentang bagaimana orang-orang Baduy itu menghadang sepasukan tentara Jepang yang ingin menduduki wilayah Lebak Selatan. Karena merasa kelelahan,tentara Jepang menggempur pemukiman mereka dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Konon, seorang pejuang dari mereka, dengan bersenjatakan golok, pernah juga membunuh lima orang tentara Belanda sewaktu penjajah Belanda memperluas wilayah kekuasaannya. Belanda frustrasi. Jalan muslihat ditempuh. Dengan berpura-pura bersahabat dan berdamai, akhirnya para pejuang dan pahlawan mereka tertangkap dan diasingkan.

Kekalahan sebelumnya pernah dialami pasukan Prabu Pucuk Umun di daerah Banten Girang, oleh para pendatang dari Cirebon yang dipimpin Sultan Hasanudin (1525). Misi penyebaran agama Islam semakin gencar. Dia memperluas kekuasaannya di wilayah Jawa bagian barat. Menurut orang-orang Islam yang hidup di zaman kakek Ustaz Arif, kekalahan pasukan Pucuk Umun tak lain merupakan anugerah Allah dengan cara membinasakan orang-orang musyrik dari muka bumi ini. Orang-orang yang merasa dirinya  dilindungi dan diselamatkan Allah, terutama mereka yang sepaham dengan kakek Ustaz Arif, tentu bersuka hati dan bersorak sorai karenanya.

Tetapi, ribuan keturunan orang Sunda Kawitan yang menghuni wilayah Baduy Dalem, terutama generasi muda mereka akan berkata tegas: “Kalah dalam pertempuran bukan berarti kalah dalam perang yang sesungguhnya. Manusia tidak berhak memonopoli kasih sayang dan kemurahan Tuhan yang dapat dilimpahkan bagi seluruh alam semesta ini.”

Kata-kata itu lebih tepat ditunjukkan kepada Ustaz Syihab, seorang pendatang baru yang ditugaskan suatu lembaga keagamaan dari Banten Utara. Ia dapat dikatakan sebagai orang Islam yang fanatik dan mudah mengkafir-kafirkan orang Baduy yang melakukan praktik ritual di bawah pohon tua. Ia menolak cara-cara santun yang ditempuh Ustaz Arif, karena baginya, tak ada orang Baduy yang memiliki gen religius hingga mudah diajak kepada akidah Islam.

Sedangkan Ustaz Arif sendiri senantiasa mengingat anjuran dari kakeknya bersama tokoh berpengaruh di zaman Presiden Soekarno, bahwa upaya untuk mengislamkan orang Baduy mesti dengan pendidikan agama secara intensif. Itulah yang kemudian mengilhami motto dan dasar negara mengenai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, kesabaran adalah modal utama untuk menciptakan perubahan dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

***

Tibalah tahun 1965. Peristiwa G30S terjadi. Di tahun-tahun berikutnya, Ustaz Syihab meminta pihak pemerintah agar mengirimkan guru-guru agama yang sepaham dengan dirinya. Permohonan itu langsung direstui. Bahkan, sekelompok tentara yang baru mengenal Islam didatangkan pula dari Jakarta, atas perintah langsung dari Presiden Soeharto. Anak-anak diajarkan untuk menjauhi segala praktik kesyirikan. Orang-orang tua, tanpa kecuali, harus memeluk agama resmi yang diakui negara. Mereka yang memeluk agama dari leluhurnya dengan nama “Slam Wiwitan” harus jelas-jelas menyatakan pengakuan dirinya sebagai pemeluk Islam yang konsekuen.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Ustaz Syihab yang sangat dekat dengan kekuasaan. Ditugaskanlah beberapa camat dan lurah fanatik, serta ratusan tentara ke wilayah perbatasan Lebak Selatan. Para pemuda direkrut jadi anggota pertahanan sipil (hansip) yang kemudian dipakai sebagai ujung tombak penertiban bagi mereka yang masih melakukan praktik kesyirikan. Atas nama negara, dengan dukungan penuh aparat militer, mereka melarang semua ekspresi budaya serta memberangus simbol-simbol kesyirikan.

Bagi Ustaz Arif, selama tradisi mereka tidak bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai keislaman, biarkanlah untuk tetap hidup. Misalnya, kemahiran dalam tradisi bertenun, bercocok-tanam, ciri khas perkampungan dengan rumah-rumah susun tradisional, kesenian, pengobatan herbal dan lain-lain.

Akhirnya, masyarakat di perbatasan Baduy Luar dan Dalem terbelah menjadi dua kubu. Generasi muda yang memihak Ustaz Syihab berseberangan dengan mereka yang memihak Ustaz Arif. Sebagian generasi muda menentang generasi tua yang secara diam-diam masih mempraktikkan tradisi leluhur. Otoritas tradisional hancur. Lahir struktur dan kelas sosial baru yang dikendalikan oleh elit-elit agama yang menginduk pada otoritas lembaga pemerintahan.

***

Kemarau panjang terjadi di tahun 1977. inflasi dan kenaikan harga beras menjadi problem serius bagi pemerintahan Soeharto. Ustaz Syihab ditugaskan menjadi guru agama di sekolah Aliyah yang terletak di perbatasan Baduy Luar. Ia dipromosikan memimpin pesantren yang rencananya akan didirikan pihak pemerintah di wilayah Lebak Selatan. Tetapi, musim panas dan gagalnya panen di seluruh wilayah Jawa membuat pendirian pesantren itu tertunda.

Bagi  Ustaz Syihab, kemarau panjang di tahun itu bagaikan kutukan. Pohon-pohon menguning sampai ke punggung-punggung bukit. Permukaan tanah pecah-pecah akibat panas. Terik, debu, dan angin kemarau membuat bibir mengering, bahkan mata menjadi perih. Pada awal  Desember 1976, mestinya para petani sudah kembali bertanam, tetapi hingga awal Januari 1977 belum juga ada tanda-tanda hujan akan turun. Jika tanam terlambat, dan sebagaimana biasa ketika pertengahan Maret hujan mulai berkurang, dapat dipastikan panen akan gagal.

Orang-orang mendatangi Ustaz Arif agar sekiranya ia menjadi imam untuk memimpin salat Istisqa (meminta hujan). Tetapi, Ustaz Arif  tidak mau melangkahi kewenangan Ustaz Syihab sebagai tokoh agama yang ditugaskan pihak pemerintah. Seketika itu, di masjid paling besar di perbatasan Baduy, Ustaz Syihab memimpin salat Istisqa, yang dimakmumi oleh ribuan penduduk dari daerah Ciboleger, Kanekes, Cibeo, Cikeusik dan perkampungan Baduy lainnya.

Tetapi ironisnya, setelah berhari-hari seusai salat Istisqa,  masih juga belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Justru cuaca makin panas menyengat. Pohon-pohon nyaris tak punya lagi daun, bahkan tidak sedikit yang benar-benar mati.

Setelah hari ke-9, terhitung sejak pelaksanaan Istisqa, tiba-tiba ratusan orang Baduy berdatangan dari wilayah Baduy Dalem menuju perbatasan. Kerumunan itu berhenti di sekitar pohon besar yang mungkin usianya sudah ratusan tahun. Seorang pu’un (tetua adat) mengenakan baju putih dan ikat kepala berjalan mendekati pohon, lalu memercikkan air putih pada batang pohon. Kemudian ia memimpin doa berupa mantra-mantra berbahasa Sunda Kawitan yang diikuti pula oleh para pengikutnya.

“Apa yang mereka lakukan, Ustaz Arif?” tanya Ustaz Syihab marah.

“Mereka sedang melakukan ritual untuk meminta hujan,” kata Ustaz Arif tenang.

Astaghfirullah, ini tidak benar, Ustaz Arif… ini perbuatan syirik!”

Karena ritual itu dilakukan di daerah perbatasan, dan orang-orang Baduy Dalem tak mau dianggap sebagai suku yang mengisolasi diri, maka ritual minta hujan itu boleh diabadikan oleh wisatawan, wartawan atau siapapun yang mau menyaksikannya. Sambil mengikuti rapalan mantra yang dibacakan sang Pu’un, dalam pandangan Ustaz Syihab, kerumunan ratusan warga itu layaknya anak-anak TK ingusan yang baru belajar surat alfatihah.

Namun, setelah mantra-mantra dibacakan, lalu beberapa orang maju ke depan untuk menaruh sesajen dalam beberapa nampan yang terbuat dari anyaman bambu, tiba-tiba sepotong awan kecil dari arah laut selatan, bergerak pelan-pelan seolah dipanggil dan menarik sejumlah besar awan yang entah dari mana. Dalam hitungan jam, bahkan hanya beberapa saat setelah orang-orang Baduy itu melangkah ke kampungnya, tiba-tiba hujan lebat mengguyur. Saking lebatnya sampai-sampai air mengalir mengubur panas kemarau yang amat panjang.

Ustaz Syihab berdiri melongo dengan pandangan menerawang. Hatinya bergemuruh sambil bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan orang-orang kafir dan musyrik itu. Mengapa Tuhan justru lebih bermurah hati pada mereka, bukan pada dirinya dan jamaahnya? Ia teringat kisah-kisah mukjizat dalam Alquran, ketika kapal Nabi Nuh mengangkuti orang-orang dari banjir, bahkan tongkat Nabi Musa membelah lautan ganas. Tetapi kali ini, mengapa yang terbebas dari keganasan itu justru orang-orang musyrik? Dilakukan oleh orang-orang musyrik bahkan dipimpin oleh kepalanya orang musyrik?

Dengan wajah memelas, Ustaz Syihab melangkah pelan menuju rumahnya sambil bergumam, “Bagaimana ini, dalam hitungan jam permintaan mereka terkabulkan. Awan-awan bermunculan lalu hujan lebat segera turun dari langit… kepada siapa sebenarnya Tuhan berpihak…?”

Dua bulan kemudian, meskipun curah hujan sering mengguyur wilayah Lebak Selatan dalam beberapa minggu terakhir, orang-orang Baduy Dalem masih juga mendatangi pohon tua itu sambil menaruh rupa-rupa sesajen. Suatu ketika, Ustaz Arif memergoki Ustaz Syihab yang turut serta menaruh sesajen berupa jeroan kambing dan satu tandan pisang, seraya melafalkan ajian-ajian mantra yang entah dari mana.

“Maaf Ustaz,” tegur Ustaz Arif, “saya kira Ustaz berpendapat bahwa peristiwa turunnya hujan beberapa minggu lalu, karena Allah mengabulkan permintaan kaum muslimin dalam salat Istisqa sembilan hari sebelumnya, tapi kenapa Ustaz justru menyeberang pada kepercayaan mistis mereka?”

Sambil tertunduk malu, Ustaz Syihab tidak menanggapi pernyataan itu. Kemudian, sambung Ustaz Arif, “Allah menahan hujan itu untuk menguji kekuatan iman kita. Sedangkan orang-orang yang kuat imannya, adalah mereka yang tidak mudah diajak kepada praktik-praktik kegelapan, hanya dengan sedikit kesulitan hidup yang dialaminya.”

Ustaz Syihab membenarkan ucapan Ustaz Arif, dengan pandangan menerawang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Oleh: Chudori Sukra  (Kolumnis , Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang)

 

 

Komentar

News Feed