Sangat Butuh Relawan Nakes, Link Pendaftaran Tidak Bisa Diakses

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) KURANG DIPERCAYAI: Lulusan sekolah kesehatan di Sampang banyak jadi relawan di Bangkalan, Pemkab Sampang diminta mengevaluasi proses pendaftarannya.

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Pernyataan banyak lulusan sekolah kesehatan yang menolak jadi relawan tenaga kesehatan di beberapa fasilitas kesehatan di Sampang, mendapat respon dari alumni sekolah kesehatan di Sampang.

Proses pendaftarannya disebut hanya terkesan formalitas, tidak tersistem dan terkesan kurang serius.  Bahkan, jika dinilai dari sistem pendaftaran, tidak bisa dipercayai. Sehingga pemerintah daerah diminta mengevaluasi proses pendaftaran relawan nakes Covid-19 tersebut

“Sangat disayangkan alur pendaftaran relawan ini, karena tidak jelas,” ucap Nurul Qomariyah, lulusan D3 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Nazhatut Thullab Sampang.

Berdasarkan pengalaman Nurul, rekannya sempat mendaftar jadi relawan di Rumah Sakit Ketapang. Dia dimintai KTP, setelah itu tidak ada konfirmasi lagi. Bahkan pendaftaran relawan di RSUD dr. Mohammad Zyn hanya melalui link, ketika link dibuka tidak memberikan layanan, atau tidak bisa diakses.

“Jadi, kalau pemerintah membutuhkan relawan Covid-19, harus evaluasi dong cara pendaftarannya, baik dari segi persyaratan dan honor relawan,” katanya, Rabu (14/7/21).

Kemudian, untuk pendaftaran di RSUD Ketapang melalui pesan whatsapp dengan syarat menyetor kartu tanda penduduk (KTP), setelah itu tidak ada konfirmasi lagi. Jadi pendaftaran relawan Covid-19 dianggap tidak serius.

Sekjen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sampang itu menambahkan, saat ini banyak alumni sekolah kesehatan asli Sampang menjadi relawan Covid-19 di Kabupaten Bangkalan. Hal itu diklaim salah satu bukti bahwa peminat untuk mendaftar jadi relawan Covid-19 banyak.

Namun, karena pendaftaran di Sampang tidak jelas, akhirnya alumni sekolah kesehatan asli Sampang menjadi relawan di luar Sampang.

“Peminatnya banyak, buktinya kurang lebih 10 orang asli Sampang jadi relawan Bangkalan. Ini semua karena pendaftaran relawan di Sampang tidak jelas,” imbuhnya.

Sebelumnya, kurangnya nakes di beberapa fasilitas kesehatan (faskes) di Sampang, utamanya yang menangani pasien Covid-19, ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Sampang dengan membuka rekrutmen relawan. Namun setelah dibuka, disebut tidak ada yang mendaftar. Alumni sekolah kesehatan yang direkrut langsung juga disebut banyak yang menolak.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Madura, kebutuhan nakes di RSUD dr. Mohammad Zyn sebanyak 44 orang, di RSUD Ketapang sebanyak 70 orang. Kemudian, di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) yang akan dijadikan rumah perawatan pasien Covid-19 dan Rumah Sakit Lapangan Wijaya, masing-masing membutuhkan tambahan 20 tenaga medis.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Sampang, Agus Mulyadi menyampaikan, proses pendaftaran relawan dilihat dari latar belakang pendidikannya terlebih dahulu. Adapun untuk teknis dan sistem pendaftarannya diserahkan kepada instansi masing-masing.

“Tentu dari pihak RSUD dr. Mohammad Zyn dan RSUD Ketapang berbeda. Untuk teknisnya diserahkan ke pihak terkait, yang jelas relawan ini harus segera didapat,” singkatnya. (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *