oleh

Sanggar Madusekar Bertahan dari Gerusan Seni Modern

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Kesenian lokal Madura, sejatinya sangat beragam. Namun, seiring dengan perkembangan dunia teknologi dan industri hiburan, sejumlah kesenian dan kebudayaan lokal madura, banyak yang mulai ditinggalkan generasi penerusnya.

Konsistensi untuk mengembangkan dan melahirkan generasi seniman lokal madura, menjadi perhatian dari Sanggar Madusekar. Sanggar yang lahir pada 1989 tercatat telah melahirkan sejumlah seniman pecinta seni dan budaya lokal Pamekasan.

Pendirinya, M. Saleh saat ini sudah almarhum. Namun,  Sanggar Madusekar tetap berlanjut hingga kini dengan pembina Suparman Rumanto dan diketuai Nur Megawati.

Diakui Suparman,  Madusekar menghadapi tantangan besar di tengah kecepatan teknologi informasi. Tantangan tersebut diakuinya jangan sampai menjadikan langkah surut, namun harus beradu cepat dalam menyuarakan budaya lokal.

“Karena saat ini beragam tantangannya. Seni modern dan juga musik modern sudah menjadi menu sehari-hari generasi muda. Kami harus selalu berinovasi agar kecintaan warga Madura, tetap tertanam,” ungkap Suparman.

Karenanya, pihaknya tetap giat setiap tahunnya dalam mengadakan pelatihan kesenian dan karawitan untuk menularkan kepedulian dan kecintaannya terhadap seni dan budaya Madura khususnya Pamekasan.

Sanggar Madusekar sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan seni budaya khususnya musik gamelan, selalu berupaya melakukan strategi agar creator atau pengrawit melakukan perubahan menuju kekinian.

Madusekar berprinsip, agar musik gamelan bisa diminati oleh semua lapisan masyarakat termasuk generasi muda perlu upaya membuat kreasi karya music gamelan kekinian sehingga bisa ditampilkan lebih energik, tetapi tidak tercerabut dari akar seni budaya gamelan itu sendiri.

Upaya yang telah dilakukan di antaranya yaitu memperbanyak frekuensi pertunjukan di event yang melibatkan generasi muda seusia sekolah SD,SMP,SMA dan perguruan tinggi. Selain itu juga melaksanakan pementasan music etnis sebagai inovasi musik tradisional.

Bagi Suparman, musik gamelan sebagai seni budaya perlu mendapat perhatian karena kenyataannya music gamelan dalam perkembangannya tersendat-sendat, terlebihb saat generasi muda sedikit yang menggemarinya.

“Ada banyak alasan, kurang antusias, karena jenis musik gamelan ini irama permainannya terkesan ajek, slow, identik dengan kuno dan lain-lain,” sesalnya. (ali/bri)

Komentar

News Feed