oleh

Santri Nuba Tingkatkan SDM dan Jaga Persatuan dengan Kanal Youtube

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Mindset menjadi salah satu kunci perubahan seseorang ke arah yang lebih maju. Hal itu juga bisa dialami masyarakat desa. Dengan mengubah cara berpikir mereka, maka masyarakat akan semakin berkembang. Banyak cara untuk mengubah pola pikir mereka, salah satunya seperti yang dilakukan oleh tim kanal youtube Nuba Official yang dimotori oleh kalangan santri. Nuba sendiri kepanjangan dari Nurut Thullab Bangsal, salah satu lembaga pendidikan yang berlokasi di Desa Gunung Eleh, Dusun Bangsal, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.

Keberadaan kanal youtube tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat sekitar agar berpikir positif. Selain itu, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendidikan dalam hidup mereka.

Perintis kanal youtube Nuba Official, Moh. Hosen menyampaikan bahwa inisiasi pembuatan kanal tersebut dilatarbelakangi oleh keadaan masyarakat di desanya. Karena, realitanya masih banyak masyarakat yang kurang paham terkait urgensi pendidikan.

Selain itu, kanal itu untuk membangun kreativitas anak-anak desa. Apalagi saat ini sudah memasuki era digital. Di mana semua segala kreativitas anak muda bisa terwadahi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Di sisi lain, keberadaan channel tersebut diharapkan bisa membuat masyarakat desa semakin inovatif dan peka terhadap perubahan zaman. Adanya kanal youtube Nuba Official itu juga menjadi sarana membangun desa agar lebih baik lagi.

“Tim kami merupakan santri Nurut Thullab Bangsal (Nuba).  Kami mulai membuat konten di kanal itu tahun 2020 kemarin, alhamdulillah subscribernya lumayan banyak, meski hitunganya masih baru,” tuturnya, Minggu (14/2/2021).

Ia menyampaikan bahwa  pengelolaan kanal youtube tersebut untuk mendidik masyarakat melalui film pendek. Di samping itu, kanal youtube Nuba Official juga dibuat untuk menjaga dan meluruskan budaya dan tradisi Madura yang sudah menyimpang. Seperti adanya adanya peribahasa, “Pote tolang lebbi bhegus etembeng pote mata”. Pemahaman terkait peribahasa itu perlu diluruskan, karena dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bagian tradisi Madura. Inti peribahasa tersebut menempatkan harga diri di atas segalanya. Padahal jika diikuti, bisa condong ke arah negatif. Ia menambahkan bahwa keberadaan kanal tersebut untuk menjaga kerukunan masyarakat dan sekaligus meningkatkan SDM.

Sementara itu, tim yang tergabung  berjumlah 10 orang, dan dari jumlah itu, tiga di antaranya sudah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Adapun sisanya ada yang masih sekolah menengah pertama (SMP), dan ada yang  di tingkat madrasah ibtidaiyah (MI).

“Alhamdulillah, mungkin karena konten-konten youtube tersebut, sebagian telah sadar akan pentingnya pendidikan, terbukti, saat ini sudah ada tiga orang  yang kuliah, pungkasnya. (mal/maf)

Komentar

News Feed