Santri Warrior, Bentuk Organisasi untuk Ubah Stigma Negatif Madura

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MANDIRI: Salah satu anggota santri warrior saat mengantarkan pesanan di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Bangkalan.

KABARMADURA.ID – Bertekad Tetap Hidupi Organisasi dengan Dana Mandiri

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Bacaan Lainnya

Niat melepaskan Madura dari belenggu stigma negatif, menjadi semangat yang selalu dikobarkan oleh Santri Warrior. Salah satunya dengan upaya mengembangkan organisasi yang mandiri dan mengoptimalkan pengabdian dalam segala yang dapat mengembangkan Madura menjadi daerah yang dipenuhi energi positif.

Santri Warrior digagas menjadi organisasi dan gerakan pemuda, dimulai dari keinginan empat pemuda yang saat itu tengah menikmati hidangan kopi hangat di tepi laut. Dengan niat mengabdi dan menstabilkan pendidikan, para pemuda itu berharap bisa memiliki kontribusi mengubah dan menjadikan masa depan Madura lebih cemerlang.

Salah satu inisiator Santri Warrior, Mashudi menyampaikan, saat para pemuda tidak bergerak dari kebiasaannya yang membosankan, maka di sanalah kontribusi pemuda di Madura dapat diukur.

“Kalau masa muda kita ini tak bisa berbuat banyak, lalu bagaimana nanti di masa tua,” katanya.

Menurut Mashudi, berbagai gerakan penyadaran harus dilakukan. Dengan membidik pemuda dan remaja desa sebagai objek. Dengan meyakinkan bahwa setiap manusia Madura harus merdeka dari urusan carut marut kekerasan yang dilabeli orang-orang di luar Madura.

“Saya tidak ingin Madura menjadi label merah hanya karena kebiasaan buruk yang sebenarnya bisa terjadi di mana saja di luar Madura,” tutur Mashudi.

Dalam mengubah itu, Santri Warrior memiliki teknik. Namun tetap butuh dana dalam bergerak. Keduanya bersinambung untuk mencapai tujuan dimaksud. Terlebih, mereka enggan Santri Warrior hanya bersifat sementara.

Mereka menghidupi organisasinya dengan menempuh usaha penjualan berskala mikro. Kemudian merambah menjadi koperasi. Kini modal diklaim hampir cukup.

Ke depan SW juga akan menginisiasi setiap anggotanya untuk menentukan langkah serupa di setiap kabupaten yang berbeda. Setelah menjadi organisasi yang mandiri, akan memulai dengan berjuang dari bidang pendidikan, agar proses mengubah stigma negatif itu akan lebih mudah dijangkau.

“Asal semangat ini masih ada, dan masih jauh dari kata menyerah, kami rasa kami mampu mewujudkan semua mimpi ini,” tutup Mashudi. (hel/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *