oleh

Sastra Akan Menyembuhkan Penyakit Anda!

–         Muhamad Muckhlisin (Kritikus sastra, pemenang lomba cerpen nasional pada 2017, yang diselenggarakan Rakyat Sumbar)                    

Tidak mudah memahami karya-karya Pramoedya Ananta Toer dalam konteks gaya bahasa anak-anak muda sekarang. Di samping banyak serapan dari bahasa Melayu, tidak kalah istilah-istilah Jawa berhamburan di sana-sini, karena memang Pramoedya tidak lepas dari tanah Jawa kelahirannya (Blora) dengan beragam lika-liku kekuasaan keraton di dalamnya. Beda dengan tulisan esai-esainya yang terus mengikuti arus perubahan, serta evolusi perkembangan bahasa Indonesia hingga saat ini.

Cara bertutur Pramoedya memang beda dengan Gerson Poyk, yang terkenal dengan salah satu karyanya, “Matias Akankari”. Gaya bahasa dari sastrawan kelahiran Pulau Rote (Nusa Tenggara Timur) ini laiknya anak-anak muda masakini yang menggemari karya sastra kontemporer. Ketika bicara kemiskinan dan kemelaratan, dia mampu membahasakan dengan dialog-dialog yang unik, jenaka dan penuh banyolan. Tokoh-tokohnya meluncur begitu gesit dan fasih, meskipun terdiri dari-orang-orang melarat – seperti kebanyakan penulis kita – tapi dia mampu melihat dari perspektif yang berbeda ketimbang kebanyakan penulis yang terbenam dalam penderitaan.

“Saya mendambakan adanya penulis Indonesia yang mampu bertutur laiknya Mark Twain atau Steinbeck. Mereka mampu menampilkan wajah-wajah marjinal yang lugu dari kalangan politisi, tapi sanggup menggambarkannya secara gagah dan jenaka,” kata salah seorang sastrawan kita, A.S. Laksana.

Memang tidak mudah menggarap karya sastra, dengan kesanggupan melihat sudut pandang jenaka dan penuh banyolan, dari kehidupan orang-orang miskin dan melarat. Kebanyakan penulis justru membiarkan dirinya terhanyut dalam melodrama. Dalam hal ini Mark Twain sendiri mengakui, “Adalah pekerjaan langka dan unik, bila pengarang mampu menampilkan sisi jenaka dari kehidupan orang-orang miskin, tanpa mendakwahkan dan mengeksploitasi mereka sebagai penguras air mata.”

Itulah yang tergambar pada karya Gerson Poyk, baik yang berjudul Matias Akankari, Oleng-Kemoleng, atau Surat-surat Cinta Rajagukguk. Dalam “Matias Akankari” dia melukiskan suasana Jakarta dengan karakter manusia-manusia yang mirip kehidupan suku-suku Baduy Banten atau suku pedalaman di Irian Jaya. Gerson menggugat ranah kehidupan modern Jakarta, tapi sanggup menampilkannya sebagai banyolan dan lelucon, bahkan sebagai ironi, bahwa apa yang dinamakan hidup modern sama primitifnya dengan karakter-karakter manusia pedalaman. Yang membedakan hanya pakaian orang-orang Irian Jaya yang berupa cawat dan koteka.

Di sisi lain, memang sulit bagi generasi muda untuk melihat sisi yang jenaka pada karya-karya Pramoedya. Tapi sebagai sastrawan besar dia berhasil menggambarkan sisi ketidakadilan penguasa dengan kekayaan metafora dan harmoni peristiwa-peristiwa tragis yang dituturkan secara integral dan menyeluruh. Jadi memang berbeda, antara karya sastra yang menggugat ketidakadilan, dengan situasi masyarakat yang nasib hidupnya miskin dan melarat akibat dari pilihan-pilihan untuk berpijak pada mitologi dan mindset lama yang sulit ditembus perubahan. Tipikal masyarakat ini, ketika diajak berubah untuk maju, tetap saja ngotot, merasa adem-tentrem dengan kondisi hidupnya yang mirip dengan manusia-manusia suku purba pedalaman hutan belantara. Hanya ada sedikit perbedaan, yakni sudah ada jalan-jalan aspal, supermarket dan mal-mal, hingga Starbucks, McDonald’s, CFC dan seterusnya.

Dalam suatu wawancara tentang proses menulis kreatif, Gerson Poyk dengan lugas menyatakan bahwa panggung politik Indonesia tak ubahnya sebagai realitas “panggung sandiwara”. Ya, okelah kalau begitu. Jika dunia politik kita diibaratkan panggung sandiwara, mari kita bertanggungjawab untuk menampilkan panggung yang terbaik, agar menjadi contoh dan teladan bagi khalayak.

Di sisi lain, tidak sedikit sastrawan yang secara terang-terangan berpendapat bahwa kita harus jujur menyatakan apa adanya tentang hakikat kekinian dan keindonesiaan. Tentang penderitaan rakyat, tentang marjinalitas, kemiskinan, kebodohan, yang secara struktural diakibatkan ulah kaum politisi. Namun di sisi lain, muncullah pertanyaan yang tidak kalah kritisnya, mengapa para politisi yang tampil sebagai penguasa juga tidak kalah marjinalnya dengan rakyat jelata, baik secara mental maupun secara spiritual dan kedewasaan.

Inilah problem kita semua, di mana para penulis sah-sah saja mengangkat sudut-sudut Indonesia dari perspektif yang berbeda, sebagai khazanah kekayaan literasi yang harus saling bersinergi dan bergandeng-tangan. Tak ada untungnya bila saling menyudutkan dan menyalahkan, tak ada manfaatnya jika ada penulis yang ngotot memprovokasi para penulis muda agar berkubang dalam penderitaan dan kesengsaraan. Karena nasib mereka, baik keberuntungan maupun kesengsaraan, bukan kita yang menentukan, tetapi ada kekuasaan Yang Maha Memberi Rizki dan kelapangan hidup, jika saja sang penulis mau berjuang untuk terus bangkit dalam mencerdaskan dan mendewasakan rakyat Indonesia.

Saat ini, dalam suasana gegap-gempita kabar burung melalui hoax, caci-maki, teror, dan hal-hal yang begitu menekan perasaan dan pikiran kita, saya bersyukur masih ada setitik cahaya di lorong-lorong gelap. Masih ada penulis-penulis yang dengan tulus-ikhlas mau menghibur kita semua, dan memilih tidak mau menceburkan diri untuk mengajak rakyat Indonesia dalam penderitaan dan kesengsaraan.

Mungkin saja ada anggapan yang menyatakan hal tersebut adalah fasik dan munafik. Tapi bukankah kita telah sepakat bahwa hidup ini adalah panggung sandiwara. Lantas, kita sebagai individu maupun masyarakat, untuk apa membenamkan diri dalam pikiran dan perasaan yang membuat kita semakin kalut dan kalang-kabut. Bukankah semuanya itu adalah faktor internal dari bikin-bikinan otak dan kepala kita sendiri?

Setelah membaca novel Pikiran Orang Indonesia (Fikra Publishing, 2014), saya membayangkan masadepan Indonesia yang semakin memunculkan penulis-penulis generasi baru yang berjiwa merdeka, independen, tidak mau terkontaminasi oleh gaya penulisan yang miskin imajinasi dan kering akan filosofi kehidupan. Memang tidak mudah untuk berdiri di kaki sendiri, karena corak kesusastraan kita kadung diselubungi genre sastra eksistensialisme setelah runtuhnya puing-puing perang dunia kedua dan perang dingin. Tapi bagaimanapun, masyarakat berperadaban tinggi mesti merindukan cerita-cerita yang bermutu, baik cerita kehidupan sehari-hari di mana kita yang menjadi pelakunya, maupun cerita yang kita baca melalui buku-buku sastra asing. Cerita yang baik tentu akan membangun kedewasaan rakyat kita. Cerita yang memotivasi dan memberi harapan akan masadepan, tentu saja dapat membuka cakrawala kita semua, hingga memberi kebahagiaan dan ketangguhan mental.

Cerita karangan yang baik, juga akan membangkitkan efek psikologis, kepekaan psiko-histori, hingga memunculkan sikap-sikap empati dan peduli pada nilai-nilai kemanusiaan. Kita semua tahu, bahwa pendidikan anak-anak muda kita, tidak cukup di ranah kecerdasan intelektual semata. Tapi juga harus dibangun kecerdasan emosional di mana generasi muda harus terpenuhi aspek psikologisnya dalam menghadapi tantangan zaman. Saya terkenang pada buku “In the Minds of Others” (Keith Oatley) yang menjelaskan bahwa cerita karangan yang baik, serta mendalami kejadian-kejadian yang ditulis secara imajinatif, akan membangkitkan gelora kesadaran masyarakat pada kecerdasan emosionalnya. Hingga menumbuhkan rasa empati yang tinggi, serta mampu melihat bagaimana orang lain punya perspektif yang beragam.

Dalam pendidikan sastra di negeri-negeri maju, aspek kecerdasan emosional ini sangat vital. Anak-anak didik tidak hanya dicekoki pelajaran tentang tata bahasa dan teori kesusastraan, juga bukan hanya pandangan analitis tentang jalan cerita dari suatu karangan sastra. Tetapi mereka dilatih unsur interaksinya dengan semesta dan universalitas, artinya mereka dipancing respons emosionalnya, dari sebuah cerita yang dibacakan, atau dari kisah-kisah imajinatif yang mereka baca sendiri.

Kita tidak menginginkan masadepan Indonesia terus berkutat dengan cara pandang lama. Hingga ketika pola pendidikan mereka semakin baik, dan terus memperbaiki diri, selayaknya kita merasa risau dan khawatir, jangan-jangan kita akan semakin tertinggal jauh di belakang. Ironisnya, hingga saat ini, lembaga-lembaga pendidikan kita belum sanggup membangkitkan daya kritis masyarakat agar mereka menjadi generasi-generasi baru yang gemar membaca.

Padahal dengan membaca karya sastra yang baik, menurut psikolog dan psikiater terkenal Milton Erickson, seorang pasien mampu menyembuhkan diri sendiri dari penyakit apapun yang dideritanya. Rahasia kesuksesan Erickson adalah kemampuan imajinasinya dalam merangkai cerita dengan tutur kata yang baik disuguhkan untuk para pasiennya. Kekuatan bahasa mampu menembus relung-relung psikologi jiwa manusia secara lebih mendalam. Dengan merangkai cerita yang mengandung rima, irama dan metafora yang kuat, seorang pendengar atau pembaca mampu menyibak tabir-tabir gelap yang menyelubungi kesehatan jiwanya.

Tak lupa, Erickson kerap menyelipkan berbagai humor dan akendot yang terangkai dengan bahasa indah dan puitis, serta mengandung unsur kesenyawaan dan harmonium yang mudah dimengerti oleh para pasiennya. Dengan perangkat bahasa, prilaku masyarakat dapat terangkat martabatnya, disadari kekurangan dan kekhilafannya, untuk kemudian bangkit mencapai pembaharuan bersama. Melalui cerita-cerita indah nan menawan, secara tidak langsung Erickson memberikan pembelajaran kepada para pasiennya tentang bagaimana menangani situasi, mengubah perilaku, serta bagaimana mengendalikan rasa sakit. Tanpa disadari oleh para pasiennya, cerita-cerita itu merasuk ke dalam sanubari mereka, membangkitkan gairah dan daya nalar mereka, sejajar dengan situasi yang tengah mereka hadapi.

Oleh karena itu, jika suasana hiruk-pikuk politik negeri ini membuat Anda merasa sumpek dan tak nyaman, bisa jadi Anda sedang menghadapi figur-figur yang tak pandai merangkai bahasa. Atau boleh jadi Anda sedang menghadapi para pencerita yang buruk hingga membuat Anda galau dan sengsara. Atau jangan-jangan kita sedang menghadapi para pendusta yang menyusun beragam doktrin untuk menghibur kelompoknya, serta menakut-nakuti rakyat demi kepentingan politik dan kekuasaannya. ***

Komentar

News Feed