Sastra Gurnah dan Manusia Gelandangan

  • Whatsapp

Oleh: Muakhor Zakaria*) 

Aspek kebudayaan tak lepas dari persoalan adab dan keberadaban manusia di permukaan bumi ini. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa konsep manusia beradab bukanlah sesuatu yang mutlak dan final, karena suatu peradaban tak bisa menjadi ukuran kebaikan bagi peradaban bangsa lainnya. Dengan demikian, definisi peradaban pada suatu bangsa tak bisa menjadi tolok-ukur kebaikan atau keburukan bagi bangsa-bangsa di belahan dunia lainnya.

Di sisi lain, bicara tentang warna kulit atau ras suatu bangsa, erat kaitannya dengan tanah kelahiran atau kampung halaman seseorang (homeland). Permasalahan kampung halaman identik dengan persoalan perantauan atau pengungsian (displacement), bahwa seseorang yang dilahirkan di suatu tempat, belum tentu mempunyai sense of belonging terhadap tempat dan tanah kelahirannya. Dalam peradaban Islam dikenal istilah “hijrah”, ketika rasa nyaman yang diberikan Yatsrib (Madinah) memungkinkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya memandang tempat baru sebagai kampung halamannya.

Hal ini mengandung konsekuensi ketidakjelasan perihal identitas seseorang berdasarkan unsur geografisnya. Jadi, orang yang lahir di suatu tempat, belum tentu menunjukkan konsep identitas seseorang secara pasti. Dalam novel By the Sea  (2002), Abdulrazak Gurnah dengan cermat menggambarkan identitas kebangsaan yang tak bisa dipisah-pisahkan berdasarkan warna kulit, apakah hitam, putih maupun cokelat, dan sawo matang.

Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa (Pramoedya) sebenarnya lahir dari gagasan yang lebih jitu dan tajam, tetapi dalam By the Sea dan Desertion (Gurnah) lebih mendetil lagi dalam penampakan para tokoh secara eksplisit dan apa adanya. Permisalan yang disodorkan menyangkut keseharian orang-orang Afrika Timur yang (tanpa adanya paksaan) mengadopsi peradaban Barat, bahkan ada yang memilih nyaman dalam sistem peradaban yang dianutnya. Sebaliknya, orang-orang kulit putih (Inggris) banyak juga yang memilih menganut pola hidup ketimuran (Afrika), termasuk Islam sebagai agama monotheis yang dibawa penduduk Oman, kemudian dianut oleh mayoritas warga Zanzibar.

Hal ini mengingatkan kita pada karakteristik orang-orang Banten dalam novel Perasaan Orang Banten, yang meliputi orang-orang Jawa, Sunda, Cina dan Betawi, tetapi penulis menampilkan juga pendatang dari kepulauan lain seperti Padang dan Batak (Medan). Kemudian muncullah akulturasi budaya antara penganut Islam, Kristen dan Kong Hu Cu, yang berkecimpung dalam komunitas masyarakat plural yang dinamakan “wong Banten”. Jadi, persoalan kampung halaman (homeland) identik dengan soal kenyamanan, bukan hanya semata-mata soal ekonomi, keamanan dan stabilitas nasional.

Karena itu, betah atau tidak betah untuk tinggal atau “berpindah” kampung halaman, terkait dengan jaminan kenyamanan hidup atau (dalam istilah agama) jaminan keberkahan. Maka, di sinilah kita mengenal konsep “rizki” yang bukan semata-mata soal mewah maupun banyaknya uang, melainkan soal ketenangan jiwa, kelapangan hati dan kenyamanan hidup.

Pramoedya pernah menyatakan dengan jelas kepada penulis novel Pikiran Orang Indonesia (Hafis Azhari), dengan mengibaratkan orang-orang Timor-Timur sebagai “anak tiri” dari bangsa indonesia. Mereka bukan bekas jajahan Hindia Belanda, meskipun secara geografis mendekati wilayah Indonesia namun secara historis berbeda. Karena itu, Bung Karno pernah menegaskan (1945), bahwa teritorial Indonesia tidak akan memasukkan suatu wilayah yang secara administratif bukan bekas Hindia Belanda. Jadi, secara implisit Soekarno sebenarnya sudah menyinggung soal wilayah Timor Timur, dan apa yang akan terjadi setelah 25 tahun pendudukan militerisme Orde Baru.

“Akan tetapi,” tegas Pramoedya, “kalau Indonesia mampu menjadi bapak tiri yang baik bagi Timor Timur, serta memberi kenyamanan hidup bagi penduduknya, siapa yang mau memisahkan diri dari orang tua yang bijak dan arif. Kalau militer Indonesia yang ditugaskan di sana, kerjaannya tidak membunuhi dan menembaki penduduk setempat, tentu saja tidak akan timbul sikap yang resisten dan antipati terhadap dunia militer di negeri ini.”

Sebenarnya, Pramoedya lebih memperluas seting lokasi dalam skala makro (negeri kepulauan), tetapi Gurnah menampilkannya secara lebih sempit, namun sekaligus lebih simpel dan riil dalam konteks kekinian. Misalnya, ketika dia mengisahkan tentang kesemrawutan identitas manusia di salah satu penjara di Zanzibar dalam Desertion (2005), ketika para petugas memisah-misahkan napi berdasarkan warna kulit dan ciri-ciri fisik. Apa yang terjadi kemudian? Kebingungan identitas manusia semakin kentara jelas. Yang mana yang disebut warga negara pribumi Zanzibar? Bagaimana dengan para tahanan yang berdarah Oman? Lalu, yang mana orang Zanzibar yang ke-oman-omanan, ataukah orang Oman yang ke-Zanzibar-zanzibaran?

Persamaannya dengan kondisi Indonesia, jika kita mengambil sampel Banten yang multi-etnik dalam novel Perasaan Orang Banten, maka kita sulit memisah-misahkan mana orang Jawa yang ke-Sunda-sundaan, dan manakah orang Sunda yang ke-Jawa-jawaan? Selain itu, banyak kritikus sastra yang mempersoalkan, mengapa novel tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia murni, dan jarang menampilkan dialek Sunda atau Jawa yang merupakan mayoritas etnik Banten? Ternyata, dalam paragraf-paragraf awal, narator telah membangun benteng pengamannya sendiri dengan menyatakan (bab 1, hal 1):  Namun, bila diteliti keadaan Banten masakini, berikut aneka-ragam bahasa yang dipergunakan masyarakatnya, baik dari Sunda, Jawa, Betawi dan Cina, mereka telah sepakat untuk melebur dalam kesatuan bangsa Indonesia. Bahkan, telah sepakat pula dalam kesatuan berbahasa Indonesia sejak dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda di tahun 1928 lalu.

Pola naratif pada novel tersebut sehaluan dengan Desertion, juga tak beda jauh dengan By the Sea. Gurnah menampilkan banyaknya narator yang bersuara lantang. Sedangkan pelanggaran terhadap norma-norma agama, atau sesuatu yang disebut “dosa” dinetralkan sedemikian rupa oleh kebudayaan masyarakat lokal. Sehingga, pemahaman hukum-hukum Islam menjadi lentur dikarenakan harus menghargai budaya lokal setempat. Hal ini mengingatkan kita pada konsep Islam-Jawa dan Jawa-Islam yang pernah dikemukakan Pramoedya, hingga hukum-hukum syariat kadang harus mengalah oleh keberadaan budaya Jawa dan Nusantara yang dianggap sudah terlanjur “meng-Indonesia”.

Tidak tanggung-tanggung, Gurnah juga menampilkan watak orang-orang suku pedalaman Afrika Timur dalam Paradise (1994), yang cenderung banal dan ekstrim, bahkan berani menantang para pemeluk Islam. “Berikan pada kami daging para penyembah Allah, dan kami akan menyantapnya hingga habis.” Hal ini mengingatkan kita pada nasib Hamzah (paman Nabi Muhammad), ketika kekalahan Perang Uhud dan tertombak oleh pembunuh bayaran bernama Wahsyi, dari suku Arab Baduy. Tak lama kemudian, tubuh mayat itu dicabik-cabik oleh Hindun, seorang perempuan suku Qurays, sampai kemudian jantungnya dicabut dan dikunyah mentah-mentah dengan gigi gerahamnya.

Bagaimana pernyataan ekstrim itu dari sudut pandang seorang muslim Indonesia yang cenderung gemah ripah loh jinawi, seakan asyik berdendang di pulau nyiur sambil bersiul di depan burung perkutut? Tentu akan menjadi wawasan dan cakrawala berpikir yang lebih lapang dan terbuka, agar orang-orang Islam mampu memahami bagaimana orang lain menilai tentang keberadaan dirinya. Kalau suatu pandangan ekstrim dihadapi dengan cara-cara ekstrim juga, maka akan sulit peradaban suatu pihak (bangsa) diakui kemaslahatannya oleh pihak lain.

Dalam konteks ini, wilayah sastra sudah memasuki visi dakwah dan syiar, bahwa nilai-nilai kebaikan harus disampaikan secara elegan, santun, dan harus menghargai dan menghormati peradaban manusia lainnya. Karena itu, menjadi syarat mutlak bagi seorang pendakwah (pengkhotbah) agar mampu beradaptasi dengan latar belakang dan identitas manusia yang sangat heterogen. Sebagaimana pemaparan narasi yang kompleks pada novel Perasaan Orang Banten (2012), dengan penyajian sikap narator yang terang-terangan terhadap narasi, tapi tertutup terhadap karakter lain dalam novel tersebut.

Berdasarkan hasil temuan ini, saya berasumsi bahwa strategi naratif yang kompleks ini, selain sebagai media untuk menyampaikan cerita, juga digunakan untuk mempermasalahkan identitas manusia Banten dan Indonesia, sebagaimana Gurnah memahami masyarakatnya (Zanzibar) yang multikultural dan multietnis juga. ***

 

*) Dosen Perguruan Tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *