oleh

Satu Sekolah Hanya Berisi 14 Siswa

Kabarmadura.id/Sampang-Sistem zonasi yang diberlakukan saat penerimaan peserta didik baru (PPDB), belum mengatasi masalah krisis jumlah siswa di beberapa sekolah.

Sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kabupaten Sampang, masih banyak yang kekurangan siswa. Terutama, Namun, sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang.

Bahkan, penerapan sistem yang bertujuan untuk pemerataan kualitas dan kuantitas peserta didik tersebut, justru memunculkan fenomena tidak memenuhi pagu dan rombongan belajar (rombel).

Kondisi tersebut dialami SDN Bepelle 1, Kecamatan Robatal, Sampang. Tercatat,  jumlah siswanya dari kelas I sampai VI, hanya 14 orang. Rinciannya, kelas I berjumlah dua anak, kelas II tiga siswa, kelas III dua siswa, kelas IV satu siswa, kelas V dua siswa dan kelas VI empat siswa.

Saat dikonfirmasi, Plt Kepala Sekolah SDN Bepelle 1, Suparman mengatakan, minimnya jumlah peserta didik  di lembaganya itu, sudah berlangsung sekitar tiga tahun belakangan. Kendati demikian, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan meskipun satu sekolah hanya berisi 14 siswa.

“Dulunya jumlah siswa sebanyak 60 anak, tetapi terus berkurang setiap tahunnya, hingga akhirnya saat ini tinggal 14 anak,” ungkapnya, Kamis (7/11/2019).

Dari keterangan Suparman, didapati penyebabnya, adalah banyak wali murid yang memindahkan anaknya ke sekolah lain. Salah satu alasannya, lantaran kondisi sebagian ruang kelas ada yang rusak, sehingga orang tua menjadi khawatir dengan keselamatan.

Lanjut dia, persolaan di SDN Bepelle I itu, tidak hanya jumlah siswa yang sedikit, tetapi juga jumlah tenaga pendidiknya  hanya ada empat orang. Bahkan semua gurunya itu masih berstatus sebagai honorer, bukan pegawai negeri sipil (PNS).

Selain itu, sarana prasana yang meliputi ruang kelas, sudah banyak yang rusak. Atas kondisi tersebut, pihaknya berharap lembaganya mendapat perhatian lebih dari dinas terkait.

“Yang menjadi permasalahan di lembaga kami ini, tidak hanya jumlah siswa, jumlah guru juga sangat terbatas, bahkan ruang kelas sudah banyak yang rusak,” terangnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Sampang Mohammad Iqbal Fatoni mengaku prihatin dan miris sekali melihat realitas pendidikan di Kota Bahari. Karena banyak SD di Sampang yang tak kunjung bisa maju, lantaran jumlah siswa tidak memenuhi rombel, jumlah guru yang tidak sebanding dan sarana prasana sekolah yang kurang memadai.

Politisi muda dari Fraksi PPP DPRD Sampang itu, melihat selama ini, karena belum ada upaya dan solusi kongkrit dari Disdik Sampang dalam menangani masalah tersebut. Hal itu, terbukti masih banyak sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit belum digabung dengan sekolah lain di wilayah itu.

” Saya harap, persoalan ini segera dicarikan solusi, kami sarankan SDN yang jumlah siswa sangat sedikit, seperti SDN Bapelle 1 ini, segera diregrouping. Sebab, jika dipaksakan  maka siswa yang menjadi korban. Disdik harus bisa menjamin hak-hak siswa dapat mengenyam pendidikan yang layak dan lebih baik,” harap pria yang akrab bung Fafan itu. (sub/waw)

 

Komentar

News Feed