Satwa Langka Resmi Jadi Maskot Pilbup Sumenep 2020

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Sumenep-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep bersama Tim Tujuh, mengenalkan maskot dan jinggel untuk Pemilihan Bupati (Pilbup) Sumenep 2020 di ruang Media Centre KPU, Jumat (17/1).

Berdasarkan kerja Tim Tujuh bersama KPU Sumenep sejak 10 Desember 2019 hingga 10 Januari 2020, maskot diputuskan memakai burung Kakatua Jambul Kuning.

Ketua KPU Sumenep A Warits menyampaikan, maskot pilbup 2020 memakai burung Kakatua Jambul Kuning yang hidup di Pulau Masakambing Pulau/Kecamatan Masalembu itu, karena pihaknya juga ingin ikut bersuara untuk menjaga satwa yang sudah tinggal 24 ekor tersebut.

“Prihatin, saat ini sudah tinggal 24 ekor. Makanya, salah satu alasan kami memakai maskot burung yang hanya ada di Sumenep itu, karena kami juga ingin mengabarkan kepada publik supaya ikut menjaga satwa itu,” jelasnya.

Oleh karenanya, lanjut Warits, KPU Sumenep tidak hanya menjadi penyelenggara pemilu, melainkan juga ingin ikut melestarikan satwa langka burung Kakatua Jambul Kuning jenis abboti tersebut.

Sementara itu, Ibnu Hajar Ketua Umum Tim Tujuh mengungkapkan, pembuatan maskot dan jinggel dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD). Hal itu dalam rangka menentukan maskot dan jinggel Pilbup Sumenep 2020, yakni sejak 10 Desember 2019 hingga 10 Januari 2020.

“Selain burung Kakatua Jambul Kuning, sebenarnya ada banyak usulan untuk maskot, seperti kuda terbang dan lain sebagainya. Tapi diputuskan maskotnya Kakatua Jambul Kuning,” katanya.

Dipaparkan Ibnu, kata ‘Si Jambul’, selain ciri khas Kakatua Jambul Kuning, juga merupakan kepanjangan dari ‘siap jurdil, aman memilih bupati langsung’.

Sedangkan Komisioner KPU Sumenep Rafiqi Tanzil mengatakan, saat ini secara resmi pihaknya memiliki maskot dan jinggel Pilbup Sumenep 2020.

Dengan memilih maskot berupa burung Kakatua Jambul Kuning, KPU Sumenep tidak hanya menyelenggarakan pemilu, melainkan juga ikut mengkampanyekan pelestarian satwa langka yang hanya ada di Sumemep, untuk kemudian dijaga bersama-sama agar tidak punah.

“Kemudian untuk jinggel, isinya kami menekankan untuk menolak politik uang dan politik yang mencederai demokrasi. Jinggel itu sendiri berbahasa Madura dan bahasa Indonesia,” tukasnya. (ong/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *