SDM dan Sarpras Milik BPBD Pamekasan Terbatas

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) TERBATAS: Potensi bencana alam di Pamekasan semakin mengancam dengan terbatasnya SDM dan sarpras.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN Bencana yang kerap terjadi di beberapa daerah juga menjadi ancaman bagi Pamekasan. Bahkan, Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Budi Cahyono mengatakan, semua wilayah berpotensi terdampak bencana alam.

Sebab pihaknya tidak bisa memprediksi akan datangnya bencana alam dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, seperti gempa bumi, pihaknya hanya bisa memprediksi beberapa menit sebelumnya. Kendati begitu, Pamekasan tidak termasuk daerah yang rawan gempa. Namun, banyak wilayah di Pamekasan yang rawan longsor, banjir, dan kekeringan.

Bacaan Lainnya

“Pamekasan banyak daerah rawan. Kita sudah lakukan pemetaan, daerah utara itu berpotensi terjadi longsor,” ucapnya.

Sementara itu, pihaknya mengalami sejumlah keterbatasan. Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki hanya 22 orang. Jumlah personel itu dianggap tidak cukup. Sebab, sebagian di antaranya bertugas di bagian administrasi. Tidak hanya itu, sarana prasarana (sarpras) juga sangat terbatas.

Sampai saat ini pihaknya hanya memiliki satu unit perahu karet dan dua perahu fiber. Tiga unit kendaraan operasional TRC. Sementara mobil tangki penyuplai air hanya ada empat unit. Tidak hanya keterbatasan sarpras, pihaknya juga mengalami keterbatasan teknologi pendeteksi bencana.

Bahkan, sampai saat ini pihaknya tidak punya pemancar radio telekomunikasi. Karena itu, sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam selalu dilakukan. Masyarakat diedukasi untuk bisa hidup berdampingan dengan bencana. Sehingga bisa tanggap darurat saat terjadi bencana alam.

Ia juga menyampaikan agar masyarakat merawat alam. Lereng yang gundul diminta untuk dinaturalisasi dengan menanami pohon. Agar meminimalisir potensi terjadinya longsor. Selain itu, menurutnya,  tindakan membuang sampah di sungai juga dapat menimbulkan banjir. Sementara daerah resapan air semakin berkurang oleh masifnya pembangunan.

“Kami memberikan pemahaman kepada masyarakat. Karena bencana juga tergantung bagaimana sikap masyarakatnya,” ucap Budi.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *