Sebar Hoaks, Pengusaha Garam Dipolisikan

  • Whatsapp

Kabarmadura.id – Tuduhan penyebaran berita hoaks yang berujung pada pencemaran nama baik menimpa Pang Budianto. Salah satu pengusaha garam di Kabupaten Pamekasan itu, dilaporkan oleh aktivis Komunitas Muda Peduli Reformasi (KMPI) Zainul Hasan, ke Mapolres Pamekasan.

Hasan melaporkan pengusaha garam itu, lantaran dituduh sebagai pencuri burung lovebird seharga ratusan juta rupiah kepada masyarakat di wilayah setempat melalui pesan Whatsapp.
Tuduhan itu diketahui Hasan pertama kali pada 7 Agustus 2018 lalu. Dia mengaku menerima pesan broadcast dari salah satu koleganya yang mengaku mendapatkan pesan tersebut dari nomor whatsapp Pang Budianto.

Merasa nama baiknya dicemarkan, aktivis yang gencar menyoal keberadaan tempat hiburan di Tlanakan itu langsung mengambil langkah tegas dengan melaporkan pesan yang berisi fitnah itu ke unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pamekasan, dan langsung menjalani pemeriksaan di ruang satuan resort kriminal (satreskrim).

“Ini sudah merusak nama baik saya. Saya dibilang pencuri burung melalui pesan whatsapp yang dikirim ke masyarakat Tlanakan,” katanya Kamis (13/9).

Diceritakan mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan ini, pada tanggal 7 Agustus lalu menerima pesan whatsapp yang berisi fitnah terhadap dirinya.

Pesan singkat via broadcast itu sebagian bertuliskan “Hasan LSM Tlanakan kabur ke Gili Raja atau ke Jakarta karena jadi buronan polisi. Masalah curi love bird TB Iwing mata merah 350 juta milik Pak Cipto dijual miring ke pengepul Pamekasan 50 juta tapi baru DP 5 juta, orangnya bertiga sudah kabur bersama burung curiannya.

Yang membuat Hasan geram, dia merasa tidak pernah melakukan tindak pidana pencurian hewan itu, sehingga merasa terganggu. Terlebih masih ada sebagian isi pesan lainnya yang menyatakan dirinya sudah menikah dengan warga Gili Raja, bahkan dirinya juga dikabarkan akan menikah lagi dengan tetangga istrinya tersebut di Gili Raja.

“Saya juga dikatakan manusia tidak tahu diri. Isi pesan itu sangat merugikan saya dan keluarga saya. Saya tidak terima diperlakukan begini,” ungkapnya.

Dijelaskan Hasan, sebelumnya dia juga menerima perlakukan tidak menyenangkan dari yang bersangkutan. Aktivis asal Desa Tlanakan Kecamatan Tlanakan itu, sempat aktif bersama warga sekitar menolak usaha tempat karaoke yang dibangun oleh Pang Budianto di desa setempat.

Hasan mengaku sudah beberapa kali menerima perlakukan tidak menyenangkan dari yang bersangkutan. Namun pria yang menjadi salah satu aktor gerakan masyarakat Tlanakan ini menolak berdirinya tempat karaoke di desanya itu, mengaku masih berusaha sabar untuk menghadapi perlakukan tersebut.

“Kalau yang ini, saya tidak bisa terima. Meskipun saya tahu ini merupakan tindakan orang yang dengan sengaja ingin menjatuhkan nama baik saya di masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Pamekasan, AKP Hari Siswo saat dikonfirmasi soal kebenaran laporan tersebut mengatakan, pihaknya akan memproses sesuai prosedur hukum, terkait aduan dan laporan yang sudah diterima Polres Pamekasan.

Bahkan dia mengaku sudah melakukan pemeriksaan kepada pelapor. Kemudian pihaknya berjanji juga akan memanggil terlapor untuk dimintai keterangan terkait persoalan tersebut.

“Pasti akan kami proses,” katanya singkat. (pin/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *