Sebaran Covid-19 di Kabupaten Sampang Meningkat, PJJ Diberlakukan Hingga Batas Waktu tidak Ditentukan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIM) MENINGKAT: Penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kabupaten Sampang diberhentikan sementara akibat perubahan zona Covid-19.

KABARMADURA.ID, SAMPANG -Pemberlakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan sistem pertemuan tatap muka (PTM) kembali diterapkan. Meski sebelumnya, pada 24 Agustus sudah menggelar sudah menerapkan PTM. Hanya saja, awal tahun 2021 Dinas Pendidikan (Diskdi) Kabupaten Sampang, resmi menutup pertemuan langsung KBM.

Penutupan dengan rentan waktu yang tidak ditentukan itu, untuk tingkat sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah dasar (SD). Hal itu dilakukan akibat sebaran Covid-19 di Sampang mengalami perubahan zona, yang awalnya zona kuning menjadi orange. Hal tersebut diungkapkan, Pelaksana tugas (Plt) Kadisdik Kabupaten Sampang, Nor Alam, Minggu (03/01/2021).

Bacaan Lainnya

“Pada semester II tahun 2021 semua siswa harus mengikuti KBM secara daring. Karena, sementara ini sebaran Covid-19 di kota Bahari meningkat. Keputusan tersebut, merupakan hasil koordinasi dengan tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. Sehingga semua sekolah kembali terapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Menurutnya, surat keputusan bersama tim gugus tugas Covid-19 disebarkan pada semua sekolah berlaku hingga tanggal 9 Januari. Sehingga, pada Senin 11 Januari KBM akan kembali dengan sistem PTM. Namun, PTM tersebut terbatas seperti sebelumnya, artinya harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Sehingga, siswa yang masuk kelas diperbolehkan hanya lima siswa.

“Kami lihat dulu perkembangannya, jika sebaran Covid-19 meningkat maka akan diperpanjang,” imbuhnya.

Kendati demikian, pengawas sekolah, penilik, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Di hari efektif yakni enam hari kerja dengan menerapkan prokes yaitu menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, jaga jarak sosial atau social distancing, dan memakai hand sanitizer, serta mengukur suhu tubuh dengan thermo gun.

“Pengawas, penilik, kepala sekolah dan guru tetap harus membuat laporan hasil pembelajaran daring melalui kepala bidangnya masing-masing,” pungkasnya. (mal/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *