Sebuah Maha Karya 

Sastra81 views

Oleh: Muakhor Zakaria

Makhluk-makhluk asing tak kasat mata, begitu mudahnya menebar penyakit ke mana-mana. Ketika mereka menyentuh satu dan sekelompok masyakarat, mereka akan melangkah dan merayap dengan pasti, serta menggerogoti para korbannya tanpa pandang bulu. Dari kalangan pejabat, buruh, pedagang, mahasiswa hingga anak-anak sekalipun ikut juga menjadi mangsanya.

Teman satu kost saya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Hasan, yang juga sama-sama kuliah di semester akhir jurusan Sastra Indonesia, sudah seminggu lebih berbaring tak berdaya di tempat tidurnya. Dia hanya dapat memandang dinding batu-bata di halaman depan rumah kost, melalui bingkai jendela. Saya dan Yusdi, seorang kawan yang mengambil jurusan Seni Lukis, pernah mengantarnya ke klinik kampus. Setelah dokter memberi surat pengantar agar merujuknya ke rumah sakit umum, terpaksa kami pun harus membawanya ke sana.

Sang dokter memeriksa kondisi kesehatannya. Kemudian, ia bicara dengan kami di luar ruang pemeriksaan agar tidak terdengar olehnya, “Sudah cukup lama dia terserang pneumonia, sejenis radang paru-paru yang cukup parah, tetapi dia tidak merasakannya, “ kata dokter sambil menghela napasnya. “Sekarang, kesempatannya untuk sembuh mungkin hanya sepuluh persen saja. Bisa juga dibilang, hanya satu banding sepuluh. Dan kesempatan itu hanya ada kalau dia mau tetap bertahan untuk hidup. Inilah salah satu hal yang tak masuk akal dalam dunia paramedis.”

Dokter itu menghela napas, dan dengan tatapan menerawang ia melanjutkan, “Kadang-kadang seorang pasien yang sekarat sekalipun bisa sembuh total kalau dia selalu berpikir optimis. Dan teman kamu itu, sepertinya merasa yakin kalau dia tak bakal sembuh. Apakah ada sesuatu yang dipikirkannya?”

“Saya kurang tahu, Dok,” kata saya agak ragu, “tapi suatu kali dia pernah bilang mau menulis karya sastra tentang kebenaran sejarah politik tahun 1965…”

“Apa? Menulis karya sastra?” si dokter tersenyum tipis. “Apa nggak ada hal lain yang dipikirkannya? Soal pacar atau calon istri, misalnya?”

“Soal pacar?” sahut saya, “Ah, saya kira nggak ada, Dok… di tempat kost dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis, itu saja yang saya tahu.”

“Wah, sayang sekali kalau begitu,” ujar sang dokter, “padahal saya akan melakukan apapun yang bisa membantu pasien secara ilmiah. Kalau seandainya pasien itu memikirkan prestasi anaknya, setidaknya dia dapat menambahkan 50 persen kekuatan untuk bisa membantu penyembuhan. Kalau yang dipikirkan itu adalah kekasihnya, apalagi sampai menghitung-hitung jumlah undangan yang akan hadir pada resepsi pernikahannya nanti, saya berani mengatakan 70 persen lebih, bisa membantu proses penyembuhannya.”

Setelah dokter menghilang di balik pintu, saya menatap Hasan dengan rasa sedih dan pilu. Wajahnya yang pucat dan matanya yang lemah memandang saya seperti membaca-baca sesuatu, meski saya berusaha membalasnya dengan senyuman. Dua hari kemudian, setelah dirawat di rumah sakit, ia kembali ke tempat kost. Ia membisiki saya agar keluarganya di Makassar, tak usah diberi tahu perihal kesehatannya yang memburuk. Suatu kali, ketika salah seorang kakaknya menelpon dari kampung, saya katakan bahwa Hasan baik-baik saja, dan hanya sedang berobat jalan.

Dia menaruh meja kecil di samping pembaringannya, membuka laptopnya dan mulai menulis. Baginya, seorang penulis muda harus menapaki jalan menuju seni dengan merangkai cerita menarik yang dapat mengena di hati publik. Sesekali ia merasa kelelahan. Rasa lelah dan jemu itu kadang menghampirinya ketika fisiknya dirasakan kian melemah. Ia kembali ke pembaringan, dan dengan mata terbuka lebar, ia seperti menghitung sesuatu dalam hitungan yang mundur, “Sembilan, delapan, tujuh,” ia terdiam selama beberapa waktu, kemudian, “enam, lima,” dan begitu seterusnya.

Saya terus mengikuti arah pandangannya. Apa yang sedang dia hitung? Di balik jendela, hanya ada halaman kosong yang ditumbuhi rerumputan yang mulai mengering di saat pergantian dari musim hujan ke musim panas. Memang ada bunga mawar yang tak terurus, sehingga daun-daunnya semakin rontok ketika musim panas tiba. Tanaman itu sudah tua, merambat di sekitar dinding batu-bata yang tak tersusun dengan rapi. Akarnya sudah mulai keropos. Musim pancaroba bisa melemahkan dan mencopot daun-daun dari batangnya, yang membuat tanaman itu mirip dengan kerangka tulang manusia.

“Sedang menghitung apa, Fren?” tanya saya pada Hasan.

“Empat,” bisik Hasan. “Sekarang jatuhnya lebih cepat. Kalau kemarin lusa, saya lihat masih ada sekitar seratus lebih, kepala saya pening menghitungnya… tapi sekarang sudah gampang… dan itu lihat, ada yang jatuh lagi, sekarang tinggal tiga….”

“Apanya yang tiga, Fren? Sedang menghitung apa?” saya masih terheran-heran.

“Daun mawar di samping tembok batu-bata itu. Kalau daun terakhir gugur dan jatuh, itu berarti saya pun harus pulang. Saya sudah perkirakan sejak tiga hari lalu di rumah sakit. Apakah dokter nggak ngomong apa-apa kemarin lusa?”

“Emang dokter juga bilang… tapi omongannya biasa-biasa saja. Nggak ada hubungannya dengan pulang atau gugur,” jawab saya berbohong. “Tapi, ah, jangan berpikir macam-macam lah, Fren…. Kemarin lusa dokter cuma bilang kalau kesempatan untuk bisa sembuh sangat dimungkinkan, yaitu sepuluh banding satu. Berarti, sembilan puluh persen masih bisa sembuh, kan? Sudahlah, sekarang ayo makan bubur ayam dan minum jus melon ini… nanti kamu bisa sembuh dan nulis lagi, lalu kirim lagi ke koran Radar NTT, majalah atau media daring… kamu bisa bayangkan kalau tulisan itu bisa dibaca ribuan pelanggan koran dan majalah. Luar biasa, kan?”

Baca Juga:  Mencari Presiden Antikorupsi

“Kamu nggak usah repot-repot membelikan bubur ayam dengan jus segala,” ujar Hasan. Pandangannya tidak beralih dari jendela. “Pokoknya, saya nggak mau, saya nggak napsu makan… coba lihat itu, sekarang cuma tinggal tiga. Saya pengen lihat daun terakhir jatuh sebelum datangnya malam. Setelah itu, saya pun akan pamit juga.”

“Hasan… Hasan… ada-ada saja kamu ini,” saya pun menutup tirai jendela sambil memegang buku di tangan kiri. “Sekarang di luar sudah mulai gelap. Jadi, daun-daun itu sudah nggak ada, nggak kelihatan lagi. Sekarang saya harus baca novel dalam penerangan lampu, soalnya besok saya akan mempresentasikan novel ini di hadapan dosen dan teman-teman di kelas.”

“Saya kira, kamu bisa baca novel itu di kamar Yusdi saja,” katanya.

“Saya harus baca di sini, sambil menemani kamu… lagipula, saya juga nggak mau kamu terus-terusan menghitung daun gugur yang nggak jelas itu,” kata saya kesal.

“Oke, kalau begitu,” balasnya kemudian, “tapi nanti kalau sudah selesai baca, beri tahu saya, ya?”

Saya tidak menjawab. Suasana hening dan sendu. Tak berapa lama, saya meliriknya dari balik buku. Nampak sekali kulit wajahnya yang pucat dan merah. Pipinya tirus dengan tulang pipi menonjol layaknya patung-patung yang dipahat para mahasiswa di ruang jurusan Seni Pahat.

***

Yusdi, mahasiswa semester akhir jurusan Seni Lukis, tinggal di sebelah kamar kami. Dibatasi oleh ruang tamu di bagian tengah. Jendela kamarnya juga sama-sama menghadap ke halaman depan. Ia berasal dari Sumatera yang konon memiliki garis keturunan dari tentara-tentara pejuang Medan di zaman penjajahan dulu.

Ia juga memiliki obsesi yang tinggi mengenai seni lukis. Meskipun, kadang ia juga mengeluh karena kesehatannya yang kurang prima. Usianya masih cukup muda saat itu, sekitar 24 tahun, masih sepantaran saya dan Hasan. Beberapa hasil lukisannya pernah dipamerkan di gedung galeri Taman Ismail Marzuki, serta disandingkan dengan para pelukis terkenal. Suatu kali, ia mengigau ingin menciptakan seni lukis yang selevel dengan “Ibuku Menjahit” karya Sudjojono.

“Dia tidak mengigau. Apa yang dia katakan itu benar,” kata Hasan yang mahir mengapresiasi lukisannya, “walaupun kadang-kadang dia kurang sabar dan banyak mengeluh dengan kesehatannya.”

Menurut Hasan, hasil lukisan Yusdi boleh dibilang hampir mendekati maha karya. Ia begitu tekun dan apik menggoreskan kuas di atas kanvas. Terkadang ia memulai garis tanpa melanjutkannya sama sekali. Kadang juga, dia duduk merenung di atas kursi berjam-jam, hanya untuk memandangi satu garis yang telah ia goreskan di atas kanvas putih.

Suatu sore, saya menemuinya sedang duduk-duduk di kamarnya menghadap jendela sambil merenung. Di sudut kiri kamar ada kanvas kosong yang sejak setahun lebih telah siap untuk menerima goresan pertama maha karyanya. Dia menanyakan soal kesehatan Hasan, seakan betapa takutnya jika Hasan, yang serapuh daun kering, akan terbang pergi ketika pegangan kecilnya terhadap dunia ini semakin melemah. Hasan yang umurnya masih belia, dengan matanya yang merah dan redup, begitu gigihnya bercita-cita merajut sejarah Republik Indonesia melalui karya sastra. Justru pada saat ia punya kesempatan menggoreskan pena untuk menggugat keadilan Tuhan, karena Dia telah menentukan nasib hidup manusia berbeda-beda, termasuk keberuntungan dan kemalangannya yang berbeda pula.

“Dokter bilang, dia itu sedang sekarat,” kata saya dengan suara pelan. “Yang membuat saya tak habis pikir, kenapa dia tak henti-hentinya menghitung daun mawar yang jatuh di halaman depan itu?”

“Barangkali karena demam tinggi itu yang membuat imajinasinya seperti orang linglung,” ujar Yusdi sambil menghela napasnya.

Dua minggu kemudian, Yusdi pamit pada kami bahwa ia akan pulang dulu ke kampung halamannya di Sumatera. Saya dan Hasan memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugas akhir perkuliahan di tempat kost, dan tidak pulang dulu ke rumah pada semester ini.

Hasan sedang menatap pohon mawar yang tinggal tiga helai daun yang bertengger di salah satu cabangnya. Pada suatu sore, ia tersentak dari tidurnya, dan seketika menghadap ke arah jendela. Tak berapa lama, ia bercerita secara mendetil perihal satu helai daun ketiga yang jatuh, seakan menukik terjun ke tanah yang gersang. Ia menghela napas, lalu bergumam pelan, “Hmm, sekarang tinggal dua helai lagi.”

Malam harinya, hujan turun disertai angin kencang menerpa tirai-tirai jendela. Petir dan guntur bersahutan, membuat suasana malam menjadi ramai oleh suara-suara yang menggentarkan hati dan jiwa. “Saya kira, kedua daun itu tak akan bertahan lama dari hempasan angin dan badai malam ini.”

Saya tak menjawab sepatah kata pun. Meski sesekali bangkit dan menengok ke arah tempat tidurnya dengan rasa khawatir. Pagi harinya, ketika matahari mulai terbit, Hasan langsung membuka tirai jendela. Hati saya merasa lega ketika menyaksikan dua helai daun itu masih bertengger kokoh pada cabangnya, sekitar dua meter dari permukaan tanah.

“Seharusnya dua daun itu gugur malam tadi, dan saya sudah tidak menemukan waktu pagi lagi…”

“Mungkin kedua daun itu masih memberi manfaat bagi orang yang melihatnya,” kata saya sambil tersenyum.

‘Maksud kamu, bagi saya sendiri?”

“Mungkin,” jawab saya sambil mengangkat kedua bahu.

***

Kabar kematian itu begitu menghentakkan pikiran dan perasaan saya. Sudah tiga minggu kami menjalani liburan semester, dan saat itu saya sedang disibukkan dengan proses penyusunan skripsi untuk tugas akhir perkuliahan. Telepon itu saya terima langsung dari Sumatera. Salah seorang kakak Yusdi yang saya kenal, yang dua tahun lalu telah lulus IKJ, mengabarkan bahwa adiknya, Yusdi, telah meninggal dunia karena terpapar Covid-19 di sebuah rumah sakit di Sumatera Utara. Beberapa saat sebelum meninggal, dia berpesan agar mengirimkan bingkisan lukisan untuk Hasan dan saya, yang konon telah dikirimkannya melalui pelayanan paket sejak pagi tadi.

Baca Juga:  Mengenal Muna Masyari, Penulis Asal Pamekasan yang Perkenalkan Kearifan Budaya Madura Lewat Karya Sastra

Saya dan Hasan duduk terkesima dalam waktu yang cukup lama. Sesaat saya menatap pada ekor mata Hasan yang sepintas melirik ke jendela pada sebatang pohon mawar yang hanya dihiasi oleh dua helai daun bertengger di cabangnya.

Seketika kami dirundung kesepian yang mendalam, ketika sebuah jiwa siap untuk berangkat pergi ke perjalanan misteriusnya yang amat jauh. Perasaan itu makin merasuki diri saya, saat satu persatu ikatan pada pertemanan semakin melonggar dan kemudian terlepas dari kehidupan dunia ini.

Waktu pun berlalu, dan bahkan setelah menjelang senja. Kini, Hasan seperti tak lagi menghiraukan pohon mawar yang menempel pada dinding batu-bata di halaman kost kami. Ketika saya menutup tirai, sepintas terlihat dua helai daun yang bertengger kokoh, meski saya berusaha untuk tidak mempersoalkannya pada Hasan. Ia memanggil saya yang sedang asyik membaca novel, dan katanya dengan nada serius, “Maafkan saya, Fren… maafkan saya yang selama ini telah merepotkan kamu…. Semalam saya sempat bermimpi tentang seorang kakek yang sudah tua dan berumur sekitar 90-an tahun. Dengan tubuhnya yang bongkok, kakek tua-renta itu rajin dan tekun memberi makan beberapa ekor kucing di rumahnya setiap hari. Dia mengatakan banyak hal dalam mimpi itu, yang sulit saya urutkan kata-katanya satu persatu. Tetapi paling tidak, saya bisa menyimpulkan pesan tersebut, bahwa kita tidak boleh berputus asa pada rahmat dan kasih sayang Tuhan dalam hidup ini.”

Hasan bangkit dari pembaringan seraya mengelus-elus pundak saya, dan lanjutnya, “Sejak pagi tadi, saya merenungkan apa-apa yang dipesankan kakek tua-renta itu, betapa keliru dan bodoh cara berpikir saya selama ini. Bahkan, kesalahan dalam kerangka berpikir ini kadang-kadang ikut berperan dalam menggerogoti kesehatan fisik saya, juga berpengaruh kuat dalam imajinasi saya, ketika saya menuangkannya dalam karya sastra.”

***

Siang harinya, Hasan meminta saya untuk memeriksakan diri ke dokter, dan beginilah tanggapan dokter pada saya, “Luar biasa… kesempatannya untuk sembuh besar sekali. Sekarang dia sudah mulai pulih dan sehat kembali… cukup beri dia makanan yang baik-baik, dan istirhatat selama beberapa waktu ke depan.”

Ketika saya dan Hasan melangkah keluar pintu, tiba-tiba dokter itu memanggil kami, “Oo ya, saya lupa satu hal yang menjadi harapan dan cita-cita Hasan selama ini. Apa yang pernah dikatakannya tentang karya sastra?”

Saya tertawa lepas, “Dia berjanji akan menulis karya sastra tentang kebenaran sejarah politik tahun 1965.”

“Nah, itu dia,” kata dokter lagi, “teruskan cita-cita mulia itu. Dan kalau sudah diterbitkan nanti, tolong saya dikirimkan novelnya, ya?”

“Siap, Dok!” jawab Hasan sambil tersenyum gembira.

Sesampai di rumah kost, kami menerima kabar dari ibu kost tentang adanya bingkisan dari Makassar yang dikirimkan oleh petugas paket beberapa saat lalu. Seketika kami membawa bingkisan itu ke dalam kamar, dan setelah membukanya, ternyata berisi lukisan menarik dan indah namun mengandung pesan moral yang kurang mengena di hati kami.

Karya terakhir dari Yusdi sahabat kami, adalah sebuah lukisan yang menggambarkan seorang pemuda yang sedang mencabik-cabik bunga dan daun-daun mawar dari batangnya. Di sebelahnya nampak seorang ibu yang menatap sedih ke arah pemuda itu. Saya tidak tahu apa maksud yang terkandung di balik lukisan itu, tetapi Hasan kemudian menjelaskan, “Memang dia pernah bilang ke saya, beberapa tahun lalu dia pernah punya pacar, tetapi kemudian pacarnya itu menikah dengan anak seorang anggota DPRD di kampungnya.”

“Bukankah dia berjanji mau melukis yang sejenis dengan karya Sudjojono?” tanya saya kemudian.

“Ya, saya masih ingat ketika dia menatap lama-lama lukisan Sudjojono yang bertema Ibuku Menjahit.”

“Kenapa pemuda itu mencabik-cabik bunga-bunga mawar, seakan-akan dia mengobrak-abrik kain tenun ketika sudah lama merajutnya?”

“Saya kurang tahu, barangkali dia keliru menafsirkan lukisan Sudjojono itu.”

Saya mengamati lukisan karya Yusdi dengan seksama, “Wah, karya ini memang bagus dan menarik sekali… tapi saya menyangsikan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Apakah karya bagus dan menarik sudah mencerminkan kebenaran dan kebaikan juga?” tanya saya lagi.

Beberapa minggu kemudian, ketika diselenggarakan ajang pameran lukisan di galeri Taman Ismail Marzuki, Jakarta, saya terheran-heran mengapa para seniman muda itu justru lebih banyak menyukai karya Yusdi yang berjudul “Bunga Mekar yang Tercabik” itu?

Apakah itu memang suatu maha karya darinya? Dan apakah suatu maha karya selalu mengandung pesan-pesan keindahan, kebenaran dan kebaikan sekaligus? Saya kira tidak. Sebab, pesan-pesan kebaikan bagaimanapun harus diutamakan ketimbang sekadar estetika keindahan semata. 

*) Cerpenis dan esais sastra, dosen perguruan Tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan, menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai media massa dan online, seperti www.kompas.idsolopos.comkabarmadura.idkawaca.comsimalaba.net, Jurnal Toddoppuli, Tangsel Pos, Satelit News, Kabar Madura, Radar Banten, dan lain-lain. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *