oleh

Sebut Anggaran Penanggulangan Gizi Buruk Tidak Realistis

Selain Pengobatan, Fokus ke Pencegahan

Kabarmadura.id/PAMEKASAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan hanya menganggarkan dana sebesar Rp90 juta untuk penanganan penderita gizi buruk. Anggaran tersebut dinilai tidak realistis, lantaran penderita gizi buruk di wilayah setempat masih cukup tinggi.

Ketua Fraksi PKB DPRD Pamekasan Samsuri mengatakan, besaran anggaran yang dialokasikan Dinkes untuk menangani penderita gizi buruk tidak realistis. Selain nominalnya rendah, anggaran tersebut dicanangkan untuk dua tahun, yakni tahun 2018 dan 2019.

Padahal menurutnya, persoalan gizi buruk harus ditangani dengan serius. Pemerintah tidak boleh main-main terhadap program-program yang bersentuhan dengan kesehatan masyarakat. Apalagi, penderita gizi buruk di Pamekasan pada tahun 2018 lalu masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, terdapat 25 kasus gizi buruk yang terjadi pada 2018. Rinciannya, di Kecamatan Tlanakan terdapat 9 kasus, Kelurahan Kowel 5 kasus, Kecamatan Proppo dan Palengaan 4 kasus, Kecamatan Galis 2 kasus, dan Kecamatan Pegantenan sebanyak 1 kasus.

“Kalau hanya Rp90 juta selama dua tahun, saya rasa sangat tidak realistis,” katanya Rabu (17/4).

Lebih lanjut Samsuri meminta agar pemerintah kabupaten bisa meningkatkan anggaran di sektor kesehatan. Jika anggaran tersebut butuh regulasi, pihaknya selaku pihak legislatif mengaku siap untuk memfasilitasi hal tersebut.

Terlebih menurutnya, sektor kesehatan saat ini menjadi prioritas dalam visi misi dan program pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam dan Raja’e selama lima tahun ke depan.

“Sektor kesehatan harus diprioritaskan dalam segala hal, termasuk dalam ketersediaan anggaran,” terangnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Kesehatan Pamekasan Ali Maksum mengungkapkan, meski terbilang sedikit, penggunaan anggaran tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan program. Apabila selama satu tahun tidak terserap, secara otomatis akan kembali ke kas daerah.

Dia menerangkan, selama 2018 penanggulangan gizi buruk sudah dimaksimalkan. Dari 25 kasus yang masuk ke Dinkes, sebanyak 21 penderita sudah dinyatakan sembuh. Sementara 4 orang penderita lainnya masih dalam pantauan tim dinas kesehatan.

Ali Maksum berharap, peran serta masyarakat untuk ikut terlibat dalam menjaga kesehatan balitanya bisa ditingkatkan. Para orang tua dihimbau untuk rutin memberikan asupan gizi yang maksimal, serta bisa mengetahui gejala gizi buruk sejak dini. Hal itu sebagai langkah konkrit untuk mengantisipasi penderita gizi buruk di Pamekasan.

“Penyuluhan kepada masyarakat sudah diberikan, kami juga bekerja sama dengan Puskesmas di kecamatan-kecamatan untuk mengantisipasi sejak dini penderita gizi buruk,” pungkasnya. (pin/pai)

Komentar

News Feed