Sebut Mutu Pendidikan 10 Terburuk  se-Jatim

  • Whatsapp
(KM/Razin) MIRIS: Di Sumenep, kondisi pendidikan masih tergolong kategori buruk.

Kabarmadura.id/Sumenep-Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Sumenep mengakui mutu pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat masuk kategori 10 terburuk se-Jawa Timur. Kacabdin Sumenep Sugiono Eksantoso menyatakan, Keberadaan 158 SMA sederajat yang ada di Sumenep masih terbilang jauh dari kategori pendidikan berkembang apalagi maju.

“Kalau diukur dari tingkat provinsi masih di bawah dari kabupaten-kabupaten yang lain, masuk di deretan 10 paling bawah,” paparnya, Selasa (21/1/2020).

Sementara menurutnya, perkembangan sekolah baik swasta maupun negeri, itu diserahkan kepada kreativitas pimpinan sekolah, yang dalam hal ini adalah kepala sekolah, tidak terikat dengan pengawasan yayasan.

Sugiono menambahkan, pihaknya meskipun instansi yang terlibat bahkan menaungi seluruh sekolah SMA sederajat di Kota Keris ini tidak banyak berperan terhadap pola atau sistem yang diterapkan di sekolah-sekolah. Sehingga kepala sekolah dituntut berpikir kreatif untuk mengejar ketinggalan tersebut.

“Komitmen kepala sekolah yang menjadi penentu. Dinas atau cabang kan hanya mendorong. Maksimal dan optimal tidaknya tetap di tangan sekolah, kepala dan guru-gurunya,” imbuhnya.

Kendati demikian pihaknya akan mengumpulkan seluruh kepala sekolah pada setiap bulannya, guna memberikan pembinaan-pembinaan kompetensi, sehingga ke depannya ada perubahan atau peningkatan kualitas pendidikan di Sumenep ini.

Menanggapi keterpurukan mutu pendidikan untuk tingkat SMA sederajat, Wakil Ketua Dewan Pendidikan Sumenep (DPS) Badrul Ahmadi menyampaikan, pihak kacabdin yang bertanggung jawab atas persoalan tersebut. Menurutnya  kepala sekolah jangan ditekan, karena yang berkewajiban melakukan terobosan untuk pengembangan itu adalah kacabdin sendiri.

Sementara dari DPS sendiri sejak awal telah menawarkan beberapa langkah seperti pengembangan ekstrakurikuler untuk pengembangan prestasi, pemantauan kedisiplinan siswa, dan pengembangan profesionalisme guru.

“Kami DPS sudah direkomendasikan untuk ikut terlibat dalam pengembangan pendidikan. Kacabdin sendiri sejak awal mempunyai komunikasi yang buruk dengan kami. Jika faktanya sudah seperti ini maka kami akan menyurati kacabdin agar bertanggung jawab atas keadaan ini,” paparnya. (ara/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *