Sehari dalam Hidup Farah 

  • Whatsapp

Oleh: Irawaty Nusa*)

Farah menunggu di meja seperti biasa pada hari ulang tahunnya yang ke-19. Hari itu adalah Minggu. Mestinya ia libur. Tetapi, karena teman kerja paruh waktunya mendadak terserang flu dan demam, terpaksa ia tetap bekerja seperti hari-hari biasanya. Ia berusaha menghibur temannya yang sedang sakit, agar tetap tegar dan tabah, meskipun temannya itu sudah menelpon terlebih dahulu untuk meminta maaf.

“Tenang saja,” ujar Farah, “kamu istirahat saja dulu. Lagipula, saya nggak mengadakan acara apa-apa meskipun sekarang adalah hari ulang tahun saya.”

Farah bekerja di salah satu restoran Makassar di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Restoran itu sudah menjalani bisnisnya sejak akhir tahun 1980-an. Meskipun masakannya hampir tidak menonjol, namun reputasinya yang baik sudah diakui oleh banyak kalangan. Restoran itu memiliki banyak pelanggan tetap, dan hampir tak ada pelanggan yang merasa dikecewakan. Ruang makannya memiliki suasana tenang, sejuk dan tidak terkesan glamor dan berlebihan. Kebanyakan pelanggannya sudah berusia lanjut, meskipun tak jarang pelanggan lainnya yang dari kalangan muda-mudi.  

Tiga pelayan penuh waktu bekerja enam hari dalam seminggu. Sedangkan Farah dan gadis satunya adalah mahasiswi semester awal yang bekerja sebagai pelayan, masing-masing tiga shift. Ada seorang manajer yang berposisi di kasir. Seorang lagi pelayan wanita paruh baya berbadan gemuk, yang konon sudah ada di sana sejak restoran itu berdiri.

Perempuan gemuk itu bertugas menerima pembayaran dari para tamu dan menjawab telepon. Ia bicara hanya jika perlu dan selalu mengenakan gaun hitam dengan motif batik. Ada kesan yang dingin dan kaku pada dirinya. Beda dengan manajer lelaki yang murah senyum, dengan potur tinggi dan semampai dengan potongan rambut pendek dan tipis di bagian tengahnya. Mungkin usianya sekitar 40 atau 45 tahun, sepantaran dengan paman si gadis yang terbiasa mengenakan kaos atau kemeja putih dengan celana hitam yang diseterika dengan rapi.

Sang manajer punya kerjaan memeriksa kedatangan dan kepulangan tamu, dengan mengingat jadwal reservasi di kepalanya, mengetahui nama-nama pelanggan rutin, menyapa mereka dengan senyum khasnya, meminjamkan telinganya untuk mendengarkan keluhan pelanggan dengan sabar, serta memberikan saran tentang pilihan minuman juice, kopi atau es teh manis. Ia melakukan tugasnya dengan gesit dan lincah. Ditambah tugas khusus mengantarkan makan malam ke kamar sang pemilik restoran.

“Pemilik restoran itu punya kamar sendiri di lantai empat dalam gedung yang sama di restoran itu,” kata Farah saat menceritakan pengalaman kerjanya kepada saya sebagai sahabat dekat. “Mungkin semacam kantor atau apartemen atau semacam itulah,” katanya lagi.

Konon, pemilik restoran itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Kecuali dengan sang manajer yang tiap malam mengantarkan makan untuknya. Sementara karyawan lain, tak ada yang mengenalinya sama sekali. Jadi, si pemilik restoran mendapatkan layanan antar makan malam dari restorannya sendiri.

Farah membahas tentang ulang tahunnya yang ke-19 kepada saya. Baginya, 19 adalah angka istimewa di saat seorang gadis beranjak lebih dewasa dan matang, baik secara fisik maupun pengalaman hidup. Kemudian, dia bercerita tentang mantan pacarnya yang tak mempedulikan dirinya lagi. Mengenang masa-masa pertengkaran terakhir, ketika sang pacar meneriakinya sebagai cewek udik anak seorang kuli bangunan. Lalu, sang gadis balik meneriakinya sebagai cowok kere yang tak punya modal. Sang pacar menampar pipinya, kemudian ia balas dengan berkali-kali tamparan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berpisah dan bekerja di restoran itu.

Sebagai pelayan baru di restoran, ia sempat bertanya-tanya kenapa di saat restoran sedang sibuk-sibuknya, justru sang manajer menghilang dan melayani makan malam untuk majikannya. Dia meletakkan makan malam di salah satu gerobak yang digunakan hotel untuk layanan kamar, lalu mendorongnya menuju lift dengan ekspresi penuh rasa hormat di wajahnya.

Satu jam kemudian sang manajer akan naik lagi ke atas, membawa turun gerobak dengan piring dan gelas kosong. Begitulah setiap hari, seturut jarum jam berputar. Tadinya, Farah memandangnya sebagai keanehan yang tak wajar. Namun, lama kelamaan ia menganggapnya sebagai rutinitas yang biasa-biasa saja.

Sang pemilik restoran sangat menyukai daging ayam. Menu sayurannya sedikit berbeda tiap hari, tetapi hidangan utama yang dimakannya selalu daging ayam. Seorang koki pernah berbisik-bisik pada si gadis, bahwa ia pernah mencobakan daging ayam panggang (bukan digoreng), kemudian selama seminggu ia memberikan menu yang sama, sambil menunggu reaksi dari sang majikan. Tetapi, rupanya tak pernah ada keluhan sama sekali.

Lalu, koki yang lainnya mencobakan resep-resep terbaru, dan dengan senang hati menantang dirinya dengan beragam teknik dalam soal pengolahan daging-daging ayam. Mereka mencoba melapisi saus sambal dengan merk yang berbeda, bahkan memesan ayam dari pemasok lain. Tetap juga, si majikan tidak komplain apapun, apalagi sampai tega memarahi bawahannya. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga pada akhirnya para koki menyerah dan mengirimi pemilik restoran dengan hidangan ayam yang standar.

Seketika itu, sang manajer hanya memperingatkan para koki dengan nasehat sekadarnya, “Sepertinya bos kita hanya menginginkan menu yang biasa saja, dan kalian tak usah membikin yang aneh-aneh.”

***

Di pagi hari, sang manajer mengumpulkan para karyawan untuk menjelaskan menu spesial bagi para pelanggan. Pramusaji diminta untuk menghafalnya kata demi kata dan tidak diperkenankan menggunakan lembar catatan. Restoran itu mulai buka sejak Pk. 07.00 pagi. Sang manajer berjalan-jalan sambil mengatupkan bibir dengan rapat, di saat para pramusaji mengelap meja, memoles wadah garam, merica dan botol kecap, sambil mengobrol dengan koki tentang teknik memasak. Farah sedang merapikan ruang makan bermeja tunggal untuk empat orang sambil mendengarkan musik ST 12 yang mengalun lamat-lamat dari speaker di sudut langit-langit.

Saat itu pukul delapan kurang sepuluh menit. Tiba-tiba sang manajer terpeleset lantai yang baru dipel. Ia terjatuh dalam posisi telentang, hingga tulang ekornya terbentur lantai. Seketika ia mengaduh dan duduk di kursi sambil memegang-megang pinggulnya. Keringat mulai keluar dari keningnya karena menahan rasa sakit. “Sepertinya saya harus ke dokter dulu hari ini,” gumamnya kemudian.

Padahal, memiliki persoalan medis adalah hal yang tidak biasa baginya. Ia, boleh dibilang, tak pernah melewatkan satu hari pun sejak mulai kerja di restoran itu lebih dari sepuluh tahun lalu. Catatan itu menjadi kebanggaan tersendiri, karena belum pernah ia mengambil cuti lantaran sakit atau cedera. Tetapi, nasib naas yang dialami kali ini menunjukkan bahwa ia memang dalam kondisi sakit yang amat serius.

Farah melangkah keluar restoran dan memanggil taksi. Salah satu pramusaji memegang bahu sang manajer erat-erat, lalu bersamanya membawa ke rumah sakit terdekat. Sebelum menunduk ke dalam taksi, sang manajer berkata kepada Farah dengan suara serak, “Saya minta tolong, bawakan makan malam ke kamar 402 tepat jam delapan. Nanti, pencet saja belnya lalu bilang, ‘makan malam sudah siap, Pak’. Setelah itu, tinggalkan saja gerobak makan di depan pintu.”

“Oke, kamar 402 ya?” ujar Farah menegaskan.

“Ya, tepat jam delapan,” sang manajer menunduk sambil meringis kesakitan, kemudian masuk ke dalam taksi.

Menjelang jam delapan, Farah mempersiapkan makan malam untuk sang pemilik restoran. Ia mulai mendorong gerobak makanan menuju kamar 402. Itu adalah makanan standar untuknya: teh hangat tanpa gula, teko berisi air panas, nasi dan ayam goreng dengan sayur sup, ditambah beberapa iris semangka dan melon berikut sebotol air mineral.

Farah mendorong gerobak ke koridor, menghentikannya di depan pintu. Ia memastikan dengan memeriksa kembali ingatannya, “402”. Ya, benar yang ini. Ia berdehem dan menekan tombol. Tidak ada jawaban. Gadis itu berdiri di situ selama dua menit. Saat terpikir untuk menekan tombol yang kedua kalinya, tiba-tiba pintu terbuka. Seorang lelaki tua yang kurus dan rambut memutih. Ia lebih pendek dari Farah, sekitar lima atau tujuh sentimeter. Di balik kemeja batiknya seakan ia memberi kesan yang sangat bersih dan rapi. Pakaiannya disetrika dengan sempurna, rambut putihnya terlihat halus tersisir. Terlihat begitu necis dan perlente. Nampak seperti akan keluar untuk makan malam atau menghadiri suatu pertemuan.

“Makan malam sudah siap, Pak,” kata Farah dengan santun. Dengan tenang berdehem lagi, suaranya menjadi serak setiap kali dia merasa tegang.

“Makan malam?” kata lelaki tua dengan dahi mengerut.

“Iya Pak, soalnya Pak manajer sakit, lalu saya yang menggantikan. Jadi, ini makan malam Bapak.”

“Oh, begitu,” kata lelaki tua itu, hampir terdengar seperti berbicara sendiri. Tak berapa lama ia bergumam lagi, “Jadi, manajer sakit ya? Di mana dia sekarang?”

“Di rumah sakit, Pak, sepertinya dia merasa sakit pinggang.”

Pandangan lelaki tua itu menerawang, kemudian kata Farah lagi, “Apakah saya perlu memasukkan makanan Bapak?”

Lelaki tua itu terdiam sejenak, lalu bicara seperti tersentak, ”Oh ya, silakan… kalau kamu mau….”

Kalau saya mau? (pikir Farah). Rasanya seperti suatu perintah yang agak janggal. Lalu, lelaki tua itu membukakan pintu agak melebar, dan Farah mendorong gerobak pelan-pelan menuju ruang dalam. Lantai tertutup karpet berwarna kuning dengan motif batik. Ruangan itu tertata seperti ruang kerja daripada ruang keluarga. Jendelanya menghadap jalan raya dan sebuah gedung tinggi di seberang jalan. Sebuah meja besar berdiri di dekat jendela, dan di samping meja terdapat sofa dan kursi. Lelaki tua itu menunjuk meja kayu bertaplak plastik, dan si gadis mengatur makanannya di situ.

“Saya akan datang satu jam ke depan, kalau Bapak sudah selesai makan. Nanti, gerobaknya tolong ditaruh di lorong, ya Pak.”

Kata-kata Farah membuat lelaki tua itu tertegun sebentar, lalu jawabnya, “Oh ya, tentu saja… nanti akan saya taruh di lorong… seperti kata Neng….”

Baiklah, gadis itu menjawab dalam hati,  lalu katanya lagi, “Apakah ada lagi yang bisa saya lakukan untuk Bapak?”

“Untuk saya? Ooh tidak, saya kira sudah cukup.”

“Baiklah, kalau begitu, saya akan kembali bekerja.”

“Nanti dulu… tunggu sebentar,” katanya.

“Iya, Pak?”

Ia menghela napas, lalu katanya dengan agak ragu, “Apakah Neng boleh memberi saya waktu beberapa menit saja untuk sekadar bincang-bincang.”

Kata-katanya amat santun, sehingga membuat pipi Farah memerah, “Nggak apa-apa Pak, silakan… silakan saja….”

Padahal, lelaki tua itu kan majikannya. Pertanyaan seperti itu sepantasnya bukan tentang pemberian si gadis atas permintaan sang lelaki tua untuk meluangkan waktu. Lagipula, sang lelaki tua itu sama sekali tidak menampakkan gelagat yang kurang baik terhadapnya.

Farah dipersilakan duduk di sofa, lalu kata si lelaki tua, “Ngomong-ngomong, siapa nama Neng?”

“Farah.”

“Nama lengkap?”

“Farah Angguningsih.”

“Wah, bagus sekali namanya,” puji lelaki tua itu, kemudian sambungnya, “Berapa umur Neng?”

Dengan tanpa ragu, Farah pun menjawab, “Saya sembilan belas tahun sekarang.”

“Sembilan belas tahun sekarang?” ulangnya, menyipitkan matanya seolah mengintip melalui celah jendela, “Sembilan belas tahun sekarang… mulai kapan?”

“Baru saja sembilan belas,” Farah agak ragu-ragu menjelaskan, tapi ia pun menambahkan sambil tersenyum, “Hari ini ulang tahun saya yang ke sembilan belas, Pak”.

“Oo begitu? Ya, ya, saya mengerti… hari ini kan? Tepat hari ini adalah ulang tahun Neng yang ke sembilan belas. Itu artinya, kehidupan Farah Angguningsih di permukaan bumi ini telah dimulai sejak sembilan belas tahun lalu, begitu?”

“Iya Pak,” sambil mengangguk pelan.

“Ya, ya, saya mengerti… menarik sekali nampaknya… kalau begitu, Bapak ucapkan selamat berulang tahun yang ke sembilan belas….”

“Terima kasih, Pak… terimakasih….”

Farah menyadari, bahwa baru kali ini dalam sepanjang hari, ada orang yang menyatakan ucapan ‘selamat ulang tahun’ kepadanya. Dan orang itu justru adalah sang majikan restoran yang selama ini tak pernah menampakkan wajahnya. “Sekali lagi, saya ucapkan selamat ulang tahun… semoga di tahun-tahun mendatang tak ada lagi kegelapan yang menyertai kehidupan Neng Farah.”

Apa yang dikatakannya tadi, “tak ada lagi kegelapan yang menyertai kehidupan Neng Farah”.  Sepertinya agak aneh. Kenapa lelaki tua itu memilih kata-kata yang tidak lazim dipakai kebanyakan orang.

“Ulang tahun Neng yang ke sembilan belas hanya datang sekali seumur hidup. Ini adalah hari yang tak ada tandingannya,” tambahnya lagi.

“Iya Pak, saya mengerti,” jawab Farah pelan.

“Dan sekarang, di harimu yang spesial ini, kamu masih harus bersusah payah mengantar makan malam untuk saya seperti seorang bidadari yang baik hati.”

“Saya hanya melakukan tugas, Pak.”

“Tapi tetap saja. Kamu adalah seorang gadis yang sangat baik hati.”

Farah duduk merendah di atas sofa, dengan mengatupkan kedua kaki dan memundurkan roknya. Keheningan ruangan terasa agak aneh.

***

Lelaki tua dengan dandanan necis itu berdehem beberapa kali, lalu katanya lagi, “Jadi, hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke sembilan belas, dan lebih penting dari semua itu kamu malah membawakan saya makanan hangat yang menyenangkan.”

Ia meletakkan gelas setelah menyesap teh hangat, dan sambungnya, “Tentu momentum ini adalah suatu pertanda, atau suatu mukjizat tersendiri buat Neng, bukan begitu?”

Dengan tidak begitu yakin, Farah mengangguk pelan.

“Itulah sebabnya,” kata lelaki tua sambil memandang langit-langit, “pada momentum berharga di hari ulang tahun yang spesial ini, saya merasa perlu untuk memberi hadiah spesial, sebagai hadiah ulang tahun untuk Neng Farah.”

Merasa bingung, si gadis menggelengkan kepalanya dan berkata, “Nggak usah repot-repot, Pak, saya ini cuma mengantar makanan buat Bapak, seperti apa yang diperintahkan kepada saya. Itu saja.”

Lelaki tua itu mengangkat kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke arah gadis itu. “Tidak, Neng Farah, jangan berpikir yang nggak-nggak. Sebab, jenis hadiah yang ada dalam pikiran Bapak bukan sesuatu yang nyata, juga bukan sesuatu dengan label yang berharga. Tapi cukup sederhana… sangat sederhana….”

Lelaki tua itu meletakkan tangannya di atas meja dan mengambil satu napas panjang dan lambat. “Apa yang ingin saya berikan untuk seorang gadis muda yang baik hati sepertimu adalah dengan mengabulkan harapan yang mungkin kamu miliki, untuk mewujudkan keinginanmu menjadi kenyataan. Apa pun itu. Apa saja yang kamu inginkan, dengan asumsi bahwa kamu memang punya harapan yang ingin dikabulkan.”

“Sebuah harapan?” Farah bergumam, tenggorokannya terasa kering.

“Ya, sesuatu yang kamu inginkan, jika kamu punya keinginan saat ini. Jadi, cukup satu keinginan saja, dan saya akan mewujudkannya menjadi kenyataan. Itulah jenis hadiah ulang tahun yang bisa saya berikan untuk Neng Farah. Tapi, sebaiknya Neng pikirkan dulu dengan hati-hati, karena saya hanya mengabulkan satu permintaan saja.”

Lelaki tua itu menengadah, kemudian menghadap ke meja sambil mengaduk teh dengan sendok stainless hingga terdengar bunyi mendenting, kemudian ia membentangkan telapak tangannyana ke udara, “Silakan dipikir masak-masak, hanya satu permintaan saja. Setelah itu, kamu tidak akan mengubah atau mengembalikannya.”

Farah terdiam kaku, seakan kehilangan kata-kata. Satu permintaan? Dan akan terkabul? Tetesan hujan jatuh secara tidak merata di kaca jendela.

Selama ia terdiam, lelaki tua perlente itu menatapnya erat-erat, sambil terus mengaduk-aduk tehnya. Waktu berdentang tidak teratur di telinganya.

“Saya harus meminta sesuatu, dan itu akan terwujud?”

Lelaki tua itu tersenyum sambil menatap matanya, “Bagaimana Neng Farah? Apakah Neng nggak punya keinginan? Apakah Neng nggak punya sesuatu yang diharapkan saat ini?” ia terus mencecar dengan lembut dan santun.

***

“Lalu, bagaimana? Apakah waktu itu kamu membuat permintaan?” tanya saya sebagai sahabat karibnya.

Farah menatap saya sebentar, menghela napas dan katanya pelan, “Ya, saya membuat permintaan.”

Ia pun menceritakan lelaki tua itu yang menatap lama ke arahnya, tidak berkedip dan tidak mengatakan apa-apa, dengan tangan yang masih mendentingkan sendok dan gelas. Di meja itu ada beberapa folder tebal yang mungkin merupakan buku keuangan, ditambah alat tulis, kalender, dan lampu dengan warna agak merah. Tergeletak di antara benda-benda itu, satu set perabot desktop lainnya. Hujan semakin deras menerpa kaca jendela. Kerutan di dahi lelaki tua itu semakin dalam.

“Benar, itu keinginanmu?” katanya kemudian.

“Ya,” jawab Farah singkat.

“Serius?”

“Ya.”

Lelaki tua itu tersenyum, seolah menikmati kemenangan. Lalu, katanya lagi, “Sepertinya agak aneh untuk gadis seusia Neng. Saya justru mengharapkan sesuatu yang lain.”

“Kalau menurut Bapak itu tidak baik, saya akan berpikir-pikir lagi untuk permintaan yang lain.”

“Oo, nggak usah, nggak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan permintaan itu, lagipula usia Neng sudah sembilanbelas sekarang,” ia mengangkat tangannya dan melambaikannya seperti memberi isyarat perpisahan, “Baik, nggak apa-apa. Sekarang Neng Farah sudah dewasa, dan mulai beranjak ke usia duapuluh. Hanya menurut saya, permintaan itu cukup mengejutkan. Bukankah Neng bisa minta sesuatu yang umum, misalnya ingin menjadi lebih cantik, ingin pintar, ingin kaya-raya? Padahal, tidak apa-apa meminta salah satu dari yang saya sebutkan tadi, seperti yang ada di pikiran gadis-gadis pada umumnya.”

Farah menggeser duduknya, berdehem sambil mencari kata-kata yang tepat. Lelaki tua itu hanya menunggu, tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara tangannya bersandar di atas meja.

“Tentu saja saya ingin menjadi lebih cantik atau lebih kaya. Tapi saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya jika hal-hal itu menjadi kenyataan. Hal semacam itu mungkin lebih daripada yang bisa saya tangani. Saya masih belum benar-benar tahu tentang hidup ini. Saya tidak tahu bagaimana hal semacam itu bekerja dalam kehidupan saya.”

“Ya, ya, saya mengerti,” kata lelaki tua itu, menjalin jari-jemarinya lalu memisahkannya kembali.

“Jadi, nggak apa-apa dengan keinginan saya yang seperti itu?”

“Nggak apa-apa,” katanya tegas. “Tentu saja. Bagi saya, nggak masalah dengan permintaan seperti itu.”

Lelaki tua itu tiba-tiba memusatkan pandangannya pada satu titik di udara. Kerutan di dahinya semakin dalam. Kemungkinan juga kerutan di otaknya sendiri saat berkonsentrasi pada pikirannya. Ia sepertinya sedang menatap sesuatu. Mungkin hal-hal yang tidak terlihat, seakan mengambang di udara. Ia membuka tangannya lebar-lebar, tubuhnya sedikit terangkat dari kursi, lalu meregang dan menggoyangkan telapak tangannya yang kosong. Sambil duduk kembali di kursi perlahan-lahan, ia mengusap ujung jari di sepanjang kerutan di alisnya seakan terlepas dari suatu beban, dan merasa rileks. Ia menoleh pada Farah dengan sorotan mata yang terpancang ke langit-langit ruangan.

“Sudah berhasil,” kata lelaki tua itu, “keinginanmu sudah terkabul.”

“Benar, sudah selesai?” tanya Farah terbengong-bengong.

“Ya, sudah cukup, sudah selesai. Selamat ulang tahun, wanita yang baik hati. Kamu dapat kembali bekerja di bawah. Sekarang saya merasa lapar. Jangan khawatir, setelah makan nanti saya akan menaruh gerobak di lorong.”

Farah merapikan pakaiannya, kemudian melangkah pelan-pelan menuju lift. Tangannya kini kosong, ia merasa hampir sangat ringan, seolah-olah berjalan di atas bulu beruang atau bulu monster berwarna belang hitam dan putih yang misterius.

“He, apakah kamu baik-baik saja? Kok kamu kelihatan bingung? Ada apa, Farah?” kata seorang pelayan yang lebih muda darinya.

Ia membalasnya dengan senyum aneh, lalu menggelengkan kepalanya, “Oh ya, nggak apa-apa, saya baik-baik saja.”

“Coba ceritakan bagaimana pendapatmu tentang pemilik restoran ini? Seperti apa dia?” tanya seorang pelayan lain. Dan ia pun membisu, tak menjawab sepatah kata pun.

Satu jam kemudian, ia pergi untuk mengambil gerobak makanan yang tergeletak di lorong. Pintu kamar 402 tertutup tak bergeming. Ia menatapnya sebentar, merasa seolah-olah pintu itu bisa terbuka saat ia berdiri di sana, tetapi pintu itu tidak terbuka. Ia membawa gerobak menuju lift dan mendorongnya ke mesin cuci piring. Seorang koki memandangi piring dan gelas kosong, sambil melirik ke arahnya dengan tatapan kosong.

 “Setelah kejadian malam itu, saya tak pernah melihat pemilik restoran itu,” kata Farah lagi. Ia menjelaskan bahwa sang manajer telah sembuh dari sakitnya, lalu mengerjakan tugasnya seperti biasa. Beberapa hari kemudian, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di restoran itu. Bahkan, entah kenapa, ia merasa enggan untuk pergi ke tempat yang lebih dekat dengan restoran itu.

***

Farah kini sudah bukan gadis lagi. Sekarang ia sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami dan kedua anaknya. Ketika saya berjumpa dengannya di sebuah café, ia sedang menopangkan dagunya di atas meja dengan pandangan menerawang. Kami melanjutkan perbincangan yang sudah kami lakukan melalui handphone. Ia berkata dengan tatapan berkaca-kaca, “Kadang-kadang saya merasa bahwa kejadian malam itu, di hari ulang tahun saya ke-19 hanyalah mimpi kosong atau sekadar ilusi saja. Saya kadang menghibur diri dengan pikiran bahwa apa yang terjadi itu tak pernah benar-benar terjadi. Ah, itu cuma mimpi! Tetapi, kemudian saya tersadar bahwa tak ada gunanya dengan menghibur diri semacam itu. Karena, apa yang pernah saya alami benar-benar kenyataan yang terjadi dalam hidup saya.”

Kami berdua terdiam beberapa saat, meminum juice alpukat yang disediakan pelayan, kemudian saya bertanya dengan nada serius, “Apakah penyesalan kamu dengan pilihan yang keliru pada saat itu, pernah membuat kamu merasa frustasi hingga ingin bunuh diri?”

“Tidak,” katanya menggeleng, “umur saya masih cukup muda. Saya tak mau didera oleh rasa menyesal yang teramat dalam hingga berkeinginan bunuh diri. Perjalanan hidup saya masih panjang ke depan, dan biarlah penyesalan itu menjadi pelajaran yang berharga buat saya.”

Beberapa saat hening mengikuti kami. Matanya yang tertuju pada saya seperti mengalahkan kedalaman apa pun. Tatapan Farah terlihat hening, dan bayangan senyum pada bibirnya, memberi saya ketenangan dan kenyamanan tersendiri.

“Sekarang ujian hidup yang saya jalani adalah bagaimana saya harus mensyukuri apa yang ada. Saya sudah menikah dengan seorang pedagang dan pengusaha IT yang cukup sukses. Suami saya hanya dua tahun di atas usia saya. Sekarang saya punya dua anak, lelaki dan perempuan. Keluarga kami punya beberapa binatang piaraan, yang tiap pagi dan sore diberi makan oleh seorang pembantu kami. Dan saya sendiri punya klub bulutangkis, yang tiap minggu berlatih di alun-alun kota sambil mengendarai sedan pemberian suami saya. Bukankah semua itu adalah kenyataan hidup yang harus saya syukuri?”

“Walaupun bemper sedanmu penyok?” sindir saya sambil tersenyum.

“Hehehe, nggak apa-apa penyok, nanti kan bisa dibetulkan…tapi,” seraya memikirkan sesuatu, kemudian ia bertanya, “Tapi, ngomong-ngomong, bukankah bemper mobil itu diciptakan untuk penyok?”

Kami tertawa terbahak-bahak, dan saya pun mengulangi filosofi hidup yang menarik itu,

“Bukankah bemper itu diciptakan untuk penyok?”

Saat itu, kami bersenda gurau dalam waktu yang cukup lama.

Sebelum kami berpisah, ada ungkapan menarik yang membuat saya teringat pada adegan-adegan dalam film Nomadland. Kata-kata itu masih terbayang dalam ingatan saya, ketika Farah menegaskan: “Kita harus mensyukuri apa yang ada. Jangan sampai berlarut-larut menyesali apa yang telah menjadi pilihan kita. Biar keliru atau salah sekalipun. Karena, seberapa jauh pun kita melangkah, pada akhirnya kita takkan pernah menjadi apa-apa selain menjadi diri kita sendiri….” (*)

 

 

*) Cerpenis yang menulis di berbagai media massa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *