Sekolah Alam Assalam Tawarkan Pendidikan Alternatif Berbasis Lingkungan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KM62) ALIM: Salah satu pendamping di Sekolah Alam Assalam.

KABARMADURA.ID – Di daerah perbukitan yang tandus dan penuh gundukan batu-batu hitam, dengan mayoritas penduduknya sebagai kuli dan petani, berdiri satu gubuk kayu yang menjadi tempat belajar anak-anak desa. Komunitas belajar ini bernama Sekolah Alam Kebun Assalam. Berdiri tepat di Desa Prancak, salah satu desa ujung barat kabupaten Sumenep. Komunitas sekolah alam ini dirintis oleh Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) Ponpes Annuqayah, sejak tahun 2019.

ROYCHAN FAJAR, SUMENEP

Bacaan Lainnya

Sekolah Alam Kebun Assalam ini berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Sekolah alam sengaja disiapkan untuk melahirkan generasi tangguh yang mencintai alam dan lingkungan. Saat ini, pendidikan berbasis lingkungan menjadi penting di setiap daerah, termasuk di Sumenep yang mengalami banyak krisis lingkungan hidup.

Sistem pembelajaran komunitas sekolah alam ini tidak kaku. Sebaliknya, proses belajar-mengajar di komunitas ini dilakukan dengan cara-cara menyenangkan. “Di sekolah alam ini, anak-anak bisa belajar bebas di alam terbuka. Belajar apa saja yang mereka mau, yang mereka senangi,” tutur Alim, pendamping belajar di Sekolah Assalam.

Dengan cara itu, para siswa diajak belajar lebih peka pada alam. “Format sekolah alam sangat efektif untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, orang lain, dan terlebih pada desa mereka sendiri. Dia menambahkan, sebagai desa subur dan alami, dia ingin dengan kegiatan ini, generasi Desa Prancak kelak menemukan jati dirinya untuk menjaga tanah leluhur, kearifan lokal, dan kelestarian desanya,” ungkap Anisa, perempuan yang menjadi tenaga pengajar di Sekolah Alam Assalam.

Dia mengungkapkan, anak-anak yang belajar di sekolah alam ini tak dipungut biaya sepeserpun. Saat tarif pendidikan formal kian mahal, sekolah alam ini sangat tepat menjadi pendidikan alternatif.

Bukan hanya anak didiknya yang bebas biaya. Begitu juga para pengajarnya, mereka juga tidak digaji. “Kita mengajar dengan ikhlas untuk beramal,” ungkap Alim.

Sekolah Alam ini, meski berlangsung sangat murah, tapi bukan sekolah yang murahan.. Generasi saat ini nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan menjaga lingkungan di hari-hari yang akan datang.

Jika di Swedia punya Greta Thunberk, gadis usia 18 tahun yang selalu lantang menyuarakan isu-isu lingkungan global, seperti: global warming (pemanasan global), climate change (perubahan iklim), di Sumenep, kita punya anak-anak sekolah alam, yang sejak dulu sudah dibina menjadi generasi pejuang lingkungan.  (maf)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *