Selama Tiga Bulan Bekerja, Vaksinator Belum Terima Insentif

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) IKHLAS MENYUNTIK: Setiap vaksinator diberikan insentif  Rp1.000 untuk sekali suntikan vaksin, namun mereka belum terima insentif sejak Mei 2021.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Insentif untuk vaksinator di Bangkalan belum juga diberikan. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan telah menyiapkan dana sebesar Rp11,66 miliar untuk insentif tersebut.

Dalam petunjuk realisasinya, setiap vaksinator diberikan insentif  Rp1.000 untuk satu kali suntikan vaksin. Namun hingga awal Agustus 2021, penyerapannya anggaran itu masih 0 persen.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo menyampaikan bahwa yang paling rendah dari semua insentif tenaga kesehatan adalah untuk vaksinator. Mereka belum juga menerima insentif tersebut dari pemerintah daerah.

“Dananya sudah disiapkan, tapi proses pencairannya belum,” katanya.

Dana sebesar Rp11,66 miliar itu bersumber dari hasil refocusing anggaran dana alokasi umum (DAU) dan dana bagi hasil (DBH) APBD yang dialokasikan di setiap organisasi pemerintah daerah (OPD), masing-masing dengan potongan 8 persen.

Dana tersebut memang diperuntukkan untuk mempercepat penanganan Covid-19 di Bangkalan. Sayangnya, pembahasannya baru selesai pada Juni 2021 lalu, jadi kini proses pengurusannya masih bertahap.

Selain itu, insentif setiap vaksinator dihitung dari jumlah banyaknya warga yang divaksin. Setiap warga yang ditangani, vaksinator akan mendapatkan insentif sebesar Rp 1000. Sehingga bisa dikatakan sangat kecil.

“Mereka hanya dapat ini, sedangkan jumlah masyarakat yang divaksin juga sedikit,” ulasnya.

Sudiyo mengupayakan agar pengumpulan data akumulatif jumlah vaksinasi setiap vaksinator akan segera dirampungkan, agar pada Agustus 2021 ini  bisa dicairkan.

Kondisi tanpa honor itu menurut salah satu tenaga vaksinator, Isma Diana, sudah terjadi sejak Mei lalu. Berdasarkan penghitungannya, sudah cukup banyak warga yang divaksin. Namun Isma mengaku bahwa tidak setiap hari dirinya mendapatkan tugas menjadi vaksinator. Sebab, jumlah dan minat vaksinasi sepertinya mulai turun.

“Sekarang sudah mulai jarang, jadi sudah tidak banyak tambahan lagi untuk dapat insentif,” ungkap Isma. (hel/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *