oleh

Semangat Tularkan Dunia Literasi di Pesantren

Kabarmadura.id/SUMENEP-Proses panjang Syaf Anton Wr, dalam dunia kepenulisan dimulai dengan menjajah pesantren-pesantren di Sumenep sebagai ladang mencetak bibit unggul di dunia kepenulisan.

Pada awal tahun 80-an, dia mendatangi pesantren ternama di Kota Keris ini, yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amien Prenduan dan Ponpes Annuqayah sebagai lahan untuk menularkan kecintaannya terhadap dunia kepenulisan (kesusastraan) dan kebudayaan.

Pilihan pesantren dilatarbelakangi rasa penasaran, sebab orang perkotaan menilai kiprah lulusan pesantren hanya tukang doa dalam mencukupi kebutuhan ekonomi. Ternyata ketika menyelami di dalamnya maka ada timbal balik, dia juga belajar banyak dengan sistem-sistem di pesantren.

“Saya melakukan pendekatan dengan sowan kepada para pengasuh untuk melakukan aktivitas giat literasi dan kebudayaan, dan alhamdulillah saya bisa diizinkan, dan mulai beraktivitas di dua pesantren tersebut,” katanya, Kamis (20/8/2020).

Aktivitas pesantren yang padat mengharuskan dia mengikuti sistemnya. Selain hari libur yaitu Jum’at rutinitas di pesantren berkesinambungan. Dari habis sholat subuh sampai jam malam sudah dipastikan ada rutinitas belajar mulai dari kitab samapai materi lainnya.

Pria yang lahir di Sumenep 13 Juni 1956 itu melanjutkan, hari libur tersebut digunakan untuk diskusi-diskusi seputar dunia kepenulisan. Dia harus pindah-pindah, pagi di Al-Amin sore di Annuqayah, jadwal itu dilakukan secara terus menerus.

“Juga teman-teman santri bisa menyimak materi melalui siaran RRI, pada waktu itu mereka mencatat pertanyaan-pertanyaan untuk disampaikan pada hari Jumat itu,” imbuhnya.

Selain dikenal sebagai penyair dan penggerak sastra di Madura, dia juga disebut sebagai budayawan Madura. Aktif menggerakkan dan memotivasi masyarakat tentang pentingnya kesenian daerah, khususnya dalam bentuk kearifan lokal, bahasa dan sastra Madura.

Untuk mewadahi bibit penulis, dia mendirikan Forum Kajian Sastra dan Budaya (Forum Bias), yang merupakan media komunikasi budaya yang digerakkan dan dikelola sendiri sejak tahun 1994 untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kesenian melalui berbagai kegiatan sastra dan budaya. Mulai menulis puisi, cerpen, artikel dan jurnalistik.

Lebih jauh dia pernah mendirikan Bengkel Seni Primadona; (1984), mendirikan Sanggar Sastra Mayang; (1997), sebagai koordinator Jaringan Seniman Sumenep (JSS) (1999), dan Ketua Umum Dewan Kesenian Sumenep (2000-2005).

Produktivitasnya dalam menulis bisa dilihat dari buku-bukunya, yaitu Cermin (1990), Bingkai (1993), Terakhir Langit Suasa Langit Pujangga  2015).

Selain itu beberapa karyanya terangkum dalam antologi bersama, antara lain, Puisi Penyair Madura (Sanggar Tirta, 1992), Festival Puisi Jatim (Genta, 1992), Pameran Seni Rupa Keterbukaan (KSRB, 1994), Tanah Kelahiran (Forum Bias, 1994), Nuansa Diam (Nuansa, 1995), Sajak-sajak Setengah Abad Indonesia (TBS, 1995).

Kemudian, Kebangkitan Nasional II (Batu Kreatif, 1995),Tabur Bunga Penyair Indonesia I (BSB, 1995), Bangkit III, (Batu Kreatif, 1996), Tabur Bunga Penyair Indonesia II, (BSB, 1996), Api Pekarangan (Forum Bias, 1996), Negeri Impian (Forum Bias, 1996).

Negeri Bayang-Bayang (FSS, 1996), Langit Qosidah (FKBI Annas, 1996), Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Luka Waktu (TB Jatim, 1998), Memo Putih, (DKJT, 2000) dan sejumlah antologi lainnya yang tidak terdokumentasi.

“Alhamdulillah tidak sedikit penulis yang sudah terkenal di Sumenep ini, ratusan, bahkan ribuan. Baik yang menetap maupun tinggal di luar Sumenep,” pungkasnya. (ara/pin)

Komentar

News Feed