Senantiasa Mengeja Aksara

Oleh: Muhammad Itsbatun Najih

Bergiat di Muria Pustaka, Kudus

Pendidikan keaksaraan memerlukan pembaruan dan perluasan. Dimulai keaksaraan fungsional sebagai fase dasar; berinti bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan terbatas. Merujuk data Kemendikbud, tahun 2017, masih ada lebih tiga juta jiwa masyarakat Indonesia atau sekitar tiga persen, belum mencapai standar aksara fungsional. Kelompok ini terlabeli dengan buta aksara. 97 persen sisanya, sebagiannya merupakan kelompok yang baru saja mencapai keaksaraan dasar; lantas dilanjutkan pendidikan keaksaraan lanjutan.

Bacaan Lainnya

Keaksaraan lanjutan –sebagai kelompok kedua– mesti dikawal. Potensi kembali buta aksara sangat terbuka. Pondasi keaksaraan masih belum kuat. Tersebab media/lingkungan untuk berliterasi, minim. Pada kelompok ini, asal telah bisa membaca, menulis, berhitung, tampak saja bersemat dengan bebas buta aksara. Meski demikian, kelompok ini faktualnya masih teranggap buta aksara sebagian.

Termasuk dalam 97 persen itu pula, adalah masyarakat yang usai dari pendidikan aksara lanjutan. Penulis sematkan sebagai kelompok ketiga yang berpunya dua kategori. Pertama,  merujuk pendidikan formal, mereka lulus sekolah dasar atau SLTP. Kelompok ini lancar membaca dan bisa menulis. Hanya saja, keaksaraannya berjalan di tempat; lantaran minim berliterasi.

Kelompok ketiga kategori pertama nyatanya mewarnai narasi-narasi di ruang publik cukup menonjol. Semisal, mereka mestinya menulis “jual bensin”, bukan “jual bengsin”. Kedua, mereka yang lulus bangku SMA; telah mempunyai pemahaman cukup terhadap teks. Mereka bakal tergelitik kala melihat tulisan “bengsin”. Kelompok ini cukup mengerti dasar-dasar tata bahasa Indonesia semisal awal kalimat harus ditulis menggunakan huruf kapital. Meski begitu, kelompok ini masih terbilang terbatas berliterasi.

Lantaran dianggap telah cakap beraksara, apa yang teruar dari kelompok ketiga tersebut, teranggap sahih dan digunakan secara bersama pada interaksi publik. Karena kelompok ketiga berjumlah cukup besar, membawa imbas: segala yang diuarkan, itulah “kaidah” berbahasa Indonesia. Mereka kerap menulis untuk perbincangan kebahasaan sehari-hari macam “apotik”, “sate”, “himbau”, “mie”, “merubah” ketimbang “apotek”, “satai”, “imbau”, “mi”, “mengubah”. Wawasan kebahasaan-keberaksaraan serasa mandek. Karena itu, kelompok ini memerlukan asupan bacaan populer sejenis majalah dan koran.

Lalu, simak pula uaran “mawas diri”; yang berarti sikap mengoreksi diri. Padahal, yang benar adalah “wawas diri”. “Mawas” merupakan sebangsa orang utan. Sayangnya, uaran tersebut dipakai pula oleh kelompok keempat. Kelemahan berbahasa-beraksara paling kentara kelompok keempat ini senyatanya masih berkutat pada penggunaan kata tidak baku. Masih sering menulis “afdol”, “panu”, “jumawa”, “legowo” ketimbang “afdal”, “panau”, jemawa”, “legawa”. Penulis membagi pula kelompok keempat ini menjadi dua kategori.

Pertama, mereka yang sedang/telah mengenyam bangku perkuliahan; yang sehari-hari erat berkegiatan membaca buku, membaca berita media daring, rajin mengunggah tulisan di media sosial dan blog. Kiranya kelompok keempat kategori pertama ini paling semarakkan perbincangan di jagat maya. Ironisnya, kemumpuniannya berbahasa-beraksara direduksi sendiri. Mereka tetap menulis “yg”, “sdh”, “ato”, “sy”  ketimbang “yang”, “sudah”, “atau”, “saya”. Pun, kerap abai penggunaan kata “di”; antara yang dirangkai dan dipisah. Lantas, apa jadinya bila model kecakapan keaksaraan kelompok ini dijadikan rujukan oleh kelompok pertama dan kedua?

Reduksi lainnya, kala lincah menggunakan istilah bahasa asing; yang sebenarnya ada padanan Indonesia-nya. “So far”, “which is”, “handphone”, “contact person”, “gadget”. Bahasa asing memang perlu dikuasai di era globalisasi. Namun, dalam konteks keindonesiaan, sudah seyogianya narasi teks menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ada kesan menohok terhadap kelompok ini: lantas apa bedanya dengan kelompok kedua dan ketiga?

Kedua, mereka yang lazimnya berprofesi dosen, wartawan, pegiat literasi. Narasi mereka dalam teks-teks terbabar luas di media massa, jurnal ilmiah, maupun buku-buku. Mereka sangat menjunjung adab berbahasa, lebih-lebih kala menulis, sekalipun di media sosial. Dari kelompok ini, kita bisa memafhumi bahwa memang seperti itulah praktik berbahasa-beraksara yang benar dan baik secara ideal mampu terlaksana.  Namun, apakah kelompok ini terkata sudah paripurna mumpuni beraksara-berbahasa? Jawabannya: belum!

Permasalahan yang kerap membelenggu, kala mereka masih terjerat problem penulisan kalimat lewah. Lancar menulis hingga paragraf demi paragraf, tetapi saat dicerna, ternyata sepuluh paragraf-nya itu, misal, bisa diringkas menjadi dua-tiga paragraf. Problem berikutnya, kelompok ini tidak jarang tetap menyandingkan istilah asing meski pembaca telah memafhumi. Mengapa perlu ditambahkan aspek keinggrisan yang justru mengulang informasi; boros kata.

Paparan di atas merupakan renungan perihal arti sebenarnya bebas buta aksara. Nyatanya, di semua lapisan/kelompok di atas, masih mengalami permasalahan keaksaraan sesuai kadar masing-masing. Tidak ada yang laik untuk mengklaim telah seratus persen melek aksara, cakap berbahasa. Karena itu, pendidikan aksara adalah pendidikan seumur hidup yang nirparipurna.

Penulis membagi menjadi empat kelompok keaksaraan tersebut berangkat dari amatan awam di lingkup keseharian penulis. Lantaran hakikatnya tidak ada yang benar-benar melek aksara secara kualitatif, kita perlu untuk saling menuntun, mengoreksi, dan senantiasa meningkatkan daya literasi. Pada setiap teks, praktis ada pembacaan dan dilanjutkan penulisan teks berikutnya. Kesinambungan berliterasi seperti itulah yang menghendaki kelestarian aksara. Pungkas paparan, cara sederhana melestarikan aksara bisa dimulai dengan mengoreksi tulisan penulis ini; yang tentunya masih menampakkan banyak kecacatan berbahasa-beraksara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.