Sengketa Pantai Tengket Berakhir, Masyarakat Setujui Pantai Tengket Menjadi Wisata Relegi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) INDAH: Pemandangan di pantai tengket, Desa Maneron, Sepulu

Kabarmadura.id/Bangkalan– Setelah mengalami polemik yang cukup alot, kini wisata Pantai Tengket di Desa Maneron, Kecamatan Sepulu menemui titik terang. Rencananya pantai tersebut akan tetap dibuka sebagai wisata religi.

Sebab, sebelumnya lokasi yang berdempetan dengan pesisir pantai itu ada makam Ra Lilur. Kini, izin pengelolaannya juga mulai diurus. Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bangkalan mengungkapkan, sudah ada petugas yang turun ke sana untuk meninjau lokasi guna kepengurusan izin.

Bacaan Lainnya

“Sudah tidak ada masalah untuk izinnya,” ungkap Kepala DPMPTSP Bangkalan Ainul Ghufron.

Lebih lanjut, dia menerangkan, mengenai izin itu, dia bisa mengeluarkan jika sudah ada rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan. Tapi, rekomendasi itu belum sampai pada pihaknya. Kata dia juga, sudah ada persetujuan untuk dijadikan wisata baik dari tokoh masyarakat maupun dari kedinasan.

“Sudah ada dukungan waktu kami meninjau bersama bupati, sekda dan Disbudpar kemarin baik dari tokoh maupun ustaz di sana,” paparnya.

Mengenai siapa yang akan mengelola, Ainul menerangkan, masih tahap pengkajian. Di mana bisa diajukan perizinannya oleh BUMDes atau pariwisata sebagai pengelolanya. Yang jelas, imbuh Ainul, berdasarkan hasil kesepakatan akan dijadikan wisata religi.

Sementara itu, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Nur Hasan yang berulang kali mencoba memediasi kedua belah pihak mengenai izin wisata itu mengungkapkan, berdasarkan hasil pemanggilannya yang telah dilakukan beberapa waktu lalu, pihaknya telah menyerahkan sepenuhnya pada pihak masyarakat desa di sana. Dia meminta agar pihak Kepala Desa (Kades) dan pihak pengelola wisata itu yakni Badar agar duduk bersama menyelesaikan permasalahan itu.

“Kalau rekomendasi dari Komisi D kami suruh selesaikan berdua antara Kades dan pengelola. Masalah apakah  Dinas Pariwisata membntuk tim untuk itu diluar kewenangan saya,” jelasnya.

Kendati mulai ada kesepakatan dan izin baik dari tokoh masyarakat maupun dinas terkait untuk dijadikan wisata religi, perangkat desa tetap menolak jika lokasi itu dijadikan wisata. Melalui kuasa hukum pengelola wisata Pantai Tengket Abdurrahman Hafi menyebutkan, persoalan sengketa pantai itu belum selesai.

“Kepala desa dan BPD tetap menolak menjadikan Pantai Tengket sebagai wahana wisata,” paparnya.

Dia menerangkan, menyikapi polemik ini, pihaknya bersama pengelola wisata akan menempuh jalan normatif saja. Di mana pengelola tetap membuka pantai sebagaimana dahulu sambil lalu akan diproses apa yang dibutuhkan untuk mengukuhkan Pantai Tengket sebagai tempat wisata yang diakui oleh Pemkab Bangkalan.

“Bukan izin. Lebih tepatnya adalah pengakuan pemerintah bahwa Pantai Tengket itu menjadi salah satu ikon pariwisata yang ada di Bangkalan,” imbuhnya.

Abdurrahman Hafi menjelaskan, nantinya akam ada penekanan yang lebih kepada pengukuhan wisata religi untuk petilasan Ra Lilur.

“Jadi pantai dengan semua pedagangnya hanyalah tempat singgah pengunjung untuk berkuliner dan istirahat,” tukasnya. (ina/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *