Seorang Kepsek Keluhkan Biaya Cetak Buku Program SGSB Disdikbud Pamekasan


Seorang Kepsek Keluhkan Biaya Cetak Buku Program SGSB Disdikbud Pamekasan
(DOK. KM.ID) Bimtek SGSB Disdikbud Pamekasan beberapa waktu lalu.

KM.ID I PAMEKASAN – Program Satu Guru Satu Buku (SGSB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan dikeluhkan salah seorang kepala sekolah dasar (SD) setempat. Pasalnya, biaya cetak buku karya guru ini dianggap terlalu mahal.

Salah seorang kepala SD yang enggan disebut identitasnya, menjelaskan, bahwa biaya editing saja harus merogoh Rp850 ribu. Nominal tersebut belum termasuk biaya cetak.

"Namun sekarang ada diskon Rp200 ribu, sehingga menjadi Rp650 ribu. Diskon ini berlaku sebelum akhir Oktober, kalau sesudah itu akan kembali ke harga asal," ungkapnya kepada KM.ID, Selasa (25/10/2022).

Sementara biaya cetak satu buku, lanjutnya, jika mencapai 100 lembar, yakni Rp30 ribu per eksemplar.

"Untuk biaya menjadi member, harus bayar lagi Rp35 ribu, kemudian nanti setelah jadi bukunya, penulis harus membayar Rp85 ribu untuk biaya poster katanya," terangnya.

Dia mengatakan, cetak buku ini memang tidak diwajibkan oleh Disdikbud, namun jika sudah diinstruksikan untuk menulis tuntas, maka akhirnya akan mencetak juga.

"Ada iming-iming juga foto dengan Bupati Pamekasan kalau bukunya sudah jadi. Saya pikir, program ini sudah berbeda tujuan, bukan lagi peningkatan kompetensi literasi namun bisnis semata,” tudingnya.

Menanggapi itu, Kabid Sekolah Dasar Disdikbud Pamekasan, Fatimatuz Zahroh, menyampaikan, persoalan biaya cetak dan lain-lain itu bukan urusannya.

Sehingga, pihaknya tidak tahu-menahu secara rinci uang yang harus dikeluarkan masing-masing guru yang menulis.

"Program tersebut memang milik Disdikbud Pamekasan, namun persoalan biayanya berapa itu urusan penulis dan media guru Indonesia,” ungkapnya kepada KM.ID, Selasa (25/10/2022).

Namun, kata perempuan yang akrab disapa Matus itu, biaya Rp850 ribu sudah termasuk biaya  International Standard Book Number (ISBN) yang akan diurus oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pamekasan dengan Media Guru Indonesia.

"Kalau soal itu, jelas kami tidak ikut, sebab yang membantu mengedit, lay out dan sebagainya itu dari media partner, sehingga bisa dipasarkan secara nasional," pungkasnya.

Reporter: M. Arif
Redaktur: Ongky Arista UA