oleh

Seputar Anak, Seputar Parenting

Paradigma pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan anak dimulai setelah usia 6 tahun adalah keliru. Hal ini dibuktikan di negara maju seperti Amerika. Program pendidikan justru dimulai sebelum duduk di bangku sekolah, dengan program-program yang secara umum disebut sebagai Prasekolah (Pre School). Di Amerika, Prasekolah atau Pengasuhan dan Pendidikan Anak usia dini ini telah diterapkan sejak 1600 hingga 1850-an (Jaipaul L. Roopnarine dan James E. Johnson, 2015). Sementara di Indonesia, eksistensi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru dimulai sejak 1964 (Ahmad Mushih, 2017).

Kemajuan dalam riset neuroscience telah mengarah kepada gambaran yang meyakinkan akan anak kecil sebagai pelajar yang kompeten dan intensional (Nelson & Bloom, 1997). Penelitian ini menunjukkan perkembangan otak anak usia 2-7 tahun, berkembang 90% dari otak dewasa, baik itu motorik maupun sensorik. Sehingga beberapa ahli psikologi pendidikan menandai masa ini dengan masa praoperasional (preoperational stage)yang ditandai dengan perkembangan kognitif anak usia dini.

Beberapa penelitian lain juga menyebutkan bahwa pada usia 0-7 tahun, anak usia dini berada dalam masa emas. Yaitu masa yang menentukan perkembangan anak berikutnya. Perkembangan kepribadian dan sifat anak, dapat dikembangkan melalui pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan orang tua, kakak, guru dan lingkungan sekitarnya  (Sujiono, 2009). Orang tua sebagai pendidik utama harus menerapkan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, sikap, dan termasuk potensi masing-masing anak.

Anak adalah pembelajar yang baik. Setiap pendidik harus mampu mengembangkan semua potensi anak bukan hanya pada ranah kognitif, afektif dan juga psikomotorik, namun juga kepribadian, sikap, dan potensi pribadi anak. Semua potensi tersebut memiliki keterkaitan erat satu sama lain. Contohnya, Anak akan bersikap sesuai dengan sugesti guru di sekolah. Anak akan merasa kurang percaya diri jika ia salah dalam menerapkan perintah guru. Selain itu, anak memiliki kepandaian dalam meniru aktivitas lingkungan, semua kejadian yang dialami anak akan tersimpan dalam memorinya. Jangan heran jika anak pandai berkata kotor karena ia terbiasa mendengar dari orang-orang di sekelilingnya.  Anak pandai meniru (imitasi) aktifitas lingkungan akibat menangkap kejadian yang berulang-ulang.

Istilah program Prasekolah yang melibatkan orang tua ini, oleh negara maju disebut Program Intervensi Anak. Di mana, program intervensi anak usia dini yang efektif adalah intensitas (Blair dkk., 1995). Seperti halnya pola asuh autoritatif (autoritative parenting) lambat laun mengilhami orang tua untuk mengenali masa-masa potensial anak dan mendorong orang tua menjadi pendidik utama anak yang sesungguhnya. Dalam pola ini, orang tua intens dalam mendidik dan menginternalisasi nilai-nilai (values) dalam keseharian anak.

Melalui Pola asuh autoritative parenting, Salah satu metode untuk memberikan pengetahuan dan membentuk moral anak yang baik, yaitu ketika anak dituntun untuk menerapkan banyak nilai melalui satu pendekatan. Satu pendekatan diharapkan mampu menjelaskan berbagai nilai, seperti halnya konsep Tematik yang sering kita jumpai di dalam Kurikulum 2013. Dalam tulisan ini, pendekatan yang digunakan adalah menabung, yang pada akhirnya akan menyentuh aspek-aspek kogntif, afektif dan psikomotorik.

Menabung merupakan hal positif yang berkaitan dengan nilai uang, ekonomi, dan kemandirian. Seorang anak mengenal uang karena ia sering melihat uang dipergunakan. Uang bagi anak kecil dinggap sebagai sesuatu yang penting, karena orang dewasa dapat menukarnya dengan hal apapun, baik berupa beras atau cokelat segar. Selain itu, bagaimana uang diperlakukan dengan cara yang berbeda, ia harus disimpan rapat di dompet, atau bahkan lemari kamar.

Untuk memulai metode ini, orang tua memberikan uang mainan untuk menjelaskan angka-angka (matematika) agar melatih kemampuan berhitung anak. Kemudian, orang tua membelikan celengan untuk menjelaskan pentingnya menyimpan uang, yang harus ia sisakan dari uang jajan yang ia terima (hemat). Hingga, orang tua menyuruh anak menggunakan uang ke toko untuk membeli sesuatu, agar melatih anak berinteraksi dengan baik dan benar (bahasa) kepada penjual. Yang pada akhirnya dari praktik ini, anak secara tidak sadar telah mampu menanamkan nilai kejujuran, kesopanan, pengetahuan, sosial dan bahkan agama.

Efektifitas pendekatan menabung ini, tidak berarti diindikasikan dengan seberapa banyak uang yang terkumpul dalam suatu waktu, namun lebih kepada bagaimana anak secara afektif, sudah mampu menerapkan nilai-nilai (values), tentang nilai kemandirian, nilai istiqomah dan nilai ketidakborosan, yang meskipun secara kognitif, tidak semua tindakan, ia harus mengerti secara mendalam. Sehingga dari itu, orang tua dengan pola asuh autoritative parenting, cukup memberikan stimulus kepada anak supaya merespon, bertanya, berpendapat, dan memberikan konklusi, agar terjadi komunikasi yang bersifat edukatif dan dialogis.

Kekuatan orang tua di dalam menggunakan pola asuh dan metode ini, terletak pada kreatifitas orang tua dan lingkungan rumah. Misalnya, orang tua menggunakan metode Reward and punnismment. Orang tua membudayakan anak menyisakan uang setiap pulang sekolah untuk dimasukkan ke dalam celengan. Reward dari ini, misalnya semakin banyak uang sisa, semakin besar pula uang jajan yang akan ia peroleh di keesokan harinya. Orang tua telah mendorong anak untuk memiliki pengertian bahwa semakin banyak uang yang digunakan, semakin sedikit uang jajannya (miskin). Namun, semakin banyak uang yang ditabung, maka akan semakin bertambah uangnya (kaya).

Pola asuh autoritative parenting dan metode menabung ini, sebagai control dan apresiasi terhadap perkembangan anak. Upaya-upaya yang dilakukan oleh orang tua dengan bentuk metode pendidikan apapun diharapkan membentuk kepribadian anak, terutama pada masa-masa berikutnya. Sehingga, setiap metode harus memperhatikan nilai utama perkembangan karakter anak, yang tiada lain yaitu penerapan nilai (value).

Mohammad Faiq

(*) Penulis tergabung dalam komunitas Toilet, Ruang Inpirasi

 

Komentar

News Feed