Serapan Rendah, APBD Sumenep Dicurigai Dijadikan Deposito

  • Whatsapp
NGEBUT DI AKHIR: Realisasi kegiatan fisik yang banyak digenjot di akhir tahun, dicurigai karena anggarannya sengaja diendapkan lebih lama di bank, agar menghasilkan bunga deposito.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Memasuki akhir tahun anggaran 2019, serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumenep masih mentok di angka 25 persen dari Rp2,7 triliun. Capaian tersebut, masih jauh dari target realisasi.

Padahal, APBD Sumenep 2019 disahkan lebih awal, bahkan mendahului sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.

Minimnya serapan itu, menuai kecurigaan dari kalangan legislator. Sebagaimana dikatakan anggota DPRD Sumenep Hanafi, jika ditinjau dari persoalannya, realisasi APBD itu seperti sengaja dibiarkan mengendap di bank. Dengan tujuan, untuk mengejar bunga deposito. Padahal menurutnya, dana APBD memang tidak boleh disimpan di bank dalam bentuk deposito.

“Ada semacam anggapan dari teman-teman, bahwa target APBD dipatok itu, sengaja dibuat tidak sesuai dengan target. Kalau ditanyakan, kadang-kadang ditutupi,” tegasnya.

Bahkan, pihaknya juga mencurigai, bunga deposito itu tidak dimasukkan sebagai pendapatan daerah. Sebab, selalu terkesan ditutup-tutupi saat legislatif ingin mengkonfirmasinya.

“Mungkin karena mengejar bunga deposito. Padahal kalau dapat bunga deposito bank-bank itu, itu kan juga jadi milik pemerintah daerah berupa pendapatan,” imbuhnya.

Oleh karenanya, rancangan APBD 2019, memang sengaja ingin ditetapkan tepat waktu, agar realisasi dipercepat. Sebab, legislatif sudah mewanti-wanti sejak awal, atau saat pembahasan rancangan APBD 2019 di akhir tahun 2018 lalu, masalah lambannya realisasi belanja ABPD memang sering jadi persoalan.

Selain itu, agar pihak eksekutif lebih serius dan leluasa dalam menggarap APBD. Dengan begitu, setiap tahun selalu mencapai target, tetapi dengan catatan tidak membebani masyarakat

“Kalau masalah APBD itu sering kali sudah diutarakan oleh teman-teman, di banggar bahkan di komisi-komisi, tetapi selalu ada alasan-alasan klasik dari eksekutif, ada kendala inilah ada kendala itu lah,” katanya, Selasa (10/9).

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep Edy Rasyadi membatah jika APBD itu disengaja memgendap di bank, dengan tujuan didepositokan.

“Tidak seperti itu, APBD itu selalu diaudit oleh PPK, dua tahun PPK turun untuk mengawasi itu,” ujarnya, Rabu (16/9/2019).

Namun dia mengakui, realisasi APBD 2019 masih berkisar di angka Rp300 miliar. Tercatat, APBD Sumenep 2019 dianggarkan Rp1,26 triliun untuk belanja langsung dan Rp1,59 triliun untuk belanja tidak langsung.

“Saat ini untuk realisasi anggaran APBD sudah 25 persen, sekitar Rp300 miliar, tetapi semuanya sudah berjalan, sudah tender semua, tahun ini insya Allah selesai semua,” pungkas Edy. (ara/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *