oleh

Seseorang yang Mengetahui Kematiannya

Bandung, 2020

Radeya Q. Kalimi

—-

Pada suatu malam aku terbangun oleh suara denting jam yang berjalan tergopoh-gopoh seperti kelelahan mengejar sesuatu hal yang tidak ada ujungnya. Ku lihat keadaan disekelilingku, semuanya serba putih, dinding-dinding, gorden, dan bahkan selimut yang menutupi tubuhku juga berwarna putih.

“Dimana ini?”. Tanyaku dalam hati

Ada hal aneh setelah aku membuka mata tadi, dimana tubuhku serasa nyeri, anggota tubuhku tidak bisa digerakan, kecuali kelopak mata saja yang bisa aku kedip-kedipkan. Pada lengan dan hidungku kulihat kabel-kabel berwarna bening menancap mengalirkan cairan yang menetes secara perlahan.

Aku kembali mengingat-ingat kejadian yang telah menimpaku, tapi semakin aku menggali dan mengorek-orek berkas-berkas ingatan. Kepalaku semakin pening, tapi ada satu bayang ingatan yang mengelebat pada pelupuk mataku, bahwa terakhir kali aku sedang berkendara di sebuah jalan. Setelah itu aku langsung berada di tempat ini.

Suasana di ruangan yang tidak ku kenal ini sangat sepi dan sunyi, sampai-sampai suara detak jantungkupun terdengar begitu jelas. Ku arahkan sorot mataku ke sekeliling, tidak ada seorangpun selain aku di ruangan itu. Tapi beberapa saat aku mendengar derap langkah orang berjalan di luar ruangan. Walaupun suaranya terdengar tidak sesering suara alat yang berdenyit di samping kepalaku, yang berbunyi seiring jantungku berdetak.

Ingin rasanya aku membuka mulutku untuk memanggil siapa saja yang bisa aku panggil untuk ditanyai tentang apa yang terjadi kepada diriku. Tapi mulutku seakan-akan terkunci rapat, untuk sekedar mengucapkan sepatah katapun lidahku terasa kelu.

Semakin aku mencoba dengan mengeluarkan segenap tenagaku, semakin besar pula rasa sakit, nyeri, dan ngilu. Menjalar mengaliri seluruh tubuhku. Sampai-sampai pada malam itu aku kembali tak sadarkan diri, terbaring lemas tak bisa berbuat apa-apa.

Esok harinya aku tersadar karena kulitku terasa hangat terkena sinar matahari yang menlusup lewat jendela dan gorden. Rasa sakit seperti semalam masih saja ku rasakan pada sekujur tubuhku, bahkan sakit kali ini rasanya dua kali lipat lebih sakit daripada yang semalam. Aku mencoba membuka mataku, tapi berat sekali rasanya.

“Sial !”. umpatku dalam hati

Tapi pagi ini sepertinya ada banyak orang melakukan kegiatan di sekitar ruangan yang aku tempati. Aku menyangka itu karena mendengar derap langkah yang hilir mudik. Bahkan tidak jauh dari tempatku berbaring, mungkin dua meter jauhnya, aku mendengar dua orang yang sedang berbincang.

Aku mencoba sedikit fokus mendengarkan apa yang mereka bicarakan, dimana jika didengar dari suaranya. Dua orang itu merupakan satu orang pria dan satu orang perempuan.

“Lepaskan saja semua alat yang menempel pada pasien ini”. Ucap seorang yang bersuara pria.

“Tidak bisa, Dokter juga tau kan kalau dia masih hidup dan membutuhkan alat yang menempel pada tubuhnya untuk memulihkan kesehatannya”. Bantah seorang yang bersuara perempuan.

“Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Lebih tepatnya jiwanya sudah mati, yang kamu anggap masih hidup itu hanya raganya saja. Jika tanpa alat-alat kedokteran itu, sudah lama pasien ini meninggal, bahkan mungkin sudah dari satu bulan yang lalu sejak kecelakaan yang dialaminya”. Ucap seorang laki-laki dengan nada tenang, yang ternyata adalah seorang dokter.

“Tapi Dok, bagaimanapun merawat seseorang yang sakit bahkan sekarat adalah etika kedokteran dan seorang dokter”. Timpal perempuan itu.

Setelah mendengar beberapa percakapan yang mereka bicarakan, aku baru memahami bahwa tempat pembaringan ini adalah salah satu ruangan rumah sakit. Kedua orang yang berbincang di sampingku itu adalah seorang dokter dan seorang perawat. Aku juga baru menyadari bahwa alasan atas kesakitan tubuhku adalah hasil dari kecelakaan satu bulan lalu yang aku alami saat berkendara. Beberapa ingatan mulai aku temukan di dalam bayang-bayang pikiranku.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan pada sebuah kematian, secara alamiah manusia memang menginginkan kebahagiaan, sedangkan dunia ini adalah peperangan, dan peperangan adalah sumber dari segala penderitaan. Jadi artinya, puncak kebahagiaan tertinggi seorang manusia adalah ada pada kematiannya. Dengan begitu ia tidak akan menerima penderitaan-penderitaan dunia seperti yang setiap waktu kita alami ini. Lagipula, menahannya dalam kesakitan hidup dengan persentase kesembuhan yang tidak memungkinkan adalah sama saja dengan menyiksanya. Jadi kita percepat kematiannya atas dasar kemanusiaan”. Ucap dokter masih dengan suara yang sangat tenang.

Tidak ada jawaban dari seorang perawat yang menjadi lawan bicaranya, hanya saja aku menafsirkan ada kemungkinan perawat itu tidak lagi menjawab apa yang dikatakan dokter bersuara tenang itu, kemungkinan pertama ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh si dokter, kemungkinan kedua ia setuju dengan apa yang didengarnya.

Setelah beberapa saat, dokter bersuara dingin itu kembali berbicara “Kau tahu, seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa ‘nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua adalah mati muda, dan yang paling sial adalah mati tua’[1]. Pasien yang sekarang terbaring ini umurnya masih muda, jadi setidaknya dia ada pada kategori kedua dalam urutan orang yang memiliki nasib baik”.

“Lalu bagaimana kita mempercepat kematian si pasien ini?”. Tanya perawat yang beberapa waktu tadi terdiam.

“Kita berikan ia suntik mati, beberapa waktu lagi kita akan kembali kesini. Sekarang kita persiapkan segala hal yang perlu di persiapkan.”

Setelah perbincangan itu aku mendengar derap langkah mereka berjalan menjauh menuju pintu keluar.

Sekarang aku mengetahui, tentang nasib diriku kedepannya. Dimana aku akan menerima kematian dengan cara disuntik mati, dengan dalih mengurangi penderitaan yang aku alami. Dengan keadaan nyeri yang aku rasakan, beberapa perdebatan dan pertanyaan silih berganti terjadi di dalam pikiranku.

“Apakah kamu takut akan kematian?”. Tiba-tiba hati kecilku melontarkan pertanyaan itu kepada diriku sendiri.

Entah bagaimana aku harus menyikapinya, apakah aku harus sedih, takut, atau bahkan senang? Tapi yang jelas segala emosi saat ini bercampur aduk di dalam hati dan pikiranku.

Tentang mati, sebenarnya aku sudah lama merasakan kematian sebelum aku terbaring di tempat ini. Bagiku kehampaan hidup juga sudah termasuk sebuah kematian bagi seorang manusia, selama hidup aku mengalami berbagai kegagalan, penolakan, dan keterpurukan.

“Bukankah itu juga adalah sebuah kematian?”. Kembali aku bertanya pada diriku.

Kalaupun beberapa saat lagi aku akan mati karena jarum suntik, mungkin ini adalah kematian diriku untuk yang ke sekian kalinya, jadi apa yang harus ditakutkan dari sebuah kematian? Jawabannya tidak ada. Lagipula apa bedanya mati sekarang ataupun mati seribu tahun lagi?

Jika tidak takut, berarti aku hanya bersedih mendengar kematianku ini. Tapi sedih kenapa dan bersedih untuk apa?.

Dulu aku pernah mendengar seseorang yang tidak ingin mati karena ia tidak ingin meninggalkan orang-orang yang ia cintai, mungkin ini yang bisa menjadi alasan kesedihanku sekarang, aku bersedih karena akan meninggalkan mereka. Tapi siapa orang yang aku cintai itu? Jika orang tua, orang tuaku sedah lama pergi mendahului aku. Jika kekasih, ia juga sama telah pergi memilih yang lain, yang dianggapnya lebih sempurna daripada aku. Begitupun dengan orang-orang terdekatku, termasuk teman karibku.

Berarti itu tidak bisa menjadi alasanku bersedih, karena sejauh ini bukan aku yang meninggalkan, tapi akulah yang ditinggalkan.

Satu-satunya rasa yang tersisa adalah perasaan gembira, Ya, aku harus gembira!. Selama hidup ini aku sudah mengalami berbagai kegagalan, penolakan, dan keterpurukan. Aku juga banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang aku cintai, aku di tinggalkan oleh orang tuaku, kekasihku, dan bahkan temanku. Itu semua terasa sangat menyakitkan.

Ya, aku harus bergembira dan senang, karena dengan kematian aku akan terlepas dari beban kesakitan itu.

Setelah beberapa waktu aku merenung, suara derap langkah kembali terdengar masuk kedalam ruangan yang aku tempati.

“Apakah sudah siap?”.

“Siap Dok!”.

Tiba-tiba seseorang berbisik ketelingaku “Kau takut dengan kematian? Jika kamu mendengar ini, kami minta maaf, hidup ini adalah peperangan!”.

Setelah itu, ia mengolesi tanganku dengan cairan yang terasa dingin, dan beberapa saat kemudian aku merasakan besi kecil masuk kedalam pori-pori lenganku.

Biodata

Radeya Q. Kalimi lahir di Pandeglang 31 Mei 1998. Radeya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Dan tinggal di Pondok Pesantren Al-Musyahadah Manisi-Bandung. Radeya aktif di forum diskusi Rausyanfikr dan kepenulisan Studio Sastra Cibiru.

Kritik dan saran bisa disampaikan lewat akun facebook Radeya Q. Kalimi atau WA. 085794168791.

[1] Dikutip dari buku Catatan Seorang Demonstran-Soe Hok Gie

Komentar

News Feed