oleh

Setelah Ungkap Dua Kasus, Banyak Korban Pemerkosaan Mulai Berani Lapor Polisi

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Setelah terungkapnya kasus kekerasan seksual di Kecamatan Kokop dan Burneh Bangkalan, kini kembali muncul laporan baru mengenai kasus serupa. Kasus itu dilaporkan warga Kecamatan Modung, Senin (13/7/2020). Kejadian ini seperti membuka tabir bahwa di Kabupaten Bangkalan sedang darurat kekerasan seksual terhadap perempuan.

Peristiwa kekerasan terhadap perempuan di Modung, sejatinya sudah terjadi pada Mei 2020 atau tepatnya pada bulan Ramadan. Namun baru dilaporkan setelah Kepolisian Resor (Polres) Bangkalan rajin mengungkap kasus pemerkosaan dalam sebulan terakhir.

Pemerkosaan itu menimpa T (15), perempuan muda asal Desa Pangpajung, Modung, Bangkalan. T datang ke Polres Bangkalan kerabatnya berinisial S. Dia melaporkan bahwa ada 5 orang yang diduga memperkosa dirinya hingga hamil.

Disampaikan S, laporan itu baru disampaikan karena korban baru mengakui bahwa pernah diperkosa 5 lelaki.

Aksi bejat itu tidak dilakukan sekaligus. Kelima laki-laki itu menyetubuhi dirinya secara bertahap dan bergantian. Saat awal bulan Ramadan, T diperkosa oleh dua orang pelaku, lalu menyusul satu orang di hari yang lain dan setelahnya digilir oleh dua pelaku lainnya. Kejadian tersebut dilakukan terus menerus sampai T hamil.

“Pelaku hanya lari dari tanggung jawab jika korban hamil, makanya digilir sama 5 orang secara bergantian, agar tidak dituduh satu-satunya sebagai pelaku,” urai S.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bangkalan AKP Agus Subarnapraja menuturkan,  lapiran itu masih diselidiki dan belum menetapkan tersangka.

“Sampai saat ini kami masih dalam proses penyidikan sehingga belum menetapkan tersangka,” jelasnya, Selasa (14/7/2020).

Atas banyaknya kasus kekerasan seksual yang terungkap, Kepala Dinas  Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3KB) Bangkalan Amina Rachmawati menuturkan, masalah pergaulan bebas jadi penyebab terjadinya kekerasan seksual tersebut.

“Saya tidak tau penyebabnya apa, namun menurut laporan, setiap hubungan intim selalu di rumah korban,” jelasnya.

Dari keterangan tersebut, kata Amina, sekaligus mengingatkan masyarakat terutama keluarga agar memberikan pembinaan mental lebih baik kepada anak-anaknya. Namun, pengawasan dan menjaga pergaulan anaknya sangat penting, agar tidak terjerumus pada aktivitas pergaulan bebas.

“Dilihat secara psikologis, kami sangat prihatin, kenapa hal seperti itu bisa terjadi dan kejadiannya di rumah korban,” ujarnya.

Hasil penelusuran DP3KB Bangkalan, gadis yang masih tergolong usia anak tersebut,  saat ini mengandung bayi 3 bulan di dalam perutnya.

Sementara itu, praktisi pendidikan dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Ahmad Musawwir memandang, ada beberapa sebab terkait fenomena tersebut, salah satunya adalah kurang sadarnya penghargaan terhadap perempuan.

Selain itu, kontrol diri para remaja sekarang sudah mulai rapuh, sehingga mudah tergiur dengan kenikmatan yang sesaat. Pengaruh pornografi yang mudah diakses melalui internet, membuat hawa nafsunya mudah goyah.

Menurut salah seorang pengasuh pondok pesantren di Bangkalan, fenomena itu memiliki jalur penyelesaian yang sebenarnya sudah cukup lama ditekankan,  yakni mengedepankan pendidikan akhlak dan karakter anak.

Untuk mendapatkan itu, kata pria yang biasa disapa Ra Sawwir ini, tidak cukup menggantungkan dari lembaga pendidikan formal, justru lebih banyak dari informal, peran dan kontrol orang tua, juga kepedulian masyarakat.

“Kalau keluarga mengontrol, masyarakat juga mengontrol, bukan hanya pemahaman keagamaannya saja yang didapat, tapi dapat memfokuskan aktivits remaja pada hal-hal yang positif di lingkungan masing-masingnya,” kata dosen di Fakultas Keislaman UTM ini.

Sedangkan untuk berperang melawan hawa nafsu, imbu Ra Sawwir, diakui memang tidak mudah, tapi penekanan lebih dan mengutamakan pada pendidikan akhlak (karakter), diyakini jadi solusinya.

“Dari  beberapa kasus serupa ini, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran,” pungkasnya. (sae/waw)

Komentar

News Feed