oleh

Siasat Nakes di Madura Hindari Paparan Covid-19

Kabarmadura.id/SAMPANG-Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di Sampang terinfeksi Covid-19. Berdasar catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sampang sebagaimana disampaikan Ketua IDI Sampang, dr Indah Nursusanti, terdapat sebanyak 5 nakes yang terinfeksi Covid-19.

Para nakes tersebut, utamanya banyak tertular dari orang terinfeksi Covid-19 tanpa gejala (OTG).

Tidak semua nakes yang terdaftar sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia maupun Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) bertugas di rumah sakit milik pemerintah.  Meski sebagian tercatat sebagai dokter atau perawat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan milik pemerintah, sebagian ada yang membuka praktik mandiri.

Berdasar data Dinkes Sampang, Selain Rumah Sakit Umum (RSUD) Daerah Mohammad Zyn Sampang, dari 22 puskesmas dan 59 puskesmas pembantu (pustu), para nakes di Sampang juga bekerja di 12klinik, praktik mandiri dan 240 polindes.

IDI Sampang mencatat, terdapat 126 dokter yang memiliki surat tanda registrasi(STR), baik itu umum maupun spesialis. Dari seluruh dokter tersebut, terdapat 43 dokter yang membuka praktik mandiri.Selain dokter, juga terdapat 191 perawat 53 bidan yang membuka praktik mandiri.

Klaim Nakes Jalani Praktik Sesuai Protokol

Jumlah nakes di Sampang yang terinfeksi Covid-19 tercatat mencapai 12 orang dan 5 diantaranya adalah dokter.

Menelisik pada kenyataan tersebut, Ketua IDI Sampang dr Indah Nursusanti mengklaim,hampir semua fasilitas kesehatan (faskes) di wilayah Kota Bahari itu yang sudah menerapkan protokol kesehatan, meliputi menyiapkan tempat cuci tangan dan semacamnya.

Kata Indah, penerapan ptotokol kesehatan di setiap faskes juga termasuk pemakaian APD lengkap minimal level II dan III. Namun, Indah mengharapkan adanya peningkatan pengawasan dan pemantauan dari dinas terkait.

“Sepertinya rata-rata faskes khususnya yang mandiri ini sudah mulai menerapkan protokol kesehatan, juga sudah gunakan APD lengkap dan masyarakat yang datang untuk berobat di wajibkan menggunakan masker,” ulasIndah,Senin (29/06/2020).

Pemantauan yang dilakukan IDI, tegas Indah, hanya berdasar pada STR semua nakes. Bagi dokter yang tidak memiliki STR, mutlak tidak boleh melakukan tindakan profesi dokter. Mengingat STR harus didapatkan setelah melalui uji kompetensinya dan bisa mengurus surat izin praktik ke dinkes.

“Dari 126 orang di Sampang, mereka semua sudah memiliki STR dan aktif. Beberapa waktu lalu, ratusan dokter ini sudah diberi bantuan paket APD dari IDI,” urainya.

Nakes Kelompok Rentan Terpapar Covid-19

Nakes yang berpofesi sebagai dokter, perawat, maupun sangat rentan terpapar Covid-19. Utamanya, yang membuka praktik mandiri.

“Mereka orang pertama yang bertemu dengan pasien, sementara pasien terdapat beberapa macam, ada yang jujur dan ada yang sengaja menyembunyikan info jika dirinya pernah berkontak dengan orang lain yang terpapar Covid-19 itu,” urai Indah Susanti.

Kekhawatiran atas ketidakkejujuran pasien tersebut, diakui Indah semakin besar, mengingat penularan Covid-19 saat ini sudah masuk ranah transmisi lokal dengan kondisi orang-orang terpapar Covid-19 tanpa gejala yang cukup banyak.

“Sampai saat ini nakes yang terpapar Covid-19, khususnya dari profesi dokter, sudah ada 5 orang. Sedangkan yang lainnya belum diuji swab, tetapi terus kami pantau. Semoga tidak semakin banyak, karena kalau dokternya semua terpapar, nanti yang mengobatinya bisa repot,” urainya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan (IBI) Cabang Sampang Rosidah mengungkapkan, untukbidan di desa, perihal penggunaan APD dan pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 tergantung masing-masing puskesmas. Sejauh ini, ulas Rosidah, pihaknya belum mendapatkan keluhan dan laporan dari bidan.

“Dapat dibilang pelayanan tetap maksimal dan bidan mendapatkan haknya termasuk APD ini,” singkatnya. (sub/bri/waw)

 Jurus Hindari Paparan Covid-19, Wajibkan Nakes Jadi Edukator dan Teladan

(FOTO: KM/ ALI WAFA)
PAKAI APD: Tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Pamekasan menjalankan tugasnya dengan protokol kesehatan.

PAMEKASAN-Mengantisipasi paparan Covid-19 terhadap tenaga kesehatan, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pamekasan dr. Tri Susandhi mengatakan, telah mewajibkan dokter untuk mengenakan alat pelindung diri (APD) saat bertugas.

Tidak hanya mewajibkan, IDI Pamekasan juga menyalurkan bantuan APD kepada seluruh dokter, baik yang menjalankan praktik di rumah sakit, klinik maupun praktik pribadi. Sejauh ini, penyaluran bantuan itu sudah dilakukan sebanyak tiga kali.

“Tapi tentu jumlahnya tidak bisa memenuhi kebutuhan praktik setiap hari, tapi terus kami suplai seluruh kebutuhan, berapa yang kami punya ya didistribusikan,” ungkapnya.

Tri merinci, ada 180 dokter yang bertugas di Pamekasan. Dia memastikan, seluruh dokter yang tersebar di enam rumah sakit dan tujuh klinik di Pamekasan telah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang benar.

“Di organisasi kami, telah diedukasi tentang penggunaan APD dan ketersediaan APD di tempat kerja dan tempat praktik, itu ada survei mitigasi dari IDI wilayah dilanjutkan ke IDI cabang,” jelasnya.

Sementara Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan dr. Saifuddin menyebut, dari 180 dokter di Pamekasan 150 di antaranya membuka praktik mandiri. Namun pihaknya belum pernah menyalurkan bantuan APD untuk dokter yang membuka praktik mandiri tersebut.

Sejauh ini, pihaknya menyalurkan bantuan APD untuk bidan yang  yang menjalani praktik di setiap desa.Alasan penyaluran bantuan untuk bidan, lantaran mereka bertugas di bawah wewenang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, dalam hal ini Dinas Kesehatan. Namun bagi bidan yang membuka praktik pribadi,tidak diberi bantuan APD.

“Kalau bidan yang bekerja di bawah institusi sudah dapat bantuan APD lengkap, kami salurkan melalui puskesmas masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pamekasan Siti Maimunah menuturkan, di Kabupaten Pamekasan ada 1.000 bidan yang menjadi anggota IBI. Mereka bekerja di rumah sakit maupun seluruh desa di Pamekasan.

Pihaknya telah menyalurkan bantuan APD terhadap bidan yang memiliki praktik mandiri.Ada sekitar 300 bidan memiliki praktik mandiri, sementara lainnya merupakan binaan Dinkes Pamekasan danpenyediaan APD-nyamenjadi tanggung jawab Dinkes Pamekasan.

“Tidak hanya mendapat bantuan APD dari instansi, bidan justru sebaliknya, telah mendonasikan 10 ribu  masker kain untuk masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinkes Pamekasan Achmad Marsuki mengaku telah mengedukasi seluruh dokter di Pamekasan untuk selalu berhati-hati dalam bertugas dan menjalankan praktik.Mengingat, terdapat sejumlah dokter di Madura yang meninggal akibat terinfeksi Covid-19.

Namun dia memastikan, seluruhnakes di Pamekasan telah menjalankan protokol kesehatan Covid-19 yang benar, sebab mereka juga giat mengedukasi masyarakat agar mengikuti protokol kesehatan.

“Justru para dokter itu yang selalu berkomunikasi dengan petugas kesehatan di semua tingkatan faskes, memberikan informasi dan lain-lain,” ungkapnya.

“Kami selalu berkoordinasi secara intens, bahkan kami punya satgas bidang kesehatan, sejak dari FKTP, FKTL dan swasta,” tambahnya. (ali/waw)

Bantuan APD Puskesmas Tidak Merata

BANGKALAN-Tidak semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Bangkalan memperoleh alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan dalam pelayanan pasien. Sementara, ternaga kesehatan (nakes) diwajibkan mengenakan APD lengkap untuk menghindari penularan Covid-19.

Hingga 29 Juni 2020, tercatat 9 nakes terinfeksi Covid-19, baik dokter maupun perawat dan petugas fasilitas kesehatan (faskes) lainnya.

“Sebab mereka sering melakukan kontak langsung dengan masyarakat, biasanya poli gigi dan poli dalam,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bangkalan Sudiyo.

Soal bantuan APD lengkap dari Dinkes, Sudiyo mengatakan, sementara hanya 10 puskesmas yang dibantu. Padahal terdapat 22 puskesmas di Bangkalan.

Kendati begitu. ada 10 klinik swasta yang dibantu APD dari Dinkes Bangkalan, namun dengan catatan klinik tersebut harus mengajukan.

“Selama ini kami hanya membantu klinik swasta kurang lebih 10 klinik saja, itupun  bagi klinik yang mengajukan bantuan,” ujarnya

“Saya sudah mengimbau petugas klinik untuk menggunakan APD saat melakukan praktek, namun yang namanya manusia mungkin ada satu dua yang masih melanggar,” jelasnya .

Soal pembinaan dan pengawasan kepada nakes terkait protokol Covid-19, Dinkes tidak cukup waktu untuk terjun ke lapangan, lantaran kesibukan dalam penanganan Covid-19.

Namun, Sudiyo meyakini, organisasi yang menjadi payung profesi nakes masing-masing sudah berperan dalam pembinaanya. Mulai dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

“IDI, IBI atau PPNI pasti sudah bentuk tim terkait binaan tersebut, bukan hanya Covid-19 saja, melainkan reguler secara rutinit,” terangnya. (sae/waw)

 

Komentar

News Feed