Sidharta Gautama: Pembebasan dan Revolusi Kejiwaan Manusia

  • Whatsapp

Peresensi         : Oleh: Slamet Makhsun*

Kemunculan Sidharta Gautama—yang berlakab Buddha Agung—di tanah India, adalah suatu hal yang sangat revolusioner. India yang berlatar belakang menjadi tempat sekaligus pusat tumbuhnya agama Hindu, melahirkan budaya kasta yang mengakar. Sistem ini, pada hulunya membagi masyarakat dalam beberapa kelas sosial yang lalu berimbas terhadap kesenjangan ekonomi-politik yang meruncing.

Kasta tertinggi dipegang oleh Brahmana (pendeta). Yakni para cendekiawan yang menguasai kitab suci agama Hindu sehingga didapuk sebagai pemimpin agama. Meskipun berkasta paling tinggi, bagaimanapun juga, mereka tidak diperbolehkan memegang kekuasaan. Dalam pandangan agama Hindu, Brahmana adalah seseorang yang dianggap suci, sehingga termasuk aib bagi mereka, jika ikut campur dalam urusan duniawi (politik-ekonomi).

Kasta di bawah Brahmana, ditempati oleh Ksatria. Yakni orang-orang yang berperang dan memimpin di sebuah pemerintahan. Kasta ini, pada kelanjutannya berperan memainkan roda politik dan ekonomi di suatu masyarakat. Kasta ketiga adalah Vaisya atau rakyat jelata, yang termasuk pula para petani, produsen, atau pedagang. Dan kasta terakhir diduduki oleh Sudra atau hamba sahaya, adalah mereka yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan keuntungan dari agama yang sakral dan dipaksa menjadi pelayan bagi tiga kasta di atasnya.

Konsepsi di atas, secara linier menentukan hubungan yang teratur dan hierarkis antar kasta, masing-masing memiliki dakuan dan kewajiban tertentu atas yang lain, serta masing-masing menghormati kasta yang ada di atasnya. Hal itu jelas sekali menggambarkan para Ksatria dengan pendeta mereka, bebas memerintah dan memperbudak rakyat jelata serta kalangan yang lebih rendah.

Menyebut seseorang sebagai Ksatria, tidak hanya menunjuknya sebagai pembawa senjata dan penguasa saja, lebih dari itu, turut mengatakan bahwa ia kaya, berkuasa, murah hati, heroik, dan lahir ningrat. Seorang Brahman bukan hanya seorang pendeta karena fungsinya, tetapi juga secara inheren menunjuknya sebagai sosok yang diberkahi dengan kebijaksanaan, kebajikan, pembelajaran, kemurnian nasab dan jiwa. Dan menyebut seseorang sebagai Sudra tidak hanya mengacu kepada pekerjaannya, melainkan terstigma terhadap kemiskinan, kelemahan, kebodohan, keburukan, dan nasab yang rendah.

Sialnya lagi, penganugerahan kasta kepada seseorang bukan didapat karena usaha yang sungguh-sungguh, melainkan berlaku menurut garis keturunan. Semisal si A lahir dari orang tua Sudra, maka masa depannya hanya akan menjadi budak dan pelayan bagi kasta di atasnya. Sebaliknya, jika si B lahir dari orang tua Ksatria, masa depannya adalah menikmati limpahan kekayaan dan berhak diperlakukan istimewa oleh Sudra dan Vaisya.

Dasar-dasar seperti ini, sebenarnya adalah konstruk budaya yang melukai hak asasi manusia. Yang diuntungkan adalah Brahmana dan Ksatria. Lalu, bagaimana dengan Sudra dan Vaisya, hanya karena tidak memiliki keberuntungan nasab, apakah kehidupan mereka di dunia ini hanya akan memperoleh penderitaan? Apakah mereka tidak layak untuk mendapat penghormatan? Sungguh, ini adalah suatu ketidakadilan.

Berdasarkan apologi-apologi seperti itulah, Sidharta Gautama lari dari keramaian dunia, menyepi dan bermeditasi bertahun-tahun di tengah lebatnya hutan, guna mencari solusi agar manusia bisa terbebas dari penderitaan. Setelah dirasa cukup dengan pertapaannya, ia kembali ke masyarakat dan menyebarkan ajaran cinta kasihnya. Cinta kasih dalam persepsi Gautama, adalah keluhungan budi yang bersifat universal. Manusia dianggap semua setara. Yang membedakan derajat seseorang, hanyalah perilakunya semata. Tidak berdasarkan nasab, namun semua orang berhak untuk mencapai ketinggian derajat dan kedamaian sejati dengan usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal.

Sejatinya, kata Gautama, bahwa setiap manusia terikat untuk bertemu dengan berbagai masalah, rasa sakit, dan kekecewaan. Penderitaan yang dialami oleh manusia, timbul karena menolak mengakui kenyataan hidup dan berusaha untuk membuat kenyataan sesuai keinginannya. Salah satu gerakan mendasar yang dapat membebaskan dari penderitaan, adalah dengan mengekang hawa nafsu. Yakni dalam berjalannya kehidupan, selalu menghindari praktik-praktik yang amoral dan pola pikir yang jahat. Seperti perkataan Gautama:

“Bukankah ketika pikiran seseorang dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, membuatnya ingin membunuh, mencuri, berbohong, dan sebagainya? Dan dengan memiliki pikiran yang bersih dan kemurnian diri, seseorang dapat menghindari keburukan-keburukan itu semua.”

Wejangan Gautama ini, pada hilirnya mengajarkan bahwa semua manusia sama sederajat. Penderitaan yang dialami, dapat dibebaskan dengan kejernihan hati, pola pikir yang baik, serta welas asih terhadap sesama.

*) Mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga

Judul               : Buddha; Sebuah Pengantar Singkat

Penulis             : Michael Carrithers

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Pertama, Mei 2021

Tebal               : 155 Halaman

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *