oleh

Sidik, Jadikan Aktivis sebagai Sarana Pengabdian

Kabarmadura.id/Sampang-Menjadi aktivis bukan hanya saat kuliah, tapi juga saat sudah pulang ke masyarakat. Sebab, menjadi aktivis adalah sarana mengabdi kepada masyarakat dengan membantu mengatasi persoalan mereka.

JAMALUDDIN, SAMPANG

Hal itulah yang menjadi keyakinan bagi Sidik, warga Sampang asal Kecamatan Sokobanah.

Baginya, aktivis itu bukan profesi dan bukan pekerjaan, tetapi aktivis itu adalah semacam kegiatan dalam rangka pengabdian kepada negara dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia melanjutkan, perjalanannya menjadi aktivis sudah dimulainya sejak masih berada di sekolah. Pada tahun 2005, ia sudah aktif di Osis dan ikut organisasi ekstrakurikuler di pondok. Perjalanannya sebagai aktivis semakin matang saat ia kuliah di Universitas Madura tahun 2007. Di kampus inilah, ia mengenal dan aktif di organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan menjadi koordinator angkatan.

Berkat proses di organisasi ekstra maupun intra dan dukungan orang-orang yang ada di sekitarnya, ia dipilih menjadi ketua Senat BEM Fakultas Ekonomi pada tahun 2010. Sayangnya, saat mendaftarkan diri sebagai calon presiden mahasiswa pada tahun 2011, ia tidak terpilih. Tetapi meskipun ia tidak terpilih, ia tidak menyerah sehingga pada tahun 2013-2014 ia terpilih mejadi Ketua Cabang PMII Pamekasan.

“Saya aktif di organisasi itu dari sekolah, sehingga saat kuliah pada tahun 2007 ikut organisasi PMII dan jadi koordinator angkatan pada saat itu, dan perjalanan yang saya alami itu murni dari keberanian, sebab saya orang desa,” ungkapnya, Selasa (19/5/2020).

Adapun alasan tetap menjadi aktivis hingga saat ini disebabkan karena memang berniat untuk mengabdi dan murni berangkat dari hati. Ia ingin agar bisa terlibat dalam  memantau dan mengawasi jalannya pembangunan di sebuah daerah akan bagaimana keberpihakan negara terhadap masyarakat.

Bahkan, karena keteguhan dalam pendirian yang ia pegang, waktu menjadi ketua umum PC PMII pamekasan ia melakukan demonstrasi menolak kunjungan Presiden SBY pada tahun 2013 itu.

Sehingga pada saat itu ia dicari oleh pihak keamanan untuk diculik, karena ia dianggap motor pergerakan, sehingga ia berpindah-pindah tempat dari satunya ke satunya selama 5 hari.

Sebab pada saat itu pihaknya melakukan demonstrasi menolak kunjungan presiden itu di 3 kabupaten. Sehingga ia sempat disel di Polres Sampang. Bahkan ia diancam tidak akan dibebaskan kalau tetap melakukan demo di kabupaten lainnya.

“Waktu itu pernah ditawari sesuatu oleh petinggi partai untuk tidak demo, karena menolak akhirnya dicari oleh keamanan, sehingga saya menyembunyikan diri dengan pindah-pindah tempat. Sehingga saya sempat disel di Polres Sampang sebab pada saat itu demonstrasi itu dimulai dari Kabupaten Sampang,” imbuhnya.

Kendati demikian setelah keluar dari kampus pihaknya bergabung di Jaka Jatim dan dipilih jadi koordinator wilayah di Kabupaten Sampang. Dengan begitu, ia terus berproses melakukan pengontrolan dan aksi di pinggir jalan. Meski sudah tidak lagi jadi mahasiswa, namun jiwa berada di garis perjuangan itu tetap ada.

“Semenjak saya jadi koordinator Jaka Jatim memang banyak ancaman, termasuk nyawa, dan ada yang bertanya alamat rumah. Bahkan sempat diancam akan ditabrak dengan mobil,” tuturnya.

Namun, semua ancaman tersebut tidak menyurutkan keberaniannya untuk terus membela masyarakat. Karenanya ia membuka posko pengaduan BLT DD, terkait keluh kesah yang dialami oleh masyarakat bawah.

Dijelaskan, masyarakat sudah menganggap bahawa aktivis dianggap mampu, dan dianggap pemangku kebijakan, sehingga ketika ada pengaduan pihaknya tetap menerimanya.

“Dari data yang dajukan itu diajukan ke desanya untuk di cek dan dilakukan survei untuk jadi penerima BLT DD dan alhamdulillah sudah ada beberapa yang sudah menjadi penerima” pungkasnya. (pin)

Komentar

News Feed