SIKAP SANTRI TERHADAP WABAH COVID-19

  • Whatsapp

Pandemi virus corona atau covid-19 yang melanda dunia berdampak pada hampir seluruh sektor sosial. Di indonesia sendiri, dampak ini mengubah pola interaksi sosial masyarakat. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam tertua di indonesia juga tak luput dari dampak wabah ini, terutama metode dalam proses pembelajaran. Secara tradisi, ada dua metode pembelajaran yang dipakai di pesantren, yakni Sorogan dan Bandongan. Metode Sorogan adalah santri mendatangi kyai untuk kemudian menunggu giliran untuk mengulang pelajaran yang kemaren. Sementara dalam Bandongan kyai membaca, mengartikan dan terkadang mengomentar sedangkan santri hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan yang diberikan. Kini, kedua metode tersebut berubah dan terkendala seiring mewabahnya virus corona. Biasanya saat liburan Ramadhan tiba, para santri menyempatkan diri untuk ngaji kitab (Ngaji Posonan) pada kyai secara tatap muka, kini majlis yang biasanya memberikan ruang untuk berinteraksi langsung antara kyai dan santri tersebut menjadi hal yang sangat dirindukan. Sebab Ramadhan kali ini pola ataupun metode yang dipakai untuk ngaji kitab harus dilakukan secara online.

Selain tetap ngaji kitab di bulan yang penuh berkah ini, santri juga harus memiliki kesadaran akan tantangan yang sedan ada di hadapannya, disini santri dituntut untuk memberikan kontribusi dalam memerangi wabah Covid-19. Seebagai santri mellenial yang hidup di era percepatan informasi ini, santri harus bisa memberikan informasi-informasi yang edukatif terhadap masyarakat mengenai Covid-19 perspektif agama islam sesuai dengan keahlian para santri, misalnya mengenai hukum terkait Covid-19, cara menangani dan hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Hal ini merupakan refleksi santri terhadap apa yang telah ia geluti selama berada di pesantren, santri tidak boleh sok tau mengenai hal-hal yang masih tabu atau bahkan masih awam dari hal tersebut, seperti masalah kesehatan, masalah ekonomi, bahkan politik. Biarlah semua itu menjadi urusan oreang-orang yang sudah ahli di bidangnya, tugas kita hany mensupport, bersinergi serta bahu-membahu untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari dampak wabah Covid-19. Biarlah masalah kesehatan dibahas oleh ahli kese3hatan, masalah ekonomi dibahas oleh ekonom, masalah politik dibahas oleh para pengamat politik. Para santri tidak boleh latah mengomentari apalgi sok tau terhadap hal yang masih tabu bagi dirinya, kita nikmati saja penjelasan dan komentar dari mereka, baru ketika sudah berbicara masalah agama, maka santri harus tampil untuk memberikan pencerahan. Inilah sesungguhnya salah satu bentuk jihad kita sebagai seorang santri, yaitu mengabdi untuk masyarakat, bangsa dan negara karena hal itu merupakan perintah dari agama yang kita yakini.

 

Abd Syukkur

Mahasiswa IAIN MADURA

Prodi Pendidikan Bahasa Arab

Fakultas Tarbiyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *