Sisi Lain Balap Liar di Pamekasan, Sebagian Hanya Ikut-ikutan Teman

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ IST) KONTRAPRODUKTIF: Syamsudin berada di atas motornya saat menyaksikan balap liar bersama temannya.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Anak muda di Kabupaten Pamekasan masih perlu pembinaan lebih intens dari orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Pasalnya, Pamekasan masih kerap diwarnai dengan aksi motor ugal-ugalan.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bacaan Lainnya

Keteduhan Kabupaten Pamekasan kerap kali terganggu oleh kebisingan yang diperbuat oleh generasi mudanya sendiri. Tidak jarang, anak muda Pamekasan menjadi biang kebisingan di wajah kota dengan aksi balap liarnya..

Aksi kebut-kebutan itu dilakukan di jantung kota Pamekasan. Banyak pihak yang merasa terganggu dari ulah para pemuda tersebut. Semisal para pejabat yang kantornya berada di daerah kota. dan warga di sekitarnya.

Balap liar semacam itu menimbulkan ketidaknyamanan warga dan pengendara lainnya. Bahkan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama tim dari Kepolisian Resort (Polres) Pamekasan setiap malam berjaga-jaga di sekitar lokasi yang kerap dijadikan race balap liar.

Lokasi yang kerap dijadikan race balap liar yaitu di Jalan Kabupaten dan Jalan Diponegoro. Tidak jarang pula, mereka dibubarkan paksa oleh aparat keamanan. Bahkan motor yang diketahui tidak memenuhi standar, seperti tanpa surat-surat, dan knalpotnya yang bising disita oleh Polres Pamekasan.

Meski begitu, namanya anak muda, sanksi tetap tidak mampu menimbulkan efek jera. Mereka tetap kembali pada lokasi yang sama dan melakukan kebut-kebutan. Karena itu, aparat keamanan sering dibuat kesal oleh aksi mereka.

Kendati begitu, menurut pengakuan mantan pelaku balap liar di Jalan Kabupaten, Syamsudin, Dia melakukan aksi itu hanya Ikut-ikutan teman. Sebenarnya, dia juga merasa dan mengakui, bahwa tindakannya mengganggu orang lain dan membuat citra Pamekasan menjadi buruk.

“Dulu seru aja sih. Bareng teman-teman, nongkrong, balapan. Ya cuma ikut teman,” ungkapnya.

Llingkungan yang memaksanya berbuat begitu, maka dengan terpaksa, dia mengikuti temannya. Anak muda asal Kecamatan Palengaan itu mengaku sering lari terbirit-birit saat aparat keamanan beroperasi melakukan patroli, namun hal itu menurutnya menjadi kesenangan tersendiri.

Kini, semakin dewasa dirinya, semakin sadar, bahwa kegiatannya selama ini sama sekali tidak bermanfaat, adanya hanya mengganggu orang lain dan membuang-buang waktu istirahatnya. Kini dia berpikir untuk bisa lebih produktif dengan selalu berbuat positif.

“Kalo dipikir-pikir, saya dulu ngapain ya. Sama sekali tidak ada manfaatnya yang saya lakukan. Semakin dewasa saya semakin sadar,” pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *