oleh

Sisi Lain Driver Mobil Sigap, Rela Diputus Kekasih untuk Layani Warga

KABARMADURA.ID – Mengulas kehidupan sopir barangkali sudah biasa. Tapi ada pengalaman berbeda jika yang diulas dari para sopir mobil sehat Sigap. Seorang driver yang juga melayani warga menengah ke bawah di Pamekasan. Selain sebagai pekerjaan, ada unsur pengabdian yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan terhadap warganya, sangat dirasakan oleh seluruh elemen warga Pamekasan.Di bidang kesehatan, warga Pamekasan dibuat mudah dengan adanya bantuan mobil Sigap. Kendaraan ini menyediakan layanan antar jemput pasien dari rumah ke tempat fasilitas kesehatan (faskes).

Namun ada kisah menarik yang jarang diketahui oleh banyak orang. Bahwa di balik sigapnya mobil Sigap dalam memberikan layanan kesehatan, ada figur seorang driver yang berjuang mengorbankan banyak waktunya demi memberikan layanan yang memuaskan untuk warga.

Seperti yang dialami sopir mobil Sigap di Desa Larangan Luar, Ahmad Quraisyi. Sebagai penanggung jawab mobil sehat, kepentingan keluarga dan pribadinya dikesampingkan. Bahkan, pernah tidak tidur dalam dua hari satu malam karena padatnya jadwal mengantar warga yang sedang sakit.

Kendati begitu, lelahnya terbayar saat saat warga yang merasakan layanan mobil Sigap, yang notabene dari kalangan warga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Sebab, mereka bangga dan bersyukur dengan adanya layanan antar jemput mobil gratis itu.

Cerita berbeda datang dari Muhammad, sopir mobil sigap di Desa Gagah, Kecamatan Kadur. Demi menjalankan tugasnya, banyak waktu yang dia korbankan. Bahkan dalam sehari, dia mengantarkan empat warga yang sedang sakit. Baginya adalah sebuah pengabdian. Sehingga dia harus selalu siap siaga 24 jam,untuk bisa segera melayani panggilan genting.

Karena padatnya panggilan mengantar warga, bahkan terkadang dia lupa untuk mengisi bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Karenanya, tidak jarang dia mengisi bahan bakar mobil sigap dengan bensin eceran.

“Malah pernah diajak ke Sumenep tidak bawa dompet. Dari pukul dua siang hingga pukul sembilan malam kelaparan. Mau minta ke warga yang diantar tidak enak karena sudah jelas ada tulisan gratis,” ungkapnya.

Kisah unik lainnya datang dari sopir mobil Sigap di Desa Kertagena Tengah, Kadur, Samsul. Kadang kegiatan yang sudah dia rencanakan sebelumnya harus digagalkan karena ada panggilan mengantar warga. Bahkan, mengantar satu warga belum sampai tujuan, ponselnya kembali berdering karena ada warga lain yang membutuhkan jemputan.

Yang paling tragis dialami driver Mobil Sigap Desa Samiran, Proppo, Soheb. Yaitu ketika dia sudah berjanji untuk jalan dengan pacarnya, namun terpaksa harus digagalkan karena ada warga yang membutuhkan tenaganya untuk diantar ke rumah sakit. Dia bahkan rela diputus pacarnya karena tidak bisa menepati janji menemani pacarnya jalan-jalan.

“Saya pernah menginap di Surabaya dua hari. Yang paling nyessek, saya diputusin pacar karena saya tinggal demi kenyamanan masyarakat,” ungkapnya lirih.

Abdul Aziz sebagai sopir mobil sigap Desa Nyalabu Daya juga memiliki pengalaman yang tidak biasa, dia sendiri mengaku tidak berani menginap jika mengantar warga. Karena harus mengurus warga lain yang juga membutuhkan layanan. Dalam sehari, dia bisa beroperasi untuk tiga dan empat orang warga.

“Paling jauh yang saya antar itu ke Gresik. Ada warga dari kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan pengobatan di sana,” ungkapnya. (waw)

Komentar

News Feed