Sisi Lain Kesusastraan Indonesia

  • Whatsapp

Oleh: Eeng Nurhaeni*)

Saat ini, kita semua bisa dan berhak menggali kemampuan diri hingga menjadi ahli dan pakar di bidang yang digeluti. Semua perbendaharaan tentang kesusastraan, tinggal klik lalu ketik kata kuncinya di mesin pencari. Lewat perjalanan waktu, tentu kita akan mampu mengadakan sanering tentang karya-karya berkualitas, di samping karya-karya sampah yang berseliweran dan layak dikesampingkan. Kita tidak harus memburu semua sumber rujukan sastra melalui perpustakaan dan membuka literatur satu persatu dalam bentuk kertas. Usia manusia sangat terbatas untuk mengarungi semua perbendaharaan teks dan bahasa secara manual. Bahkan, perbandingan ilmu manusia, secerdas apapun, hanyalah setetes air di lautan samudera yang maha luas.

Karya-karya sastra yang tampil pada puluhan koran-koran dalam minggu ini – baik daerah maupun nasional – dapat diakses langsung melalui internet, termasuk wacana dan karya sastra bermutu dari penulis dan intelektual terkemuka di dunia. Puluhan resensi dan kritik-kritik sastra, misalnya tentang tanggapan dan perbincangan di seputar novel Pikiran Orang Indonesia dengan mudah dapat diakses melalui mesin pencari (search engine). Hanya tinggal mengetik judul novelnya saja, sudah bisa ditemukan puluhan opini dan resensi yang berkaitan dengan novel tersebut.

Selain itu, ada jurnal-jurnal ilmiah, e-book, data dan informasi bermutu dan berkualitas kelas wahid. Untuk dapat selektif, dan tidak tergoda pada konten-konten sampah, dibutuhkan kecerdasan dan kehati-hatian ekstra dalam memilih sumber yang valid dan akurat. Karena bagaimanapun, karakter teknologi memang diikhtiarkan penciptaannya untuk mempermudah aktivitas manusia, termasuk untuk kerja-kerja kaum sastrawan, akademisi, jurnalis, budayawan maupun intelektual.

Dengan memperoleh data dan informasi yang benar, manusia diharapkan bisa menciptakan karya-karya terbaru yang lebih baik. Kita tak perlu mendramatisir wacana yang berlebihan perihal buku Tom Nichols mengenai kematian para pakar (The Death of Expertise). Fenomena itu menjadi lumrah adanya, mengingat banyak pakar bertitel doktor dan profesor, kemudian tak tahan godaan oleh terjangan tsunami informasi, lalu terburu nafsu menyampaikan sesuatu yang tak lekang dimakan waktu

Profesor dan akademisi seperti itulah yang – saya bilang tadi – miskin nalar dan imajinasi, kurang up to date, hingga tak mampu membedakan mana informasi sampah dan mana yang layak diprioritaskan demi kemaslahatan dan kemajuan peradaban bangsa. Silakan saja ia menyebut dirinya pakar dan cendikiawan, yang pernah mendapat penghargaan tertentu dari Presiden Orde Baru, tetapi saat ini zaman sudah lain. Proses yang harus ditempuh untuk pencapaian gelar akademik juga sudah berbeda. Boleh saja ia bermimpi tentang kesuksesan dan kejayaan masa lalu. Tetapi, bukankah fanatisme pada kejayaan masa lalu dengan mengembangbiakkan sikap resisten terhadap era milenial, dapat dikategorikan orang yang mengidap post power syndrome.

Akhir-akhir ini, sering kita temukan orang Indonesia yang terserang delusi kejiwaan ini, justru pada mereka yang tergolong akademisi yang terlampau bergantung pada kepakarannya. Seumumnya, pelarian mereka justru pada fantasi-fantasi tentang dunia politik dan kekuasaan.

Kualitas kepakaran orang-orang yang terlampau menggantungkan diri pada political wills kekuasaan, memang sangat rentan menghadapi arus perubahan yang kian cepat menginovasi diri. Penemuan-penemuan keilmuan di masa kekuasaan rezim Orde Baru – terlebih pada ilmu sejarah dan sastra – memang layak gugat dan perlu direhabilitasi dengan sebaik mungkin. Fenomena matinya kepakaran tak lepas dari banyaknya penemuan angkatan muda yang mudah beradaptasi dengan kemajuan, lalu muncul keraguan dan gugatan pada keabsahan kualitas ilmu yang semula dianggap mapan di masa Orde Baru.

Para penderita post power syndrome yang sangat resisten itu, sebenarnya tidak mau mengerti pada kreativitas anak-anak muda yang punya peluang emas untuk mengembangkan bakat dan potensinya di bidang kesusastraan. Mereka punya banyak waktu dan kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri. Di tangan para generasi mudalah kita bisa berharap munculnya karya dan kreasi dari pikiran dan tangan-tangan terampil mereka. Saat ini, sedang menyongsong para ahli dan pakar-pakar baru yang akan menghidupkan nalar publik. Mereka akan membangkitkan kredo berpikir analitis, ilmiah dan terbuka. Kematian para pakar yang dihasilkan dari tempurung anak-anak emas Orde Baru, boleh jadi akan mengalami kematian yang abadi bersama para induk semangnya. Namun demikian, anak-anak masa depan harus senantiasa optimistis, dan jangan terjebak kepada sikap-sikap skeptis yang tidak produktif.

Terkait dengan ini, dalam suatu acara pertemuan sastra di Yogyakarta (1997), YB Mangunwijaya pernah didesak oleh seorang penulis muda agar menjelaskan proses kreatifnya dalam menulis esai dan kritik sastra. Seumumnya para penulis, Romo Mangun (panggilan akrab YB Mangunwijaya) mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang taktis dan cepat berpikir. Juga bukan orang yang fasih bicara menyampaikan apa-apa yang tersirat dalam pikirannya. “Saya bukanlah orang yang punya banyak konsep di pikiran tentang teori menulis sastra maupun esai. Saya hanya mencoba untuk menulis yang baik, semampu saya,” paparnya.

Bagi seorang penulis yang baik, kita semua perlu tahu, urusannya bukanlah bagaimana suatu karya itu dimuat atau tidak. Apabila dalam salah satu media tulisan itu belum termuat, sangat mudah baginya untuk mengirimkan ke media lain yang siap memuatnya, baik di media massa maupun media daring. Tetapi yang menjadi problem, bagaimana sang penulis mampu melahirkan kembali tulisan-tulisan yang bagus. Lebih jauh lagi, bagaimana dia mengatur dan mengelola waktu untuk mencari momentum yang pas guna menghasilkan karya-karyanya yang terbaik.

Perjalanan ini seperti mendaki puncak gunung yang melelahkan, tetapi kita bersikeras untuk sampai ke atasnya. Seperti panggilan hidup di mana kita menolak untuk berhenti, bahkan pantang untuk menoleh ke bawah. Kemudian, ketika sampai di puncak gunung pun, senantiasa kita mendaki gunung-gunung lain dengan puncaknya yang lebih tinggi lagi.

Seringkali para penulis muda mendesak kita dalam forum training literasi, agar kiranya mengungkap secara lugas proses kreatif seorang penulis, hingga mampu melahirkan karya-karya terbaiknya. Jawabannya memang tidaklah mudah, karena kita semua tahu, menciptakan kebiasaan baru bukanlah perkara ringan dan sebentar. Begitupun dalam mengubah kebiasaan lama, bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, bukan pula seperti ulat yang berkembang menjadi kepompong, kemudian terus bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.

Karena itu, mereka yang terbiasa menulis buruk, emosional dan penuh dendam, akan sulit jika diminta untuk menulis yang bagus, logis dan rasional. Seperti ada rumus-rumus yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Dan rumus itu hanya mungkin bersatu dengan pribadi-pribadi yang merdeka, berjiwa independen, bagaikan risalah kenabian yang hanya diberikan kepada orang yang layak menerima panggilan (nubuwat). Jadi, dasarnya bukan untuk mencari kemenangan (dengki) tetapi mencari keadilan (cinta dan keseimbangan).

Karenanya, menjadi satu dan sehaluan. Jika Anda terbiasa membaca esai maupun sastra yang bagus, maka selera, cita rasa keilmuwan Anda hanya akan senyawa dengan kualitas tulisan yang bagus. Jika kualitas keilmuwan sudah meningkat, maka Anda akan tidak betah membaca tulisan atau melihat film dengan selera rendah dan pasaran belaka. Penonton film yang membiasakan diri dengan tontonan buruk akan sulit mencerna film-film yang berkualitas bagus. Anda tidak memperoleh hasil apapun, karena Anda terbiasa berkecimpung dalam level yang remeh-temeh dan biasa-biasa saja. Karena itu, akhir-akhir ini saya bisa memahami ketika banyak sastrawan dan seniman uring-uringan setelah penganugerahan academy awards untuk film Asia pertama “Parasite”. Konon, ketika digelar nonton bareng di suatu lembaga kebudayaan di Jakarta, setelah mencapai titik ending, ada beberapa seniman berteriak: “Sontoloyo doang! Bagusnya di mana film Korea itu?”

Itulah yang seringkali penulis muda menyindir soal “gagal paham”. Jika mindset mereka tetap, jika paradigma mereka jalan di tempat, jika otak dan pikiran mereka tak memiliki software tentang perkembangan sastra dan film dalam skala global, lalu bagaimana mereka akan konek dengan kualitas karya sastra maupun film yang berkualitas kelas dunia? Seniman atau sastrawan sekelas itu, ibaratnya serupa anak kecil yang baru terbiasa melafalkan ayat-ayat Alquran (mengaji). Jadi, belum mencapai fase “mengkaji” atau mentadabburi Alquran. Karena, pada fase ini sudah mencapai kegairahan untuk menimba ilmu, menganalisis, hingga mendalami hal-hal yang bersifat filosofis dalam kaitannya dengan amal kehidupan manusia dan alam semesta.

Tetapi sebaliknya, tentu ada saja sastrawan kita yang telah sampai pada maqam zuhud. Yang dibutuhkan bukan lagi kesuksesan dan popularitas melainkan kenikmatan dan kebahagiaan. Tanpa kedudukan, harta dan tahta yang tinggi, ia sudah mencapai apa yang disasar dan dituju oleh para pengusaha maupun penguasa duniawi. Ia sudah mampu membedakan antara keberkahan dengan fatamorgana (istidraj), sehingga kata-kata yang diucapkannya sangat merasuk ke dalam relung kalbu: “Sangat mungkin kebahagiaan itu justru dicapai oleh seorang petani yang membawa karung goni dengan sepedanya yang butut, ketimbang pejabat tinggi yang bersedan mewah, jika mendapatkannya secara tidak halal,” demikian penegasan K.H. Rifa’i Arief, seorang pendidik, pengasuh pesantren dan pengagum sastra sekaligus.

Karya sastra yang berkualitas – sebagaimana ajaran agama yang baik – selalu melarang kita untuk terpukau dan terpesona pada yang sifatnya kasatmata belaka. Tokoh-tokoh dalam karya sastra berkualitas, seringkali melukiskan orang-orang yang justru merasa kecewa dan tertekan, karena impian yang didambakannya tak sesuai dengan harapannya semula. Mereka ingin bangkit dan tak mau terkungkung oleh cara berpikir lama.

Mereka memandang perubahan Indonesia sebagai proses yang terus bergerak, lalu merasa terpanggil untuk turut-serta menggerakkannya. Mereka akan tampil selaku subyek (penulis) yang aktif dan inovatif, di samping keterpesonaannya sebagai penikmat sastra berkualitas. *

*)Penikmat karya sastra Indonesia, pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *