oleh

Siti Khodijah Tuntut Keadilan atas Kematian Anak Ketiganya

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Anak adalah titipan dari Tuhan. Rasa sedih, sesal, dan bingung masih ada di benak Siti Khodijah. Perempuan paruh baya asal Desa Perreng, Kecamatan Burneh ini terus meratapi kepergian anak ketiganya. Namun, diduga karena human error, dia harus kehilangan bayinya bulan lalu.

Tepatnya, dua hari setelah operasi caesar, tepatnya tanggal 26 Desember 2020. Raut muka sedih dengan linangan air mata ditunjukkan Khodijah (sapaan akrabnya). Sambil menahan kesedihannya, dia menceritakan kronologi meninggalnya sang buah hati.

Bahkan, suaminya yang bekerja sebagai pelayar tak sempat menengok anak ketiganya itu. Kini, dia terus mencari keadilan atas kematian putranya. Dia mengatakan, semula dokter kandungan yang menangani kehamilannya itu memprediksi akan lahir bulan Februari nanti.

“Hari sabtu saya dioperasi, ini anak ketiga,” katanya sambil mengenang.

Khodijah mengaku anaknya berjenis kelamin laki-laki. Kata dia, tidak ada masalah dengan kehamilannya selama ini. Saat dia memeriksakan ke rumah sakit,  kandungannya sudah saatnya melahirkan.

Berawal pada 17 Desember 20 lalu, dirinya memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Syafi’i, dan ditangani oleh dr. Taufik Syafi’i. Saat itu Khotidjah mengaku di-USG. Hasilnya dibacakan oleh dr. Taufik, bahwa kandungan sudah memasuki minggu ke 38-39 dan berat bayi diperkirakan 2,8 kilogram.

“Kalau umur 40 minggu anaknya nggak diangkat, kurang sehat. Itu kata dr. Taufik dan bidan yang mengantar,” jelasnya.

Saat pihak dokter mengatakan itu, Khodijah sempat ragu. Karena merasa bahwa dokter yang paling pintar dan tahu soal kandungan, saat disarankan untuk operasi caesar, dia mengiyakan. Namun, menurut perhitungan Khotidjah sendiri, kandungannya baru memasuki bulan kedelapan.

“Ya saya percaya saja apa kata mereka, karena mereka lebih tau, meski sempat ragu dan meminta pendapat keluarga,” tuturnya.

Selama Kehamilan, Khotidjah baik-baik saja dan tidak mengalami kontraksi layaknya  orang mau melahirkan. Kemudian pada 26 Desember 2020, dia meminta bidan Desa Perreng  mengantarnya ke dr. Taufik untuk dilakukan tindakan operasi caesar terhadap kandungannya, sesuai anjuran hasil pemeriksaan sebelumnya.

“Karena selama hamil dan mau operasi tidak ada masalah dan tidak merasakan apa pun, saya berangkat ke RSIA Syafi’i naik sepeda motor sendiri dari rumah,” paparnya.

Usai lahir, anaknya malah dinyatakan prematur. Pihak rumah sakit meminta banyak berdoa agar anaknya diberikan kesehatan, karena anak tersebut kurang umur. Bahkan, anak tersebut tidak bisa menyusu, napasnya masih melalui mulut, bahkan puting susu saja belum timbul walaupun badannya berisi.

Agar tidak ada kejadian serupa, dia dan keluarga menuntut pihak rumah sakit untuk bertanggung jawab atas kejadian itu. Hingga saat ini, dia tengah menunggu hasil analisis dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Bahkan, dia ingin membawa kasus itu ke Dewan Etik Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

“Saya dan keluarga akan terus berkomitmen menuntaskan kasus ini demi anak saya,” pungkasnya. (ina/km58)

Komentar

News Feed