oleh

Slematan Dalam Kacamata Orang Madura

Dua hari itu, tepatnya di rumah teman saya yang kebetulan masih tetanggaku tampak  terlihat banyak orang yang menyibukkan diri dengan pekerjaannya masing – masing. Mulai dari  anak –anak, para remaja putri, dan para ibu – ibu rumah tangga memang kebanyakan yang ada di sana adalah dari kaum perempuan. Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas dan keahliannya masing – masing. Ada yang membuat aneka macam kue, bumbu – bumbu,  dan segala macam makanan yang lain.

Berdasarkan informasi yang beredar dari mulut kemulut warga sekitar. Tetangga sekaligus teman saya itu mau mengadakan acara salematan tujuh hari kelahiran anak pertamanya. Dari informasi itu, barulah saya berbegas untuk datang ke sana. Eits, anda jangan berpikir bahwa aku datang ke sana mau membantu untuk membuat aneka macam kue dan sejenisnya, itu hak paten ditangani kaum perempuan lho.

Para kaum laki – laki yang datang biasanya hanya membantu bangun tenda (terop dalam bahasa Maduranya). Mengerjakan apa yang menjadi tugas seorang laki – laki ketika ada acara – acara seperti itu. Ya, bisa juga disebut relawanlah tatepi bukan relawan caleg, capres, cagub, dan cabup lho apalagi relawan hatimu.

Kembali lagi tenda, tenda tersebut biasanya digunakan untuk para undangan nanti. Selesai dengan tugas itu, inilah yang penting dan yang paling aku tunggu. Apa itu? Tuan rumah menyugukan kopi, beberapa rokok, dan aneka macam kue kepada para laki – laki  yang kebetulan menjadi relawan membantu termasuk juga aku. Menyeruput kopi dan menghisap rokok secara gratis dengan ditemani pembicaraan yang ringan menambah kehangatan tersendirinya.

Sebenarnya, di Madura lebih khususnya di daerah saya saling membantu satu sama lain dalam kesibukan apapun tetap dipertahankan. Walaupun warga masyarakat mempunyai banyak tantangan untuk mempertahankannya ditengah kehidupan yang udah dicemari modernisasi  dan  banyaknya teori – teori yang mengajak untuk memecah belah kerukunan warga masyarakat.

Selamatan tujuh hari atas kelahiran anak yang biasanya  juga disebut dengan acara selamatan aqiqah anak. Poin saya, dari beberapa gambaran penjelasan di atas menunjukkan bahwa adanya sebuah acara selamatan yang diadakan oleh masyarkat di Madura khususnya di deaerah saya ini. Yang jelas, masalah itu menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Terus terang saja dalam hal – hal demikian,  akan  timbul sebuah pertanyaan yang besar. Mengapa harus mengadakan selamatan? Apa manfaat dan tujuannya masyarkat Madura mengadakan selamatan?

Oleh karena itu, berdasarkan beberapa gambaran – gambaran tentang selamatan di atas. Saya coba beri definisi dulu tentang selamatan biar tidak sedikit penasaran. Berdasarkan pengamatan saya dan kebiasaan masyarakat yang mengadakan acara selamatan.

Selametan adalah salah satu ritual kegiatan keagamaan yang diadakan oleh masyarakat. Masyarakat bisa melakukan selametan ketika mereka mempunyai sebuah hajatan atau upacara yang penting lainnya. Misalnya, upacara keberangkatan naik haji, upacara pesta pernikahan, upacara aqiqah kelahiran seorang anak, dan tidak ketinggalan bila lagi ingin membangun rumah.

Slamaten biasanya diisi dengan membaca surah yasin, tahlil, shalawatan, dan berdoa bersama dan setelah itu  tuan rumah memberikan atau menyugukan beberapa makanan kepada para tamu undangan. Biasanya, orang yang mempunyai upacara tersebut mereka akan  mengundang kerabat, tetangga, para kiai, dan masyarakat sekitar yang lain.

Berdasarkan penjelasan yang lain, slamaten bisa juga dikatakan sama seperti sedekah.  Orang yang mengadakan acara slametan, mereka juga tidak lupa akan memberi makanan kepada orang yang hidupnya tidak berkecukupan.

Upacara slametan adalah termasuk kegiatan batiniah yang mempunyai sebuah tujuan dan maksud yang penting.  Pertama, Mereka ingin mendapatkan rahmat  dari Tuhan di kehidupan mereka baik di dunia maupun di akhirat nanti. Kedua, cara mereka untuk mensyukuri atas nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada mereka.

Keberkahan adalah sesuatu yang penting dibeberapa sektor bagi masyarkat Madura. Masyarakat percaya tentang manfaat dan pentingnya mengadakan slametan. Mereka mempunyai salah satu pernyataan yang menjelaskan tentang kehidupan mereka. Hidup ini akan tidak berarti apapun dan tidak ada isinya tanpa keberkahan.

Oleh karena itu, mereka menggunakan kesempatan walau sesempit apapun untuk mendapatkan barokah dan keberkahan itu. Tidak hanya mengadakan slametan dengan cara  menggundang para tetangga dan kerabat tetapi bukan kerabat  kotak lho. Mereka juga mempunyai banyak acara untuk mendakatkan keberkahan itu. Misalnya,  adanya acara kompolan tahlil dan yasinan atau shalawatan bersama dimasyarakat itu sendiri.

Mereka biasanya mempunyai acara tahlilan, yasinan ataupun cuman yasinan saja. Acara tersebut adalah salah satu program rutin yang biasanya diadakan setipa seminggu sekali. Tidak ada lain, mereka mengadakannya acara rutinan seperti ini hanya untuk mendapatkan keberkahan itu. Program ini adalah salah satu cara alternatif lain untuk mendapatkan keberkahan. Walaupun, mereka tidak dapat mengadakan slametan dengan cara mengundang orang lain.

Ditengah arus modernisasi yang maha dahsyat ini, mereka tetap mengadakan acara – acara selamatan baik ngundang secara langsung kepada kerabat, tetangga, dan lainnya. Walaupun, ada  yang hanya memanfaatkan acara rutin masyarakat seperti acara yasinan, tahlil, shalawatan, dan doa bersama.

Sebagai salah satu kegiatan yang dikatagorikan acara keagamaan yang rutin dilaksanakan. Oleh karena itu, mau sesukses apapun orang Madura yang ada diperantauan bila ada kegiatan keagamaan dan acara selamatan keluarga. Mereka pasti menyempatkan diri untuk pulang mengadakan acara slematan. Misalnya, acara maulidan, haul para keluarga yang sudah meninggal dunia, dan acara selamatan yang lainnya.

Walau bagaimanapun sebagai orang Madura yang tinggal di dusun, kemajuan zaman ini tetap kami syukuri. Sebab, mulai banyak para orang yang sudah berpikiran lebih luas dan bahkan telah banyak yang meninggalkan tradisinya sendiri. Mereka mungkin telah menguasai kepintaran modern, atau mulai menemukan jurus – jurus baru untuk meneladani peperangan zaman ini.

Hal inilah yang tidak diinginkan, masyarakat dituntut bisa dan bahkan wajib untuk mengikuti arus perkembangan modernisasi ini tetapi tidak lantas meninggalkan identitas tradisi dan budaya asli daerahnya. Memang keterlaluan kalau masyarakat sampai meninggalakan tradisinya sendiri.

Mereka diharapkan tidak gugup dan tidak terbata – bata dalam melaksanakan tugas transformasi diri. Jangan sampai mereka dihinggapi inferioritas, rasa kurang percaya diri di hadapan dunia modern yang sesungguhnya hanya bergelimang mitos – mitos saja.

Tuntutan semacam ini masih tetap kenceng diteriakkan meski harus berperang ditengah kerasnya arus gelombang globalisasi yang maha dahsyat. Sebab, acara seperti ini sangat bagus baik secara keagamaan maupun sosial bermasyarakat. Sangat disayangkan kalau masyarakat harus kehilangan identitas dan kepercayaan diri. Arahnya sudah benar, malah banyak yang belok mengikuti orang lain. Itu namanya kehilangan kepribadian.

Hal tesebut menunjukan bahwa betapa pentingnya bagi mereka untuk mengadakan acara – acara selamatan keagamaan. Dengan maksud, meraka mengadakan acara tersebut tidak lain  hanya untuk meraup barokah dan keberkahan dalam hidupnya. Disisi lain, dengan mengadakan acara selamatan yang mengundang kerabat, tetangga, dan lainnya adalah cara mereka untuk mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka.

Satu lagi yang dapat diambil faedahnya adalah mereka diharapkan tetap dan bisa mempertahankan acara – acara keagamaan  berupa selamatan yang diadakan sebagai salah satu identitasnya bagi meraka. Tidak lantas membumbuhi dengan acara pesta meriah kekinian yang dapat menghilangkan nilai – nilai spiritual dan juga hilangnya identitas mereka  sendiri sebagai masayarakat Madura yang kaya akan tradisi dan budaya (kearifan lokalnya) sendiri.

Nama: Faizi Umar. Guru Bahasa Inggris di Mts Tarbiyatul Islamiyah dan Suka dalam menulis opini, esai, dan artikel.

 

 

Komentar

News Feed